RISKS.ID – Perjalanan pasien kanker paru menuju pengobatan masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari proses diagnosis hingga koordinasi antar fasilitas kesehatan. Kondisi tersebut mendorong AstraZeneca Indonesia menilai layanan patient navigation perlu diperkuat sebagai bagian dari ekosistem penanganan kanker nasional.
Layanan navigasi pasien berfungsi membantu pasien dan keluarga memahami tahapan perawatan secara lebih terarah. Pendampingan dapat mencakup proses skrining, pemeriksaan, rujukan, pengobatan, hingga pemantauan setelah terapi.
Kanker paru menjadi salah satu penyakit dengan beban kematian tertinggi akibat kanker. Data GLOBOCAN 2022 mencatat sekitar 2,4 juta kasus baru kanker paru di dunia atau 12,4% dari seluruh kasus kanker.
Presiden Direktur AstraZeneca Indonesia Esra Erkomay mengatakan persoalan layanan kanker tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan fasilitas dan obat. Menurutnya, koordinasi antartahapan pelayanan juga menentukan kecepatan pasien memperoleh penanganan.
“Ketahanan sistem kesehatan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan obat, teknologi, atau fasilitas, tetapi juga oleh kemampuan sistem menghubungkan seluruh tahapan pelayanan secara efektif,” ujar Esra.
Menurut AstraZeneca, navigator pasien dapat membantu mengurangi hambatan administratif, keterbatasan informasi, persoalan transportasi, hingga kendala koordinasi jadwal pemeriksaan. Peran tersebut menjadi semakin penting ketika pasien harus berpindah dari satu fasilitas kesehatan ke fasilitas lainnya.
Dalam Consensus Statement: Patient Navigation: Improving Care and Outcomes in Lung Cancer, salah satu studi yang dirangkum menunjukkan keberadaan navigator pasien berkaitan dengan pemangkasan waktu hampir 20 hari dari temuan awal foto toraks hingga dimulainya pengobatan.
Model serupa telah diterapkan di sejumlah negara. Inggris menempatkan Clinical Nurse Specialist sebagai salah satu penghubung utama pasien dengan berbagai layanan kesehatan. Amerika Serikat juga memasukkan mekanisme navigasi pasien dalam standar mutu rumah sakit kanker melalui Commission on Cancer.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa navigasi pasien dapat menjadi bagian dari sistem layanan, bukan sekadar pendamping tambahan. Koordinasi yang lebih baik berpotensi membantu pasien menjalani tahapan pengobatan secara lebih teratur.
Di Indonesia, penguatan ekosistem tersebut membutuhkan kolaborasi lintas sektor. Pemerintah, BPJS Kesehatan, rumah sakit, organisasi profesi, organisasi pasien, akademisi, dan sektor swasta memiliki peran dalam membangun standar layanan yang berkelanjutan.
“Layanan navigasi pasien tidak bisa berdiri sendiri. Agar benar-benar memberi dampak, kita membutuhkan komitmen jangka panjang, standar layanan yang jelas, dan dukungan kebijakan,” kata Esra.
AstraZeneca menilai integrasi navigasi pasien dapat mendukung transformasi layanan kanker Indonesia. Sistem yang mampu mempercepat perpindahan pasien dari deteksi menuju diagnosis dan terapi juga berpotensi membuat penggunaan sumber daya kesehatan lebih terkoordinasi.
Penguatan layanan tersebut pada akhirnya diharapkan tidak hanya membantu pasien kanker paru memperoleh pengobatan lebih cepat. Ekosistem navigasi pasien juga dapat menjadi bagian dari investasi jangka panjang untuk membangun layanan kanker Indonesia yang lebih terintegrasi, tangguh, dan berkelanjutan.






