SUNGAI Brantas mengalir tenang malam itu.
Airnya gelap memantulkan cahaya kota dan lampion merah dari pecinan yang bergoyang pelan tertiup angin. Dari kejauhan terdengar suara motor melintas dan musik dangdut samar dari warung kopi pinggir jalan.
Kediri terus bergerak.
Tetapi di dalam rumah keluarga Tan, sesuatu mulai berubah perlahan.
Rahasia masa lalu itu seperti batu besar yang akhirnya dilempar ke tengah air tenang.
Dan sekarang semua orang harus menghadapi riaknya.
Sejak percakapannya dengan Livia malam itu, Tan Hok Liang menjadi jauh lebih diam.
Ia masih membuka toko seperti biasa.
Masih memeriksa laporan keuangan.
Masih terlihat keras di depan pegawai.
Namun Mei Lin tahu suaminya berubah.
Lelaki itu mulai sering termenung.
Sering duduk lama di ruang belakang sambil memandangi foto-foto lama.
Dan beberapa kali Mei Lin memergoki suaminya menyebut nama Pak Sastro perlahan.
Rasa bersalah mulai datang.
Dan itu jauh lebih menyiksa daripada kemarahan.
Suatu sore Tan Hok Liang berdiri di depan toko sambil merokok diam-diam.
Sebelumnya, sudah bertahun-tahun ia berhenti merokok.
Namun akhir-akhir ini tangannya kembali sering gemetar.
Dari seberang jalan, ia melihat Arga berjalan membawa tas berisi buku-buku.
Beberapa anak muda menghampiri meminta foto.
Arga melayani sambil tertawa kecil.
Tan Hok Liang memperhatikan lama.
Anak itu tidak seperti bayangannya selama ini.
Tidak kasar.
Tidak liar.
Tidak mencoba mengambil apa pun dari keluarganya.
Justru terlihat sederhana.
Dan semakin ia melihat Arga, semakin besar rasa tidak nyaman di dadanya.
Karena kebencian yang selama ini ia pelihara perlahan mulai kehilangan alasan.
Namun tidak semua orang dalam keluarga Tan ikut melunak.
Kevin justru semakin keras.
Malam itu suara pertengkaran terdengar dari ruang makan.
“Papa mulai percaya sama dia sekarang?!”
Kevin berdiri dengan wajah tegang.
Tan Hok Liang duduk diam sambil memijat pelipis.
“Enggak ada yang bilang begitu.”
“Tapi Papa mulai berubah.”
“Apa salahnya?”
Kevin tertawa pendek penuh emosi.
“Apa salahnya? Setelah semua yang keluarga kita lewati?”
“Jangan bicara seolah cuma kamu yang punya luka.”
“Dan jangan lupa siapa yang bakal hancur kalau Livia nikah sama dia.”
Ruangan mendadak hening.
Livia yang baru turun tangga langsung berhenti mendengar kalimat itu.
Tan Hok Liang mengangkat wajah perlahan.
“Maksud kamu?”
Kevin menghela napas kasar.
“Aset keluarga.”
Livia langsung mengernyit.
Kevin berjalan mondar-mandir seperti orang yang sudah terlalu lama menahan sesuatu.
“Papa pikir keluarga besar bakal diam aja kalau Livia nikah sama orang luar?”
“Dia bukan orang luar,” potong Livia.
“Buat komunitas kita, iya.”
Kevin menatap adiknya tajam.
“Kamu pikir mereka bakal tetap percaya bisnis keluarga kalau pewaris keluarga Tan nikah sama anak tukang sablon?”
Kalimat itu terasa seperti tamparan.
Livia langsung pucat.
Sementara Tan Hok Liang perlahan mulai mengerti sesuatu.
Ini bukan lagi cuma soal trauma.
Kevin takut kehilangan kekuasaan.
Sejak kecil Kevin memang dipersiapkan menjadi penerus keluarga.
Ia yang belajar bisnis.
Ia yang menjaga relasi dagang.
Ia yang menemani ayahnya bertemu para pengusaha besar Surabaya dan Jakarta.
Dan selama bertahun-tahun, Kevin hidup dengan satu keyakinan,
keluarga Tan adalah tanggung jawabnya.
Namun kepulangan Livia mengubah semuanya.
Terutama setelah Tan Hok Liang mulai melunak.
Karena diam-diam Kevin takut, jika Livia menikah dengan Arga, semua keseimbangan keluarga akan runtuh.
Warisan.
Nama besar.
Relasi bisnis.
Semua yang selama ini ia bangun bisa berubah.
Dan ketakutan itu perlahan mengubah Kevin menjadi seseorang yang bahkan tidak mengenali dirinya sendiri.
Sementara itu, hubungan Arga dan Livia perlahan kembali hidup.
Mereka mulai sering bertemu diam-diam.
Kadang di warung kopi dekat sungai.
Kadang di klenteng lama.
Kadang hanya berjalan menyusuri pecinan saat malam.
Tidak ada lagi gairah remaja seperti dulu.
Yang ada sekarang adalah rasa nyaman yang tenang.
Dua orang yang sama-sama pernah kehilangan terlalu banyak.
Suatu malam mereka duduk di tepi Sungai Brantas sambil mendengar suara air.
Livia memeluk lututnya sambil memandang aliran sungai.
“Aneh ya.”
“Apa?”
“Sungai ini masih sama.”
Arga tersenyum kecil.
“Dia lebih setia daripada manusia.”
Livia tertawa pelan.
Lalu beberapa detik kemudian suaranya mengecil.
“Aku takut.”
Arga menoleh.
“Takut apa?”
“Takut semuanya terlambat.”
Kalimat itu membuat Arga diam cukup lama.
Karena sebenarnya ia juga memikirkan hal yang sama.
Mereka bukan lagi dua anak muda yang bisa lari dari dunia begitu saja.
Ada keluarga.
Ada umur.
Ada hidup yang telanjur berjalan terlalu jauh.
Namun Arga tetap menggenggam tangan Livia perlahan.
“Kita masih di sini.”
Dan entah kenapa, kalimat sederhana itu cukup membuat mata Livia kembali basah.
Beberapa hari kemudian konflik keluarga meledak lebih besar.
Kevin menemukan dokumen lama tentang pembagian saham toko keluarga.
Dan untuk pertama kalinya, persoalan warisan dibicarakan terang-terangan.
“Kalau Livia nikah sama Arga, apa dia tetap dapat bagian keluarga?”
Suara Kevin terdengar dingin di ruang kerja.
Mei Lin langsung menatap anak sulungnya tidak percaya.
“Kevin!”
“Aku cuma realistis.”
Tan Hok Liang memukul meja pelan.
“Cukup.”
“Tapi ini kenyataan, Pa.”
Kevin maju selangkah.
“Keluarga besar sudah mulai ngomong di belakang kita.”
“Biarin.”
“Mereka bisa tarik kerja sama bisnis!”
“Kalau cuma karena anak saya jatuh cinta, berarti mereka bukan partner yang pantas dipertahankan.”
Ruangan langsung hening.
Bahkan Livia terkejut mendengar kalimat itu keluar dari ayahnya.
Kevin pun membeku.
“Papa berubah.”
Tan Hok Liang mengangkat wajah perlahan.
“Papa cuma capek hidup dalam takut.”
Kalimat itu terasa seperti sesuatu yang akhirnya dipendam puluhan tahun lalu pecah begitu saja.
Namun Kevin belum selesai.
Diam-diam ia mulai menyelidiki Arga.
Ia mencari kelemahan lelaki itu.
Masa lalunya.
Bisnisnya.
Hubungan-hubungannya.
Dan semakin ia mencari, semakin ia frustrasi.
Karena Arga ternyata benar-benar hidup sederhana.
Tidak serakah.
Tidak mencoba mendekati keluarga Tan demi uang.
Justru Arga beberapa kali menolak bantuan finansial dari Livia.
Hal itu malah membuat Kevin semakin marah.
Karena sulit membenci seseorang yang tidak memberi alasan untuk dibenci.
Suatu malam Kevin akhirnya mendatangi Arga langsung.
Hujan deras turun membasahi kota.
Arga baru menutup acara bedah buku kecil di sebuah kafe ketika melihat Kevin berdiri di luar sambil membawa payung hitam.
Tatapan mereka langsung bertemu.
Tegang.
Sudah bertahun-tahun hubungan mereka penuh permusuhan.
“Ada apa?” tanya Arga tenang.
Kevin mendekat perlahan.
“Kamu pikir bisa bahagiain adikku?”
Arga diam beberapa detik.
Lalu menjawab jujur, “Aku enggak tahu.”
Jawaban itu membuat Kevin mengernyit.
“Tapi aku tahu aku enggak pernah main-main sama dia.”
Hujan turun makin deras di sekitar mereka.
Kevin menatap lelaki di depannya lama sekali.
Dan untuk pertama kalinya, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia mau akui:
Arga benar-benar mencintai Livia.
Bukan karena nama keluarga Tan.
Bukan karena uang.
Bukan karena status.
Tetapi karena Livia sendiri.
Dan justru itu yang paling membuat Kevin kalah.
Malam itu Kevin pulang sendirian menyusuri Sungai Brantas.
Air sungai bergerak hitam di bawah lampu kota.
Ia berhenti cukup lama di jembatan tua.
Lalu teringat sesuatu yang dulu pernah dikatakan ibunya:
“Orang yang paling susah memaafkan biasanya adalah orang yang sebenarnya paling takut kehilangan.”
Kevin memejamkan mata.
Karena jauh di dalam dirinya, ia tahu, selama ini ia bukan cuma takut kehilangan warisan keluarga.
Ia takut kehilangan adiknya.
Takut Livia pergi jauh lagi seperti dulu.
Dan ketakutan itu perlahan berubah menjadi kemarahan yang diwariskan tanpa sadar.
Sementara di bawah sana, Sungai Brantas terus mengalir tenang.
Seolah sungai tua itu sudah melihat terlalu banyak manusia saling melukai hanya karena tidak tahu cara mengungkapkan rasa takut mereka sendiri.
Bersambung…………….
Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka, hanya berdasarkan imajinasi penulis. Jika ada persamaan cerita, nama tokoh dan tempat, itu hanya kebetulan saja.






