71 Ribu Perempuan di Indonesia Ogah Punya Anak

Ilustrasi (Foto: Pixabay)

RISKS.ID, Jakarta – Sebanyak 71 ribu perempuan di Indonesia mempertimbangkan untuk menjalani kehidupan pernikahan tanpa memiliki anak (childfree). Pertimbangan ini umumnya dipicu oleh persoalan ekonomi, termasuk mahalnya biaya pendidikan dan pengasuhan anak.

Hal tersebut diungkapkan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Wihaji, dalam kuliah umum di Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang pada Selasa (22/7/2025).

Bacaan Lainnya

Ia mengacu pada data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2022 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).

Wihaji menjelaskan bahwa meskipun terdapat kelompok perempuan yang menyatakan keinginan untuk tidak memiliki anak, keputusan tersebut belum bersifat final. Ia meyakini masih ada kemungkinan perubahan sikap di masa mendatang.

“Karakter masyarakat Indonesia pada umumnya masih menganggap memiliki anak sebagai bagian dari kodrat dan nilai kehidupan keluarga,” ujar Wihaji.

Kendati menghormati pilihan pribadi seperti childfree, Wihaji menyampaikan kekhawatiran atas dampak jangka panjang jika pilihan ini menjadi tren luas. Menurutnya, penurunan angka kelahiran secara signifikan bisa berpengaruh pada keberlangsungan generasi penerus bangsa.

Ia menggambarkan potensi risiko jika sebagian besar masyarakat memilih tidak memiliki anak, termasuk berkurangnya jumlah tenaga kerja di masa depan.

Wihaji juga menyoroti alasan utama di balik pilihan childfree, yang menurutnya berkaitan dengan beban ekonomi keluarga, ketakutan akan kehilangan karier, hingga perubahan nilai-nilai budaya. Ia mencatat bahwa beberapa perempuan enggan memiliki anak karena khawatir harus berhenti bekerja atau tidak mampu membayar pengasuh anak, sementara mengandalkan orang tua dinilai kurang ideal.

Sebagai respons atas fenomena ini, BKKBN meluncurkan program Tamasya (Taman Asuh Sayang Anak). Program ini dirancang untuk memberikan pendampingan pengasuhan anak bagi keluarga muda, terutama agar anak tetap mendapatkan perhatian meski orang tua bekerja di luar rumah.

“Tamasya bukan tempat penitipan anak, melainkan bentuk dukungan agar orang tua tetap bisa menjalankan perannya tanpa harus meninggalkan pekerjaan,” tegas Wihaji. (*)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *