TAS DIABETES

joko intarto

Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi

MENGETAHUI kebiasaan baru saya bersepeda hingga empat jam, seorang diabetesi senior memberi saran agar saya selalu membawa tas diabetes. Apa itu?

Bacaan Lainnya

Tas diabetes adalah tas kecil yang mudah dibawa ke mana saja. Bisa disimpan di dalam ransel, ditenteng, atau digantung di rangka sepeda.

Isinya bukan barang mewah, melainkan perlengkapan sederhana yang berkaitan erat dengan pengendalian gula darah dan penanganan keadaan darurat.

Meski ukurannya kecil, tas ini sebaiknya memuat beberapa barang penting, antara lain:
– Glukometer lengkap beserta strip dan lanset.
– Permen yang mudah larut sebagai pertolongan pertama bila terjadi hipoglikemia.
– Makanan berkarbohidrat yang praktis dikonsumsi, seperti biskuit atau roti, untuk membantu menaikkan kadar gula darah setelah pemberian gula cepat.
– Minuman manis kemasan kecil sebagai sumber gula yang cepat diserap tubuh.
– Kartu identitas yang menjelaskan bahwa saya seorang diabetesi, lengkap dengan nomor kontak keluarga yang dapat dihubungi dalam keadaan darurat.

Sebagai diabetesi yang menjalani hidup tanpa obat diabetes maupun suntik insulin, menurut teori peluang saya mengalami hipoglikemia memang lebih kecil. Meski demikian, kemungkinan itu tetap ada, terutama bila berolahraga terlalu lama, terlambat makan, atau terlalu asyik hingga lupa waktu.

Potensi terjadinya hipoglikemia harus diantisipasi oleh setiap diabetesi. Sebab, bila tidak segera ditangani, kondisi ini dapat menyebabkan penurunan kesadaran, kejang, bahkan mengancam nyawa.

Karena itu, waspadalah bila saat berolahraga muncul gejala-gejala seperti:
– Badan gemetar.
– Keringat dingin.
– Jantung berdebar.
– Rasa lapar yang sangat kuat.
– Pusing atau kepala terasa ringan.
– Pandangan kabur.
– Sulit berkonsentrasi.
– Tubuh terasa sangat lemas.

Bila mengalami gejala-gejala tersebut, segera hentikan olahraga. Menepilah di tempat yang aman dan teduh, lalu periksa kadar gula darah menggunakan glukometer.

Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan kadar gula darah di bawah 70 mg/dL, akhiri olahraga hari itu. Segera konsumsi sekitar 15–20 gram karbohidrat yang bekerja cepat, misalnya permen, air gula, atau minuman manis. Setelah itu, makan camilan yang mengandung karbohidrat agar kadar gula darah tetap stabil.

Lima belas menit kemudian, periksa kembali kadar gula darah. Bila masih di bawah 70 mg/dL atau gejala belum membaik, ulangi pemberian karbohidrat cepat. Jika kondisi tidak kunjung membaik atau justru memburuk, segera cari pertolongan medis.

Tas diabetes mungkin kecil dan ringan. Namun, dalam situasi darurat, isinya dapat menjadi pembeda antara perjalanan yang berakhir dengan selamat atau berubah menjadi musibah.

Saat berolahraga, jangan hanya menyiapkan tenaga dan semangat. Siapkan juga rencana penyelamatan diri. Itulah salah satu ciri diabetesi yang cerdas dan berdaya.(jto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *