Pakar ITB Bicara Tantangan Otomotif 2026: Masih Berat!

RISKS.ID – Pakar Otomotif dari Institut Teknologi Bandung (ITB) Yannes Martinus Pasaribu menilai iklim industri otomotif pada 2026 masih menghadapi tantangan yang serupa dengan tahun sebelumnya.

Menurut dia, dikutip dari LKBN Antara, persoalan struktural yang membayangi industri sejak 2025 belum sepenuhnya teratasi.

Bacaan Lainnya

Yannes menyebutkan, pada semester pertama 2026, tekanan utama masih berasal dari lemahnya daya beli masyarakat. Kondisi tersebut dipicu inflasi di kisaran 3–4 persen serta menyusutnya kelas menengah yang selama ini menjadi motor utama penjualan kendaraan, dengan penurunan mencapai 16,6 persen sejak 2019.

Dia mengatakan, lesunya penjualan kendaraan baru juga dipengaruhi oleh kebijakan pemerintah yang belum sepenuhnya jelas. Situasi kebijakan yang abu-abu membuat konsumen cenderung menahan diri dan memilih bersikap wait and see untuk membeli kendaraan.

Tekanan dinilai akan semakin terasa dari sisi kebijakan fiskal, terutama berakhirnya insentif impor kendaraan completely built up (CBU) per 1 Januari 2026. Kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga kendaraan listrik hingga di atas 40 persen dan menekan minat beli masyarakat.

Meski demikian, Yannes menilai peluang pemulihan masih terbuka. Kunci kebangkitan industri otomotif, menurut dia, berada pada kinerja penjualan di akhir semester pertama 2026. Jika penjualan mampu mencatatkan hasil positif, maka dampaknya akan terasa pada semester berikutnya.

Dia menegaskan, kebangkitan industri sangat bergantung pada membaiknya kondisi keuangan dan sentimen konsumen. Jika Gaikindo tetap mematok target penjualan 900 ribu unit seperti tahun sebelumnya, target tersebut dinilai cukup menantang mengingat realisasi 2025 harus direvisi menjadi 780 ribu unit.

Yannes menyebutkan, syarat utama untuk mendongkrak penjualan adalah pertumbuhan ekonomi makro pada semester pertama yang harus mencapai 5,4 persen. Selain itu, pertumbuhan kelas menengah juga menjadi faktor penting dalam mendorong permintaan kendaraan.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah peran perusahaan pembiayaan. Menurut dia, kredit otomotif harus tetap longgar dengan suku bunga yang tidak naik tajam, didukung inflasi dan nilai tukar yang terkendali.

Sebagai catatan, sepanjang 2025 Gaikindo mencatat penjualan wholesales mencapai 803.687 unit, sementara penjualan ritel dari dealer ke konsumen tercatat 833.692 unit.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *