RISKS.ID – Kawasan pesisir Kabupaten Serang, Banten, mulai dilanda hujan abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda pada Sabtu (5/9) malam. Fenomena ini menyebabkan warga mengeluhkan mata perih, sakit tenggorokan, hingga mulai mengganggu aktivitas belajar mengajar di sekolah.
Sanan (42), warga Kampung Pasauran Satu, Desa Umbul Tanjung, Kecamatan Cinangka, saat ditemui di Pos Pemantau Gunung Api (PGA) Anak Krakatau di Kabupaten Serang pada Sabtu (5/9) malam, mengatakan paparan abu vulkanik mulai dirasakan menebal di sekitar permukiman warga sejak pukul 17.00 WIB.
Dikutip dari kantor berita Antara, dia menceritakan bahwa sejak pukul lima sore debu mulai semakin banyak. Saat mengendarai sepeda motor di jalan, mata terasa sakit jika tidak memakai helm. Debu juga menempel di badan sehingga membuat tidak nyaman, bahkan di depan rumahnya debu sudah banyak menumpuk di lantai.
Sanan menambahkan, rentetan suara gemuruh dan getaran yang tidak kunjung berhenti sejak Jumat (4/9) malam mendorong dirinya berinisiatif mendatangi langsung Pos PGA Anak Krakatau di Pasauran untuk memastikan kondisi keamanan gunung tersebut.
Kekhawatiran serupa turut dirasakan oleh Kepala SDN Pasir Menteng, Kecamatan Cinangka, Ajat Sudrajat. Dia sengaja mendatangi Pos PGA Anak Krakatau malam itu untuk memastikan secara langsung status dan kondisi gunung, guna mendapatkan informasi valid yang nantinya akan disampaikan kepada para siswa dan wali murid di sekolah.
Ajat membenarkan bahwa sebaran debu vulkanik tersebut sangat mengganggu kenyamanan dan kesehatan tubuh saat beraktivitas di luar ruangan.
Dia mengungkapkan, selama di perjalanan, jika tidak memakai masker rasanya lumayan sakit ke tenggorokan. Mata juga terasa perih kalau tidak memakai kacamata. Walaupun tidak terlihat jelas di udara, debu-debu tersebut terlihat menumpuk di area pos pemantauan Krakatau.
Informasi langsung dari pos pemantau dirasa sangat penting oleh Ajat, mengingat aktivitas erupsi tersebut telah memicu kecemasan di tengah masyarakat dan berdampak pada sepinya kehadiran siswa di sekolah.
Lebih lanjut, Ajat menuturkan bahwa getaran dan dentuman erupsi ini sebenarnya dianggap sebagai fenomena biasa oleh sebagian besar warga Pasauran, namun ada sebagian warga yang berinisiatif untuk mengamankan diri.
Dia menyebutkan bahwa masyarakat sebenarnya masih merasa aman karena hal-hal seperti ini sudah biasa dan alami bagi warga Pasauran. Namun, memang ada beberapa warga yang berinisiatif mengamankan dirinya sendiri ke daerah pegunungan.






