Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
BANYAK perempuan yang hidup dengan diabetes merasa khawatir ketika merencanakan kehamilan atau saat mengetahui dirinya sedang mengandung. Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: “Apakah anak saya pasti akan menjadi diabetesi juga?”
Jawabannya adalah tidak.
Berdasar penelitian, anak yang lahir dari seorang ibu penderita diabetes tidak otomatis akan mengalami diabetes. Sampai saat ini tidak ada bukti bahwa seorang ibu yang menderita diabetes pasti akan melahirkan anak yang juga menderita diabetes. Namun, dibandingkan anak yang lahir dari ibu tanpa diabetes, mereka memang memiliki risiko yang lebih tinggi. Kata kuncinya adalah risiko meningkat, bukan kepastian.
Mengapa? Ada dua faktor utama yang berperan, yaitu faktor genetik dan lingkungan selama kehamilan.
Diabetes tipe 2 memiliki komponen keturunan yang cukup kuat. Jika salah satu orang tua menderita diabetes tipe 2, risiko anak untuk mengalami diabetes di kemudian hari memang lebih tinggi dibandingkan populasi umum. Jika kedua orang tua menderita diabetes, risikonya dapat meningkat lebih besar lagi.
Namun, gen bukanlah takdir. Banyak orang memiliki bakat genetik diabetes tetapi tidak pernah mengalami diabetes karena berhasil menjaga berat badan, menerapkan pola makan sehat, dan aktif berolahraga. Sebaliknya, ada pula orang yang tidak memiliki riwayat keluarga diabetes tetapi tetap terkena diabetes akibat pola hidup yang kurang sehat. Dengan kata lain, faktor keturunan hanyalah salah satu bagian dari cerita, bukan penentu akhir.
Faktor kedua sering kali kurang dipahami. Ketika seorang ibu hamil memiliki kadar gula darah yang tinggi dan tidak terkontrol, janin di dalam kandungan ikut terpapar kadar gula yang tinggi. Akibatnya, pankreas janin harus bekerja lebih keras untuk menghasilkan insulin.
Kondisi ini dapat memengaruhi perkembangan metabolisme anak dan meningkatkan risiko obesitas maupun diabetes tipe 2 saat dewasa. Karena itulah pengendalian gula darah selama masa kehamilan menjadi sangat penting. Menjaga gula darah tetap stabil bukan hanya bermanfaat bagi kesehatan ibu, tetapi juga membantu menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi tumbuh kembang janin.
Bagaimana dengan Diabetes Gestasional?
Selain diabetes yang sudah ada sebelum kehamilan, ada pula kondisi yang disebut diabetes gestasional, yaitu diabetes yang muncul selama masa kehamilan. Pada banyak kasus, kadar gula darah ibu akan kembali normal setelah persalinan.
Namun demikian, kondisi ini tetap perlu diperhatikan karena anak yang dilahirkan memiliki risiko lebih tinggi mengalami obesitas dan diabetes tipe 2 di kemudian hari. Selain itu, sang ibu memiliki risiko lebih tinggi mengalami diabetes tipe 2 beberapa tahun setelah melahirkan. Sekali lagi, yang meningkat adalah risikonya, bukan kepastiannya.
Apakah Bisa Dicegah?
Kabar baiknya, berbagai penelitian menunjukkan bahwa gaya hidup tetap menjadi faktor yang sangat menentukan. Seorang anak yang memiliki orang tua diabetes dapat menurunkan risikonya dengan cara menjaga berat badan ideal, aktif bergerak dan berolahraga secara teratur, membatasi konsumsi minuman manis, mengonsumsi makanan tinggi serat, tidur yang cukup, dan menghindari kebiasaan merokok saat dewasa.
Artinya, meskipun seseorang membawa kecenderungan genetik terhadap diabetes, ia belum tentu akan menjadi diabetesi.
Agar lebih mudah dipahami, gen diabetes dapat diibaratkan sebagai bibit tanaman. Memiliki ibu yang diabetes berarti seseorang mungkin membawa bibit tersebut. Namun bibit tidak akan tumbuh begitu saja. Ia memerlukan tanah, air, dan pupuk yang mendukung pertumbuhannya.
Dalam konteks diabetes, “tanah subur” itu dapat berupa obesitas, kurang aktivitas fisik, pola makan berlebihan, kurang tidur, stres berkepanjangan, dan berbagai faktor gaya hidup lainnya. Jika faktor-faktor tersebut dapat dikendalikan, bibit itu bisa saja tidak pernah berkembang menjadi penyakit.
Pesan penting yang perlu dipahami adalah bahwa diabetes pada ibu bukanlah vonis diabetes bagi anak. Seorang anak dapat lahir dari ibu yang diabetes, tumbuh sehat, dan tidak pernah mengalami diabetes sepanjang hidupnya. Sebaliknya, ada pula orang yang lahir dari ibu tanpa diabetes tetapi kemudian terkena diabetes karena pola hidup dan faktor lingkungan.
Karena itu, perempuan yang hidup dengan diabetes tidak perlu terlalu risau bahwa anak yang dikandungnya pasti akan menjadi diabetesi.
Yang jauh lebih penting adalah menjaga kadar gula darah tetap terkontrol selama kehamilan, mengikuti anjuran tenaga kesehatan, serta menanamkan pola hidup sehat dalam keluarga sejak dini.
Dengan pengelolaan kehamilan yang baik dan pengendalian gula darah yang optimal, peluang untuk melahirkan anak yang sehat tetap sangat besar. Banyak perempuan diabetesi telah membuktikan bahwa mereka dapat menjalani kehamilan yang sehat dan melahirkan anak-anak yang sehat pula.
Jadi, jika Anda hidup dengan diabetes dan sedang merencanakan kehamilan, tidak perlu merasa bersalah atau takut berlebihan. Risiko memang ada, tetapi risiko bukanlah kepastian. Dalam banyak kasus, gaya hidup yang baik bahkan mampu mengalahkan faktor keturunan.(jto)






