Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
PADA diabetesi, kondisi gawat sering kali dimulai dengan gejala tangan gemetar, keringat dingin, wajah pucat, atau tiba-tiba linglung. Sebagian orang mengira penderita belum sarapan. Padahal, ia sedang mengalami hipoglikemia yang gawat.
Hipoglikemia bukan sekadar “gula darah turun”. Jika terlambat ditangani, penderita dapat mengalami kejang, kehilangan kesadaran, kerusakan otak, bahkan meninggal dunia. Karena itu, setiap keluarga yang memiliki anggota diabetesi sebaiknya mengetahui protokol pertolongan pertama.
Hipoglikemia adalah keadaan ketika kadar gula darah turun hingga kurang dari 70 mg/dL. Namun, pada sebagian diabetesi, gejala sudah dapat muncul meskipun angkanya masih sedikit di atas batas tersebut.
Hipoglikemia paling sering dialami oleh penyandang diabetes yang menggunakan insulin atau obat yang merangsang produksi insulin. Namun, kondisi ini juga dapat terjadi pada orang lain dalam keadaan tertentu.
Gejala awal hipoglikemia yang sering muncul antara lain:
• tangan gemetar;
• keringat dingin;
• jantung berdebar;
• lapar mendadak;
• wajah pucat;
• pusing;
• sulit berkonsentrasi;
• mudah marah atau berbicara tidak jelas.
Bila kadar gula darah terus menurun, penderita dapat mengalami:
• kebingungan;
• sulit mengenali orang di sekitarnya;
• kejang;
• tidak sadarkan diri.
Jangan menunggu sampai penderita pingsan. Berikan pertolong pertama sesegera mungkin!
Protokol Pertolongan Pertama
Langkah 1. Tetap tenang.
Jangan panik. Kepanikan justru membuat keputusan menjadi keliru.
Langkah 2. Periksa gula darah bila memungkinkan.
Bila tersedia glukometer, segera lakukan pemeriksaan. Namun, bila alat tidak tersedia dan gejalanya sangat khas, jangan menunda pertolongan hanya karena tidak bisa mengukur gula darah.
Langkah 3. Pastikan penderita masih sadar dan bisa menelan.
Bila penderita masih sadar, segera berikan 15 gram karbohidrat yang cepat diserap tubuh.
Contohnya:
• tiga hingga empat tablet glukosa;
• sekitar 120 ml minuman manis yang mengandung gula;
• satu sendok makan madu;
• satu sendok makan gula yang dilarutkan dalam sedikit air;
• sekitar 150 ml jus buah.
Tunggu 15 menit, kemudian periksa kembali gula darah atau lihat apakah gejalanya membaik. Jika gula darah masih di bawah 70 mg/dL atau gejala belum hilang, ulangi pemberian 15 gram karbohidrat. Protokol ini dikenal sebagai aturan 15-15 (15-15 rule) dan direkomendasikan oleh American Diabetes Association.
Bila penderita tidak sadar, jangan memasukkan makanan atau minuman apa pun ke dalam mulut penderita. Tindakan tersebut justru dapat menyebabkan tersedak karena refleks menelan sudah hilang.
Yang harus dilakukan adalah:
• segera hubungi layanan kegawatdaruratan;
• miringkan tubuh penderita agar jalan napas tetap terbuka;
• bila tersedia glukagon dan Anda telah terlatih menggunakannya, segera berikan sesuai petunjuk;
• dampingi sampai tenaga medis datang.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Masih banyak orang melakukan tindakan yang justru membahayakan penderita.
Misalnya:
• memaksa orang yang tidak sadar minum teh manis;
• menuangkan madu ke mulut penderita yang sedang kejang;
• menunggu sampai penderita sadar sendiri;
• menganggap gejalanya hanya masuk angin atau kelelahan.
Kesalahan-kesalahan tersebut dapat memperburuk keadaan.
Setelah Gula Darah Normal
Pertolongan belum selesai. Apabila waktu makan berikutnya masih cukup lama, penderita perlu mengonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat kompleks dan protein agar gula darah tidak turun kembali.
Selanjutnya, cari penyebab hipoglikemia. Apakah terlambat makan? Apakah dosis obat terlalu tinggi? Apakah baru saja berolahraga lebih berat dari biasanya?
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut penting untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Lebih Baik Mencegah
Diabetesi yang berisiko mengalami hipoglikemia sebaiknya selalu membawa tablet glukosa, permen yang mengandung gula, atau minuman manis dalam jumlah kecil sebagai pertolongan pertama.
Keluarga, teman kerja, dan orang-orang terdekat juga perlu mengetahui bahwa penderita diabetes dapat mengalami hipoglikemia sewaktu-waktu. Pengetahuan sederhana ini dapat menjadi pembeda antara pertolongan yang menyelamatkan nyawa dan kepanikan yang justru memperburuk keadaan.
Dalam banyak kasus, penyelamat pertama bukanlah dokter atau perawat, melainkan orang yang kebetulan berada paling dekat ketika keadaan darurat itu terjadi.(jto)






