RISKS.ID – Di balik riuh tepuk tangan di kolam renang dan kilau medali yang menggantung di dada, ada cerita panjang tentang perjuangan, pengorbanan, dan mimpi yang tumbuh dari keluarga sederhana di Kabupaten Kediri. Cerita itu bernama Ghayra Tsuraya Fillaily, atau yang akrab dipanggil Aya.
Aya lahir pada 2004, sebagai anak ketiga dari pasangan Widodo dan Yuyun Mulyowati, seorang pedagang baju, yang sekarang harus menutup lapaknya setelah dihantam badai COVID-19.
Kini, keluarga kecil itu menetap di Pare, Kabupaten Kediri. Di sanalah Aya tumbuh, besar, dan menempa dirinya menjadi salah satu perenang akuatik terbaik yang pernah dimiliki Kabupaten Kediri.
Aya bukan anak tunggal. Kakak pertamanya, Syahreiza Almahdi, kini menjadi pengajar di Kampung Inggris, Pare. Kakak keduanya, Tharieq Akbar Filasafi, tercatat sebagai mahasiswa semester enam Fakultas Film dan Televisi Universitas Jember.
Di tengah keluarga sederhana itu, Aya tumbuh dengan semangat mandiri dan kesadaran sejak dini bahwa hidup harus diperjuangkan.
Bakat renang Aya mulai terlihat sejak dia duduk di kelas 3 sekolah dasar. Kala itu, hampir setiap sore tubuh kecilnya terlihat menyusuri air di kolam renang THR Pagora.
Bukan untuk gaya-gayaan, tapi murni karena kegembiraan. Dia berenang hingga matahari tenggelam, tanpa tahu bahwa air kelak akan menjadi jalan hidupnya.
Langkah serius dimulai ketika Aya bergabung dengan klub renang Arwana Kediri. Sejak itu, prestasi demi prestasi datang silih berganti. Medali pertama Aya diraih saat mengikuti kejuaraan di Madiun. Saat itu, dia masih kelas 4 SD.
“Medali perunggu. Itu yang pertama dari gaya dada,” kenang Widodo, sang ayah, sembari menunjukkan setumpuk piagam dan medali yang kini tersimpan rapi di rumah mereka. Dari satu medali itu, cerita Aya terus mengalir, tak pernah berhenti.
Puncak konsistensi Aya terlihat di ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur. Empat edisi Porprov yaitu tahun 2019, 2022, 2023, dan 2025, empat kali pula Aya berdiri di podium tertinggi. Medali emas seakan menjadi langganan. Dia menjadi tulang punggung prestasi renang Kabupaten Kediri.
Tak hanya di level daerah. Di panggung nasional, Aya juga membuktikan kualitasnya. Pada Kejurnas Renang Indonesia Open 2018, dia meraih perak di nomor 50 dan 100 meter, serta perunggu di nomor 200 meter.
Pada Juni 2025, Aya kembali mengharumkan nama daerah dengan meraih perunggu di Kejurnas Renang Indonesia Open. Pada Popnas 2019 di Jakarta, namanya kembali tercatat sebagai peraih medali perunggu.
Namun, hidup tak selalu berjalan seirama dengan prestasi. Di balik gemilang kariernya sebagai atlet, Aya harus menelan pil pahit ketika gagal masuk kepolisian, salah satu cita-cita yang sempat dia gantungkan. Kegagalan itu sempat membuatnya terdiam. Tapi Aya bukan tipe yang larut dalam kecewa.
Hari-hari Aya kini dihabiskan di Complang Park, Kabupaten Kediri. Dia menjadi asisten pelatih bagi Didit Presijanto, sosok yang juga Ketua Akuatik Kabupaten Kediri. Dari seorang atlet, Aya mulai belajar berbagi ilmu.
Mengajarkan teknik, menanamkan disiplin, dan menularkan semangat kepada generasi di bawahnya. Terlebih, Aya kini juga sudah memegang sertifikat kepelatihan.
Didit tak ragu menyebut Aya sebagai perenang tangguh. Menurut dia, ketangguhan Aya bukan hanya soal fisik, tetapi juga mental. “Itu dia buktikan dengan banyak prestasi, baik di tingkat regional maupun nasional,” ujar Didit.
Di balik kesibukannya melatih, Aya menyimpan keinginan sederhana namun mulia. Dia ingin membantu orang tuanya. Aya memilih tidak melanjutkan kuliah agar tidak membebani keluarga. Sebagai gantinya, dia berharap bisa menjadi aparatur sipil negara di Kabupaten Kediri, tepatnya di Dinas Pariwisata.
“Lihat bapak dan ibuk pontang panting cari nafkah, Aya pengen bisa membantu mereka. Makanya tidak mau membebani orangtua dengan kuliah,” ucap Aya lirih, namun tegas.
Bagi Aya, prestasi bukan sekadar medali. Prestasi adalah jalan untuk bertahan, untuk bangkit, dan untuk membalas jerih payah orangtua. Dia tumbuh sebagai simbol bahwa mimpi besar bisa lahir dari rumah sederhana. Bahwa air kolam renang di sudut kota bisa menjadi saksi lahirnya juara, sekaligus manusia yang tahu diri.
Kini, Aya mungkin tak lagi selalu berlomba mengejar waktu di lintasan. Tapi jejaknya telah tertinggal. Di kolam renang, di lembar piagam, dan di hati mereka yang mengenalnya.
Aya adalah cerita tentang kegigihan, tentang anak daerah yang memilih berdiri tegak meski hidup tak selalu memberinya jalan mudah.
Dan dari Kediri, kisah itu terus mengalir, seperti air yang tak pernah berhenti menemukan jalannya.






