Pemerintah melaporkan capaian positif kinerja ekonomi nasional pada kuartal pertama 2026 dalam rapat terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo Subianto di Istana Merdeka, Jakarta. Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah menteri Kabinet Merah Putih serta anggota Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK).
Dalam rapat itu, kondisi ekonomi Indonesia dinilai tetap kuat di tengah tekanan global yang belum sepenuhnya mereda. Pemerintah menilai berbagai indikator utama menunjukkan tren yang stabil dan cenderung membaik.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebutkan bahwa ekonomi Indonesia tumbuh sebesar 5,61 persen pada kuartal I 2026. Angka tersebut melampaui sejumlah proyeksi lembaga internasional yang sebelumnya memperkirakan pertumbuhan berada di kisaran 5,2 persen.
“Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi kita tetap solid dan bahkan lebih tinggi dari ekspektasi berbagai pihak,” ujar Airlangga dalam keterangan resminya, dikutip situs presidenri.go.id.
Ia menambahkan bahwa capaian tersebut menempatkan Indonesia di posisi unggul dibandingkan beberapa negara besar lainnya. Menurutnya, hal ini mencerminkan daya tahan ekonomi domestik yang cukup kuat menghadapi dinamika global.
Dari sisi permintaan, konsumsi rumah tangga masih menjadi pendorong utama pertumbuhan. Selain itu, belanja pemerintah yang meningkat turut memberikan kontribusi signifikan terhadap aktivitas ekonomi nasional.
Kinerja sektor eksternal juga menunjukkan tren positif. Ekspor tetap terjaga seiring permintaan global yang mulai pulih, sementara impor meningkat sebagai indikasi aktivitas produksi dan konsumsi yang tumbuh.
Airlangga menjelaskan bahwa sejumlah sektor usaha mencatat pertumbuhan yang merata. “Industri pengolahan, perdagangan, transportasi, hingga sektor pertanian dan konstruksi semuanya menunjukkan kinerja yang cukup baik,” katanya.
Di sisi lain, indikator makroekonomi turut memperkuat optimisme. Inflasi tercatat terkendali di level 2,42 persen, lebih rendah dibanding periode sebelumnya, sehingga memberikan ruang bagi daya beli masyarakat untuk tetap terjaga.
Stabilitas sektor keuangan juga terlihat dari pertumbuhan kredit yang mencapai 9,49 persen. Sementara itu, dana pihak ketiga tumbuh 13,55 persen, mencerminkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap sistem perbankan.
Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai adanya tekanan dari arus modal keluar yang terjadi di pasar keuangan. Presiden Prabowo meminta agar otoritas terkait terus memperkuat koordinasi dalam menjaga stabilitas nilai tukar dan pasar keuangan.
Sebagai langkah antisipasi, pemerintah bersama Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan menyiapkan kebijakan lanjutan, termasuk penerapan aturan baru terkait devisa hasil ekspor sumber daya alam. Kebijakan tersebut diharapkan dapat memperkuat cadangan devisa sekaligus menjaga ketahanan ekonomi nasional ke depan.






