PESAWAT dari Los Angeles mendarat di Surabaya menjelang subuh.
Lampu kota terlihat seperti bintang-bintang kecil dari balik jendela pesawat. Ketika roda pesawat menghantam landasan, dada Livia ikut bergetar pelan.
Indonesia.
Sudah hampir sembilan tahun sejak terakhir kali ia pergi meninggalkan negeri ini dengan mata sembab dan hati hancur.
Sembilan tahun.
Dan anehnya, waktu selama itu ternyata tidak cukup untuk menghapus rasa takutnya pulang.
Bandara terasa ramai meski hari masih sangat pagi.
Suara pengumuman penerbangan bersahut-sahutan.
Orang-orang berjalan cepat sambil menyeret koper.
Aroma kopi dan parfum bercampur dengan udara lembap khas Indonesia.
Begitu keluar dari pintu kedatangan, hawa panas langsung menyentuh wajah Livia.
Ia berhenti beberapa detik.
Menarik napas perlahan.
Udara Indonesia tidak sebersih California.
Tidak sedingin California.
Tetapi justru itu yang membuat matanya langsung panas.
Karena tubuhnya masih mengingat tempat ini.
Paman Adrian yang mengantarnya dari Amerika sempat bertanya sebelum berpisah.
“You okay?”
Livia tersenyum kecil.
“I don’t know.”
Dan memang itu jawaban paling jujur.
Ia tidak tahu apakah kepulangannya adalah hal baik atau justru awal luka lama terbuka lagi.
Perjalanan menuju Kediri ditempuh dengan kereta pagi dari Surabaya.
Livia memilih kereta daripada naik travel.
Entah kenapa ia ingin melihat perjalanan pulang itu pelan-pelan.
Ia duduk dekat jendela sambil memeluk tas kecilnya.
Di luar sana, Jawa Timur bergerak perlahan.
Sawah hijau.
Rumah-rumah kecil.
Warung pinggir rel.
Anak-anak melambaikan tangan ketika kereta lewat.
Hal-hal sederhana yang dulu terasa biasa kini justru membuat dadanya penuh.
Seorang ibu tua penjual nasi pecel lewat di lorong gerbong.
“Nasi pecel… nasi pecel…”
Livia langsung menoleh refleks.
Aroma sambal kacang itu langsung menyeretnya bertahun-tahun ke belakang.
Pagi-pagi di Kediri.
Ke pasar Setono Betek.
Ke suara motor Arga yang selalu muncul terlalu pagi.
Tanpa sadar, matanya mulai berkaca-kaca.
Ia buru-buru menoleh ke jendela.
Langit Jawa tampak mendung pagi itu.
Semakin dekat ke Kediri, jantung Livia semakin tidak tenang.
Tangannya dingin.
Ia mencoba mendengarkan musik lewat earphone, tetapi pikirannya terlalu ramai.
Bagaimana kalau semuanya sudah berubah?
Bagaimana kalau Arga sudah menikah?
Bagaimana kalau ia sendiri ternyata sudah tidak cocok lagi dengan kota itu?
Dan yang paling menakutkan,
bagaimana kalau Kediri tidak lagi menganggapnya sebagai rumah?
Kereta akhirnya berhenti di Stasiun Kediri menjelang sore.
Hujan turun tipis.
Suara peluit petugas stasiun bercampur aroma rel basah dan gorengan dari luar peron.
Livia berdiri cukup lama di depan pintu kereta sebelum turun.
Kota ini langsung menyambutnya dengan kenangan.
Dan semuanya terasa terlalu dekat.
Tangannya sedikit gemetar saat menuruni tangga kereta.
Lalu ia melihat Kevin.
Kakaknya berdiri dekat pintu keluar sambil memakai jaket hitam dan memegang payung.
Wajah Kevin jauh lebih dewasa sekarang.
Garis rahangnya lebih tegas.
Tatapannya lebih tenang.
Namun untuk pertama kalinya dalam hidup, Livia tidak lagi melihat kakaknya sebagai orang yang menakutkan.
Kevin tersenyum kecil.
“Welcome home.”
Livia tertawa pelan.
“Kamu sekarang sok manis ya.”
Kevin mengangkat bahu.
“Umur bikin orang capek marah terus.”
Kalimat itu membuat Livia diam beberapa detik.
Karena dulu, Kevin adalah orang yang paling keras menentang hubungannya dengan Arga.
