RISKS.ID – Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso memproyeksikan kinerja perdagangan Indonesia pada 2026 tetap berada di jalur positif. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekspor sebesar 7,09 persen pada tahun tersebut, sedikit di bawah target 2025 yang mencapai 7,1 persen.
Budi menjelaskan penurunan tipis itu bukan disebabkan melemahnya performa ekspor, melainkan karena basis pertumbuhan yang melonjak signifikan.
“Kita start-nya kan sudah tinggi. Tahun lalu kan 2,7 persen ekspor tumbuhnya. Realisasi ekspor tahun 2024 dari tahun 2024 itu 2,7 persen. Setelah itu, terus 2024 ke 2025 ini targetnya kan 7,1 persen. Artinya kan start-nya lompat ya, makanya tahun depan itu 7,09 persen,” ujar Budi Santoso kepada wartawan, Jumat (12/12).
Berdasarkan data Kementerian Perdagangan (Kemendag), realisasi ekspor periode Januari–Oktober 2025 sudah mencapai 6,96 persen. Budi optimistis angka tersebut akan menembus target 7,1 persen hingga penghujung tahun.
Dia menyebut realisasi ekspor Indonesia pada 2025 diperkirakan menyentuh 294 miliar dolar AS. Sementara target 2026 naik menjadi 315 miliar dolar AS. “Target tahun depan secara nilai lebih tinggi dibanding tahun 2025,” tambahnya.
Kemendag juga telah menetapkan peta target ekspor hingga 2029. Rinciannya, 315,31 miliar dolar AS pada 2026 (tumbuh 7,09 persen), 340,20 miliar dolar AS pada 2027 (tumbuh 7,89 persen), 370,04 miliar dolar AS pada 2028 (tumbuh 8,77 persen), dan 405,69 miliar dolar AS pada 2029 (tumbuh 9,64 persen).
“Kita kejar terus sampai akhir tahun 2029 itu 405 miliar dolar AS target ekspor kita. Makanya kita bertahap,” ujarnya.
Untuk mencapai target tersebut, Kemendag menggencarkan kerja sama dengan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) serta Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI). Sejumlah forum bisnis dan penjajakan peluang dagang secara daring disiapkan untuk membantu pelaku usaha memaksimalkan perjanjian dagang yang sudah dimiliki Indonesia.






