HUJAN gerimis turun perlahan di Kota Kediri ketika kabar itu datang.
Awalnya hanya batuk kecil.
Lalu demam.
Lalu tubuh Livia mulai melemah sedikit demi sedikit.
Dokter di Surabaya menyuruh pemeriksaan lanjutan.
Hasilnya keluar dua minggu kemudian.
Dan sejak hari itu, hidup semua orang berubah.
Kanker.
Stadium lanjut.
Kata itu jatuh seperti palu godam di tengah keluarga Tan.
Mei Lin menangis sepanjang malam.
Kevin memukul tembok kamar mandi sampai tangannya berdarah.
Sementara Tan Hok Liang hanya duduk diam di ruang kerja tanpa bicara apa pun selama berjam-jam.
Sedangkan Livia, justru terlihat paling tenang.
Seolah tubuhnya sudah lebih dulu tahu bahwa waktunya memang tidak akan panjang.
“Aku capek, Mi,” katanya suatu malam sambil tersenyum kecil pada Mei Lin.
Kalimat sederhana itu menghancurkan hati ibunya.
Karena untuk pertama kalinya sejak kecil, Mei Lin melihat putrinya benar-benar lelah menjalani hidup.
Arga mengetahui semuanya dari Kevin.
Ironis sekali bagaimana lelaki yang dulu paling membencinya kini berdiri gemetar di depan rumah kecilnya sambil berkata pelan,
“Livia sakit.”
Dunia Arga langsung runtuh.
“Apa?”
Kevin bahkan tidak mampu menatap matanya.
“Parah.”
Hanya satu kata.
Tetapi cukup membuat tubuh Arga mendadak dingin.
Malam itu Arga datang ke rumah keluarga Tan untuk pertama kalinya tanpa sembunyi-sembunyi.
Tidak ada yang melarang.
Tidak ada yang mengusir.
Karena di hadapan kematian, kebencian manusia tiba-tiba terasa sangat kecil.
Livia sedang duduk di balkon kamarnya ketika Arga masuk.
Tubuhnya jauh lebih kurus sekarang.
Wajahnya pucat.
Rambut panjangnya mulai rontok sedikit demi sedikit.
Tetapi matanya,
matanya masih mata yang sama.
Mata yang pertama kali membuat Arga jatuh cinta di bawah lampion merah bertahun-tahun lalu.
Livia tersenyum kecil ketika melihatnya.
“Kamu datang Ga.”
Suara Arga langsung pecah.
“Iya.”
Dan itu saja sudah cukup membuat keduanya hampir menangis.
Hari-hari setelah itu berjalan seperti mimpi buruk yang terlalu pelan.
Arga menemani Livia hampir setiap hari.
Kadang mereka hanya duduk diam di balkon sambil mendengar hujan.
Kadang Arga membacakan draft novel barunya.
Kadang mereka mengenang masa-masa kecil di pecinan.
Dan semakin hari, tubuh Livia semakin lemah.
Namun anehnya,
perempuan itu justru terlihat lebih damai daripada siapa pun.
Suatu sore mereka pergi diam-diam ke klenteng tua.
Tempat pertama kali mereka bertemu.
Langkah Livia sudah sangat pelan sekarang.
Tangannya terus menggenggam lengan Arga.
Lampion merah bergoyang pelan di atas mereka.
“Aku takut lupa wajah tempat ini,” bisik Livia.
Arga langsung menggenggam tangannya lebih erat.
“Kamu enggak akan lupa.”
Livia tersenyum kecil.
“Kalau nanti aku enggak ada…”
“Jangan ngomong gitu.”
“Dengerin dulu.”
Matanya mulai berkaca-kaca.
“Aku seneng pernah kenal kamu.”
Kalimat itu langsung menghancurkan pertahanan Arga.
Lelaki itu menunduk cepat karena matanya mulai panas.
Dan untuk pertama kalinya sejak dewasa, Arga menangis di depan seseorang.
Bukan tangisan keras.
Tetapi tangisan diam dari seseorang yang tahu ia sedang kehilangan rumahnya sedikit demi sedikit.
Malam Cap Go Meh datang beberapa minggu kemudian.
Pecinan kembali penuh lampion merah.
Namun tahun itu suasananya terasa berbeda.
Livia meminta keluar rumah.
“Aku mau lihat lampion sekali lagi.”
