Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
DI sebuah grup diskusi para diabetesi, ada seorang anggota yang mengunggah gambar sebotol madu dengan tulisan mencolok: ”Madu Diabetes”. Pengunggah kemudian bertanya, apakah benar ada madu yang aman untuk diabetesi dan apakah benar klaim produsen madu tersebut.
Unggahan itu ternyata menarik perhatian anggota. Maka diskusi pun berlangsung seru. Sebagian mencoba mengingatkan para anggota agar tidak mudah percaya pada klaim produsen sebagaimana yang ditulis pada labelnya. Apalagi kalau menggunakan bahasa yang bombastis.
“Produk ini khusus untuk diabetes.”
“Tanpa gula.”
“100% alami.”
“Meningkatkan daya tahan tubuh.”
”Tanpa efek samping.”
”Terbukti efektif.”
Pernah membaca tulisan seperti itu pada kemasan produk?
Pada era digital saat ini, informasi menyebar sangat cepat. Sayangnya, promosi dan klaim yang berlebihan juga ikut menyebar dengan kecepatan yang sama.
Sebagian besar dari kita mungkin langsung merasa yakin. Apalagi jika kemasannya menarik, testimoni konsumennya banyak, dan iklannya muncul berulang kali di media sosial. Padahal, tulisan pada kemasan belum tentu menggambarkan kualitas produk yang sebenarnya.
Masyarakat perlu memiliki sikap hati-hati terhadap berbagai klaim yang dibuat oleh produsen. Jangan sampai keputusan membeli atau mengonsumsi suatu produk hanya didasarkan pada kata-kata yang terdengar meyakinkan.
Karena itu, masyarakat perlu menjadi konsumen yang kritis dan cerdas. Jangan mudah terpesona oleh kata-kata yang dicetak besar pada kemasan atau testimoni yang beredar di media sosial. Ingat, tulisan itu hanya produk desain grafis dan percetakan belaka!
Biasakan memeriksa fakta sebelum membeli suatu produk. Di mana informasi itu bisa diperoleh? Baca informasi nilai gizinya. Pelajari komposisinya. Pastikan ada izin edar. Periksa sertifikasi halal dan kenali produsennya.
Kemasan boleh menarik. Iklan boleh meyakinkan. Namun keputusan terbaik tetap harus didasarkan pada informasi yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan.
Klaim Produk Adalah Alat Pemasaran
Produsen tentu ingin produknya laku. Karena itu mereka berusaha menampilkan berbagai keunggulan produknya melalui kemasan, iklan, maupun promosi.
Masalahnya, tidak semua konsumen memahami bahwa sebagian klaim tersebut merupakan strategi pemasaran. Kalimat seperti “sehat”, “alami”, “premium”, “khusus diabetes”, atau “rendah gula” sering kali membuat konsumen merasa aman tanpa melakukan pemeriksaan lebih lanjut.
Sebagai contoh, sebuah produk mungkin diberi label “madu diabetes”. Banyak orang kemudian beranggapan bahwa produk tersebut aman dikonsumsi tanpa batas oleh penyandang diabetes. Padahal madu tetap mengandung karbohidrat dan gula yang dapat memengaruhi kadar gula darah.
Karena itu, konsumen perlu membiasakan diri untuk tidak langsung percaya pada slogan yang tercetak besar di bagian depan kemasan.
Bagian depan kemasan memang dirancang untuk menarik perhatian pembeli. Namun informasi yang lebih penting biasanya justru terdapat di bagian belakang atau samping kemasan.
Ada beberapa hal yang sebaiknya diperiksa sebelum membeli atau mengonsumsi suatu produk.
Baca Informasi Nilai Gizi
Informasi nilai gizi memberikan gambaran yang lebih objektif dibandingkan slogan promosi. Perhatikan beberapa hal berikut:
– Jumlah kalori per sajian.
– Kandungan karbohidrat.
– Kandungan gula.
– Kandungan lemak.
– Kandungan protein.
– Jumlah natrium atau garam.
Bagi penyandang diabetes, kandungan karbohidrat dan gula merupakan informasi yang sangat penting. Jadi jangan hanya terpaku pada tulisan “rendah gula” atau “aman untuk diabetes”.
Periksa Daftar Komposisi
Daftar komposisi menunjukkan bahan-bahan yang digunakan dalam produk tersebut. Bahan yang jumlahnya paling banyak biasanya ditulis pada urutan teratas. Jika gula, sirup glukosa, sirup fruktosa, atau pemanis lain berada di urutan awal, maka kandungannya relatif tinggi. Informasi komposisi lebih jujur daripada iklannya.
Pastikan Ada Izin Edar
Produk pangan, obat, suplemen, maupun kosmetik yang beredar secara legal umumnya memiliki nomor izin edar dari instansi yang berwenang. Keberadaan izin edar menunjukkan bahwa produk tersebut telah melalui proses evaluasi sesuai ketentuan yang berlaku. Sebaliknya, masyarakat perlu lebih waspada terhadap produk yang tidak memiliki izin edar yang jelas.
Perhatikan Sertifikasi Halal
Bagi konsumen Muslim, sertifikasi halal menjadi salah satu aspek penting. Sertifikat halal menunjukkan bahwa produk telah melalui proses pemeriksaan terkait kehalalan bahan dan proses produksinya. Namun perlu diingat, halal tidak selalu berarti sehat. Sebaliknya, sehat juga tidak otomatis berarti halal. Keduanya merupakan aspek yang berbeda.
Cek Identitas Produsen
Produk yang baik umumnya mencantumkan identitas produsen secara jelas, termasuk alamat dan informasi kontak. Kejelasan identitas ini penting apabila suatu saat konsumen memerlukan informasi tambahan atau ingin menyampaikan keluhan.
Menjadi konsumen cerdas bukan berarti curiga terhadap semua produk. Menjadi konsumen cerdas berarti mengetahui cara yang benar untuk menilai kualitas suatu produk sebelum memutuskan untuk membeli atau mengonsumsinya.(jto)