Dan sekarang lelaki itu terlihat lelah.
Seperti seseorang yang terlalu lama hidup bersama penyesalan.
Mobil melaju pelan meninggalkan stasiun.
Livia terus menatap keluar jendela tanpa berkedip.
Kediri berubah.
Banyak sekali berubah.
Jalanan lebih ramai.
Kafe-kafe modern bermunculan.
Bangunan baru berdiri di beberapa sudut kota.
Tempat rental VCD dekat alun-alun sudah berubah jadi minimarket.
Warung bakso favoritnya jadi coffee shop.
Dan toko kaset lama sudah hilang.
Namun di balik semua perubahan itu, beberapa hal tetap sama.
Aroma hujan sore.
Pohon-pohon tua di pinggir jalan.
Dan langit Kediri yang selalu tampak sendu menjelang malam.
“Pecinan sekarang lebih modern,” kata Kevin sambil menyetir.
Livia mengangguk pelan.
Tetapi begitu mobil masuk kawasan pecinan, dadanya langsung terasa sesak.
Lampion merah masih menggantung.
Namun banyak rumah tua sudah direnovasi.
Tembok-tembok lama dicat baru.
Beberapa toko memakai papan nama modern dengan lampu terang.
Gang yang dulu terasa luas kini tampak lebih sempit.
Dan tiba-tiba Livia sadar, yang berubah bukan cuma kota ini.
Tetapi juga dirinya.
Rumah keluarga Tan masih berdiri megah di ujung jalan.
Pintu merah besar itu masih ada.
Ukiran naga emas masih tergantung.
Namun rumah itu terasa lebih sunyi sekarang.
Dulu selalu ada suara pegawai toko.
Suara pelanggan.
Suara radio Mandarin.
Kini semuanya jauh lebih tenang.
Begitu masuk, aroma teh melati langsung menyambutnya.
Dan mendadak Livia ingin menangis.
Mei Lin keluar dari dapur sambil menutup mulutnya sendiri.
“Liv…”
Perempuan itu langsung memeluk putrinya erat.
Tangisnya pecah begitu saja.
“Kamu kurus.”
Livia ikut menangis kecil sambil tertawa.
“Mami juga tambah tua.”
“Kurang ajar.”
Mereka tertawa di tengah tangis.
Dan untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, rumah itu terasa hidup lagi.
Tan Hok Liang muncul beberapa menit kemudian.
Lelaki itu terlihat jauh berbeda.
Tubuhnya sedikit membungkuk sekarang.
Rambutnya hampir putih seluruhnya.
Dan kerutan di wajahnya jauh lebih dalam.
Namun tatapannya masih sama.
Keras.
Diam.
Sulit ditebak.
Livia berdiri perlahan.
Mereka saling memandang cukup lama.
Hubungan mereka belum pernah benar-benar pulih sejak Livia dikirim ke Amerika.
Terlalu banyak luka di antara mereka.
Tetapi ketika Tan Hok Liang akhirnya berkata pelan,
“Kamu pulang juga.”
suara itu terdengar jauh lebih rapuh dari yang diingat Livia.
Dan tiba-tiba kemarahan bertahun-tahun di hati Livia terasa melemah.
Karena di depannya sekarang bukan lagi lelaki menakutkan yang mengendalikan hidupnya.
Melainkan seorang ayah tua yang diam-diam takut kehilangan anaknya.
Malam pertama di Kediri terasa aneh.
Livia tidak bisa tidur.
Ia berdiri di balkon kamar lamanya sambil memandang pecinan yang basah habis hujan.
Lampion merah bergoyang tertiup angin malam.
Dan semuanya langsung menyeretnya ke masa lalu.
Ke Cap Go Meh.
Ke Sungai Brantas.
Ke motor tua Arga.
Nama itu langsung membuat dadanya sesak.
Ia membuka ponsel.
Melihat kontak Arga yang masih tersimpan.
Jarinya hampir menekan tombol panggil.
Namun urung.
Apa yang harus ia katakan setelah semua tahun ini?
Hai?
Aku pulang?
Aku masih mencintaimu?
Livia tertawa kecil pahit pada dirinya sendiri.
Terlalu banyak waktu sudah lewat.
Sementara itu di tempat lain, Arga baru selesai mengisi acara diskusi buku di sebuah kafe di pusat Kota Kediri.
Kini ia jauh lebih dikenal.
Beberapa mahasiswa meminta tanda tangan.
Beberapa pembaca mengajaknya foto.
Namun di balik semua itu, Arga tetap lelaki yang sama.
Masih menyukai hujan.
Masih sering menulis larut malam.
Dan diam-diam masih menyimpan satu nama di bagian paling sunyi hidupnya.
“Ga.”
Bimo muncul sambil memegang ponsel.
“Apa?”
Bimo menunjukkan layar.
Sebuah foto baru diunggah teman lama pecinan.
Seorang perempuan berdiri di depan toko keluarga Tan.
Arga langsung membeku.
Livia.
Waktu seperti berhenti bergerak.
Bimo menatap sahabatnya hati-hati.
“Kamu enggak apa-apa?”
Namun Arga bahkan tidak bisa menjawab.
Karena tiba-tiba semua yang selama ini ia kubur kembali hidup.
Suara tawanya.
Aroma parfumnya.
Dan malam di Bandara Juanda.
Tanpa sadar, Arga sudah mengendarai motor menuju pecinan.
Hujan baru saja reda.
Jalanan basah memantulkan lampu kota.
Dadanya berdegup terlalu keras.
Ia bahkan tidak tahu kenapa pergi ke sana.
Mungkin karena sebagian dirinya masih percaya, kalau Livia benar-benar pulang, perempuan itu pasti datang ke tempat yang sama.
Dan benar saja.
Klenteng tua itu masih berdiri di ujung gang.
Lampion merah menyala redup.
Asap dupa naik pelan ke udara malam.
Dan di depan altar kecil—
Livia berdiri sendirian.
Memakai sweater krem.
Rambut panjangnya tergerai.
Tangannya memegang payung kecil.
Persis seperti malam pertama mereka bertemu bertahun-tahun lalu.
Arga berhenti berjalan.
Napasnya tertahan.
Livia perlahan menoleh.
Dan ketika mata mereka bertemu,
semua suara di sekitar seperti menghilang.
Tidak ada hujan.
Tidak ada kota.
Tidak ada waktu.
Hanya mereka.
Dua manusia yang pernah saling mencintai terlalu dalam lalu dipisahkan terlalu lama.
Mata Livia langsung berkaca-kaca.
Sementara Arga hanya bisa berdiri diam.
Karena ternyata setelah semua tahun berlalu, wajah itu masih menjadi tempat paling sakit di hidupnya.
“Hai,” kata Arga akhirnya.
Suaranya serak.
Livia tersenyum kecil sambil menahan tangis.
“Hai.”
Satu kata sederhana.
Tetapi cukup untuk menghancurkan bertahun-tahun pertahanan yang mereka bangun sendiri.
Mereka berjalan menyusuri pecinan tanpa tujuan.
Seperti dulu.
Lampion merah memantul di jalan basah.
Aroma mie goreng dari ujung gang bercampur udara hujan.
Livia beberapa kali diam-diam menatap Arga.
Ia berubah.
Jauh lebih matang sekarang.
Ada ketenangan baru di wajahnya.
Tetapi juga kesedihan yang tidak pernah benar-benar hilang.
“Kamu terkenal sekarang,” kata Livia pelan.
Arga tertawa kecil.
“Enggak juga.”
“Aku lihat bukumu di toko Amerika.”
Arga menoleh cepat.
“Serius?”
“Iya.”
Livia tersenyum kecil.
“Aneh lihat nama kamu sejauh itu.”
Mereka berhenti di tepi Sungai Brantas.
Air sungai mengalir gelap membawa pantulan lampu kota.
Tempat itu masih sama.
Dan justru karena itu, rasanya semakin menyakitkan.
“Aku sering mimpi balik ke sini,” kata Livia pelan.
“Terus?”
“Di mimpi itu kita masih muda.”
Arga tersenyum tipis.
“Kita memang belum setua itu.”
Livia tertawa kecil.
Namun beberapa detik kemudian, matanya kembali basah.
“Aku kangen rumah.”
Arga memandangnya lama.
Lalu berkata pelan,
“Rumah enggak selalu tempat.”
Livia menatapnya.
Dan dada mereka sama-sama sesak karena keduanya tahu, selama ini, mereka diam-diam masih menganggap satu sama lain sebagai rumah yang tidak pernah benar-benar hilang.
Bersambung…………….
Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka, hanya berdasarkan imajinasi penulis. Jika ada persamaan cerita, nama tokoh dan tempat, itu hanya kebetulan saja.