Tan Hok Liang yang biasanya keras bahkan tidak mampu menolak lagi.
Arga membawa Livia berjalan pelan menyusuri pecinan.
Orang-orang menoleh diam-diam.
Semua tahu penyakitnya sekarang.
Semua tahu waktunya mungkin tinggal sedikit.
Namun malam itu, Livia tampak cantik sekali.
Ia memakai sweater putih sederhana dan syal merah kecil.
Wajahnya pucat.
Tetapi senyumnya hangat.
Persis gadis yang dulu ditemui Arga bertahun-tahun lalu.
Mereka berhenti di jembatan Sungai Brantas.
Lampion memantul di air hitam sungai.
Livia memandang kota itu lama sekali.
“Kediri masih cantik ya.”
Arga mengangguk sambil menahan sesak di dada.
Livia menoleh pelan.
“Kalau ada hidup berikutnya…”
Arga langsung menggenggam tangannya.
“Jangan ngomong seolah kamu mau pergi.”
Livia tersenyum kecil.
Tetapi matanya penuh kesedihan.
“Aku capek, Ga.”
Dan kalimat itu terasa lebih menyakitkan daripada apa pun.
Beberapa hari kemudian, kondisi Livia menurun drastis.
Ia mulai sulit bangun.
Sulit makan.
Sulit bicara panjang.
Rumah keluarga Tan berubah sunyi.
Tidak ada lagi suara pertengkaran.
Tidak ada lagi pembicaraan soal bisnis.
Tidak ada lagi soal warisan.
Semua orang hanya berharap waktu berjalan lebih lambat.
Tan Hok Liang kini sering duduk di samping tempat tidur putrinya sepanjang malam.
Kadang ia menggenggam tangan Livia sambil menangis diam-diam ketika semua orang tidur.
Rasa bersalah itu akhirnya datang terlambat.
Terlalu terlambat.
Suatu malam Livia memanggil ayahnya pelan.
“Pa.”
Tan Hok Liang langsung mendekat.
“Iya, Nak.”
Livia tersenyum kecil lemah.
“Papa jangan takut lagi ya.”
Kalimat itu membuat lelaki tua itu langsung menangis untuk pertama kalinya di depan anaknya.
Tangis yang ditahan puluhan tahun.
“Aku cuma takut kehilangan kamu…”
Livia mengusap tangan ayahnya pelan.
“Aku enggak pernah benci Papa.”
Dan malam itu, seluruh rumah menangis.
Livia meninggal tiga hari kemudian.
Menjelang subuh.
Saat hujan turun sangat pelan di luar jendela.
Arga datang beberapa menit setelah napas terakhirnya hilang.
Ia berdiri di depan kamar dengan tubuh gemetar.
Lalu perlahan mendekat ke ranjang.
Livia terlihat seperti sedang tidur.
Tenang.
Damai.
Cantik.
Seolah semua rasa sakit akhirnya pergi dari tubuhnya.
Arga duduk perlahan di samping ranjang.
Tangannya menyentuh jemari dingin perempuan itu.
Dan dunia langsung terasa kosong.
Benar-benar kosong.
“Liv…”
Suaranya pecah.
Tetapi tidak ada jawaban lagi.
Tidak ada senyum kecil.
Tidak ada tatapan mata hangat.
Hanya sunyi.
Sunyi yang terlalu besar untuk ditanggung manusia sendirian.
Pemakaman berlangsung di tengah hujan.
Pecinan penuh orang.
Lampion merah di depan rumah keluarga Tan dilepas satu per satu.
Mei Lin hampir pingsan berkali-kali.
Kevin berdiri diam dengan mata merah sejak pagi.
Tan Hok Liang tampak seperti lelaki yang kehilangan separuh jiwanya.
Sedangkan Arga,
terlihat seperti manusia yang sudah kehilangan alasan hidup.
Ia berdiri memandangi peti putih Livia tanpa bergerak sedikit pun.
Hujan membasahi bajunya.
Tetapi ia bahkan tidak sadar.
Karena sebagian dirinya ikut dikubur hari itu.
Malam setelah pemakaman, Arga pulang sendirian.
Kota Kediri basah oleh hujan panjang.
Motor tuanya melaju melewati pecinan yang kini tampak gelap.
Tidak ada lampion.
Tidak ada suara ramai.
Tidak ada Livia.
Sungai Brantas mengalir gelap di bawah langit malam.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, Arga merasa benar-benar sendirian.
Ia berhenti sebentar di depan klenteng tua.
Tempat semuanya dimulai.
Hujan turun membasahi wajahnya.
Arga menatap lampion terakhir yang masih menyala redup di depan altar.
Lalu tersenyum kecil sambil menangis.
“Aku capek juga, Liv…”
Setelah itu ia kembali mengendarai motor.
Jalanan licin.
Kabut hujan menutupi pandangan.
Dan di persimpangan besar dekat jembatan,
semuanya terjadi sangat cepat.
Cahaya lampu putih.
Suara klakson panjang.
Rem yang menjerit.
Tiba-tiba…..
BRAAAK.
Tubuh Arga terpental menghantam aspal.
Motor tuanya hancur di bawah truk besar.
Hujan terus turun membasahi darah Arga di jalan.
Arga masih hidup ketika dibawa ke rumah sakit.
Tetapi kondisinya sangat parah.
Pendarahan hebat.
Tulang rusuk patah.
Cedera kepala.
Selama dua hari ia koma.
Dan selama dua hari itu, keluarga Tan datang bergantian menjaganya.
Kevin duduk diam di luar ICU sambil menangis untuk pertama kalinya sejak kecil.
Tan Hok Liang bahkan tidak sanggup masuk ke ruangan.
Karena rasa bersalahnya sudah terlalu besar.
Pak Sastro hanya duduk memegang tangan anaknya sambil membaca doa pelan.
Lelaki tua itu terlihat jauh lebih tua sekarang.
Pada malam kedua, hujan kembali turun di Kediri.
Monitor jantung Arga berbunyi pelan di ruang ICU.
Dan perlahan,
denyut itu mulai melemah.
Pak Sastro menggenggam tangan anaknya erat.
“Ga…”
Kelopak mata Arga bergerak sedikit.
Sangat pelan.
Lalu bibirnya yang pucat berbisik lirih,
“Livia…”
Air mata Pak Sastro langsung jatuh.
Dan beberapa detik kemudian,
garis monitor itu berubah lurus.
Panjang.
Sunyi.
Arga pergi menemui kekasih hatinya.
Kota Kediri kembali hujan saat Arga dimakamkan.
Orang-orang pecinan dan keluarga Arga datang membawa bunga dan dupa.
Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, dua dunia yang dulu saling curiga berdiri berdampingan dalam kesedihan yang sama.
Tidak ada lagi kebencian.
Tidak ada lagi prasangka.
Karena cinta dua manusia itu akhirnya mengalahkan semuanya,
meski terlalu terlambat.
Beberapa minggu kemudian, Mei Lin menemukan naskah terakhir Arga di kamar Livia.
Belum selesai.
Halaman terakhir hanya berisi satu kalimat:
“Beberapa cinta tidak ditakdirkan hidup lama di dunia, karena mereka memang diciptakan untuk abadi.”
Di bawah kalimat itu ada gambar kecil, lampion merah dan hujan.
Dan konon,
setiap Cap Go Meh datang,
ketika hujan turun pelan di pecinan Kediri,
beberapa orang tua masih percaya mereka pernah melihat dua bayangan berjalan bersama di tepi Sungai Brantas.
Seorang lelaki membawa motor tua.
Dan seorang perempuan bersweater putih tersenyum kecil di sampingnya.
Akhirnya bersama.
Bukan di dunia yang penuh ketakutan manusia.
Tetapi di tempat yang tak lagi mempersoalkan warna kulit, nama keluarga, ataupun masa lalu.
Hanya cinta.
Dan cinta itu, akhirnya bersatu di alam keabadian.
“Sungai Brantas terus mengalir melewati pecinan tua itu. Lampion-lampion datang dan pergi setiap tahun. Rumah berpintu merah tetap berdiri menantang waktu. Namun bagi Kediri, Arga dan Livia tidak pernah benar-benar pergi. Sebab beberapa cinta memang tidak ditakdirkan untuk hidup selamanya, melainkan untuk dikenang selamanya.”
TAMAT
Ditulis oleh Wahyu Sakti Awan
Kediri, 21 Mei 2026
Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka, hanya berdasarkan imajinasi penulis. Jika ada persamaan cerita, nama tokoh dan tempat, itu hanya kebetulan saja.






