BI-Rate Naik Jadi 5,5 Persen, Modal Asing Rp 19 Triliun Langsung Serbu Indonesia

bank indonesia

RISKS.ID – Keputusan Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan atau BI-Rate menjadi 5,5 persen terbukti ampuh memikat investor global. Bank sentral mencatat aliran masuk modal asing (foreign inflows) ke instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) menembus angka Rp 19,02 triliun hanya dalam kurun waktu dua hari.

Secara rinci, guyuran dana nonresiden tersebut masuk ke instrumen SRBI sebesar Rp 15,11 triliun dan ke SBN mencapai Rp 3,91 triliun pada 10 dan 11 Juni 2026.

Bacaan Lainnya

“⁠Pascakenaikan BI-Rate, aliran masuk modal asing mengalami perkembangan positif, didukung oleh daya tarik instrumen keuangan domestik,” ujar Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Jumat (12/6/2026).

Tidak hanya di instrumen BI dan pemerintah, Destry juga menyebutkan bahwa banjir modal asing terjadi pada obligasi internasional Danantara. Penjualan perdana obligasi tersebut sukses besar dengan raihan mencapai Rp 26,9 triliun. Menurut dia, perkembangan ini menjadi bukti nyata tingginya kepercayaan investor global terhadap prospek aset-aset domestik.

Dampak positif dari serbuan modal asing ini langsung terasa pada keperkasaan mata uang garuda. Nilai tukar rupiah pada Jumat (12/6/2026) ditutup menguat di level Rp 17.865 – Rp 17.875 per dolar AS (bid-ask).

Angka tersebut menunjukkan penguatan sebesar 0,84 persen jika dibandingkan dengan penutupan pada 5 Juni 2026 yang sempat tertahan di level Rp 18.010 – Rp 18.020 per dolar AS (bid-ask).

Destry mengatakan bahwa apresiasi nilai tukar ini mencerminkan respons positif pasar terhadap bauran kebijakan bank sentral Indonesia yang dinilai taktis dan konsisten. Langkah BI tidak hanya sebatas menaikkan BI-Rate, melainkan juga memperkuat struktur suku bunga SRBI, memberikan insentif hedging swap bagi investor asing, hingga membuka akses repo untuk mendukung likuiditas perbankan.

Selain itu, BI meningkatkan intensitas operasi moneter rupiah dan valuta asing. “Langkah-langkah tersebut juga didukung oleh sinergi yang erat antara Bank Indonesia dan pemerintah,” imbuh Destry.

Demi mempertebal benteng pertahanan ekonomi nasional, BI terus memperluas jaringan internasional. Destry menambahkan bahwa ketahanan eksternal kini semakin diperkuat melalui kerja sama keuangan trilateral antara BI, People’s Bank of China (PBOC), dan Hong Kong Monetary Authority (HKMA).

Kerja sama strategis ini menghasilkan tiga kesepakatan penting, yakni:

  1. Sinergi memperkuat ketahanan keuangan masing-masing negara sekaligus stabilitas keuangan regional yang lebih luas.

  2. Penguatan Bilateral Currency Swap Agreement (BCSA).

  3. Penguatan komitmen penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral melalui perluasan Local Currency Transactions (LCT).

Langkah tersebut, ujar Destry, akan secara signifikan mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap dolar AS dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah agar tidak mudah goyah oleh sentimen global.

Dia pun memastikan bahwa BI akan terus mengawal pasar secara konsisten dan terukur. Koordinasi dengan pemerintah serta berbagai pemangku kepentingan akan terus dioptimalkan demi menjaga ketahanan eksternal perekonomian Indonesia.

“Dengan berbagai perkembangan di atas, diyakini rupiah akan terus menguat terhadap dolar AS menuju ke level fundamentalnya,” pungkas dia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *