JALAN USAI MAKAN

joko intarto

Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi

APA yang biasa Anda lakukan setelah makan? Kalau pertanyaan itu diajukan kepada saya beberapa tahun lalu, jawabannya, “Merokok.”

Bacaan Lainnya

Ya, dulu saya selalu mengakhiri makan dengan sebatang rokok. Kebiasaan buruk itu berlangsung bertahun-tahun.

Kebiasaan buruk itu berubah setelah saya didiagnosis menderita diabetes pada awal tahun 2024. Rokok saya tinggalkan. Sebagai gantinya, saya justru bergerak. Kadang berjalan kaki, kadang bersepeda santai. Intensitasnya ringan saja, sesuai anjuran dokter.

Belakangan saya mengetahui bahwa kebiasaan baru itu ternyata didukung oleh hasil penelitian.

Sebuah studi di Selandia Baru menemukan bahwa berjalan kaki selama sekitar 10 menit setelah makan lebih efektif menurunkan gula darah dibandingkan berjalan lebih lama pada waktu lain. Penelitian itu melibatkan penyandang diabetes tipe 2 yang diminta berjalan kaki setiap selesai makan.

Hasilnya cukup menarik. Penurunan gula darah paling besar terjadi setelah berjalan kaki seusai makan malam. Disusul setelah sarapan, kemudian setelah makan siang.

Mengapa setelah makan malam memberikan hasil terbaik? Makan malam umumnya merupakan waktu ketika seseorang mengonsumsi porsi makanan paling banyak. Setelah itu, sebagian besar orang memilih duduk santai di depan televisi atau langsung rebahan di tempat tidur. Akibatnya, glukosa hasil pencernaan makanan menumpuk lebih lama di dalam aliran darah.

Berbeda halnya jika kita segera bergerak. Saat otot bekerja, tubuh membutuhkan energi. Energi itu diambil dari glukosa yang ada di dalam darah. Menariknya, otot dapat menyerap glukosa tanpa harus menunggu kerja insulin secara maksimal. Karena itulah, kadar gula darah setelah makan dapat turun lebih cepat ketika kita berjalan kaki.

Inilah yang membuat jalan kaki setelah makan menjadi sangat menarik bagi para diabetesi. Tidak perlu olahraga berat. Tidak perlu menjadi anggota pusat kebugaran. Bahkan tidak perlu membeli alat olahraga yang mahal.

Yang dibutuhkan hanya kemauan untuk bergerak. Keluar rumah selama sekitar 10 menit. Berjalan santai mengelilingi kompleks. Menyusuri trotoar. Atau sekadar mondar-mandir di halaman rumah jika cuaca tidak memungkinkan.

Tentu saja, jalan kaki 10 menit bukanlah obat diabetes. Penelitian di Selandia Baru itu juga masih tergolong studi berskala kecil sehingga masih diperlukan penelitian lanjutan dengan jumlah peserta yang lebih besar.

Namun, anjuran ini tidak ada salahnya kalau dicoba. Toh biayanya nol rupiah. Risikonya juga tidak ada. Sebaliknya, manfaat yang mungkin diperoleh cukup besar, bukan hanya untuk membantu mengendalikan gula darah, tetapi juga menjaga kebugaran tubuh secara keseluruhan.

Karena itu, mulai hari ini cobalah mengubah satu kebiasaan kecil. Jangan buru-buru duduk atau rebahan setelah makan. Berilah kesempatan kepada tubuh untuk bergerak selama 10 menit.

Siapa tahu, sepuluh menit itulah yang membuat kadar gula darah Anda jauh lebih bersahabat.(jto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *