Keajaiban 30 Menit

Ilustrasi by Chaterine G Peter/RISKS.ID

Oleh: Joko Intarto
Diabetesi

Sehari kita diberi waktu 24 jam. Sekitar 9 jam habis untuk bekerja. Sekitar 7 jam untuk tidur. Masih tersisa 8 jam. Dari sisa 8 jam itu, coba jawab dengan jujur: berapa yang benar-benar Anda pakai untuk diri sendiri?

Bacaan Lainnya

Kalau dibagi sederhana, 6 jam untuk keluarga, maka setidaknya ada 2 jam untuk diri sendiri. Dua jam. Bukan waktu yang sedikit. Dari dua jam itu, bisakah kita “mengambil” 30 menit saja untuk bergerak?

Sayangnya, berdasarkan penelitian, kita sebagai orang Indonesia dikenal sebagai warga negara paling malas olahraga, khususnya olahraga jalan kaki. Indonesia menempati posisi pertama dengan rata-rata langkah harian terendah, yakni 3.513 langkah per hari.

Arab Saudi berada di posisi kedua dengan rata-rata 3.807 langkah per hari. Berikutnya negara tetangga: Malaysia. Negeri jiran ini juga masuk daftar dengan rata-rata 3.963 langkah per hari.

Padahal, menurut World Health Organization (WHO), seseorang butuh minimal 150 menit olahraga dalam seminggu untuk menjaga kesehatan. Itu artinya hanya sekitar 20–30 menit per hari.

Masalahnya bukan tidak punya waktu. Masalahnya: kita tidak mau meluangkan waktu. Padahal, hanya dalam 30 menit, dampaknya cukup signifikan. Apalagi kalau digunakan untuk bersenam, jogging dan bersepeda.

Senam
Senam (intensitas sedang) bisa membakar sekitar 120–200 kalori dan bisa membantu menurunkan gula darah sekitar 20–50 mg/dL

Jogging (lari ringan)
Jogging bisa membakar sekitar 200–350 kalori dan menurunkan gula darah sekitar 30–70 mg/dL

Bersepeda (santai–sedang)
Bersepeda bisa membakar sekitar 180–300 kalori dan menurunkan gula darah sekitar 25–60 mg/dL

Bagi penderita Diabetes Mellitus, angka-angka tersebut tidak bisa dibilang remeh. Turun 40-50mg/dL itu sungguh berarti untuk kesehatan mereka.

Mengapa olahraga bisa menurunkan gula darah? Berdasarkan riset medis, diketahui bahwa saat kita bergerak (senam, jogging, bersepeda), otot langsung “menyedot” gula dari darah untuk dijadikan energi, tanpa menunggu insulin.

Artinya, gula darah turun secara alami. Tubuh jadi lebih sensitif terhadap insulin. Risiko komplikasi bisa ditekan.

Saya punya seorang teman, sesama penderita diabetes di Semarang. Dia seorang dosen. Gelarnya profesor. Sibuk? Tentu saja.

Istrinya seorang perawat. Sudah berbagai cara dilakukan sang istri agar suaminya mau berolahraga. Dari mengajaknya jalan pagi, mengingatkan, bahkan “memaksa” dengan halus.

Hasilnya? Nol besar. Sang profesor tetap bandel. Ia percaya bahwa urusan gula darah bisa diselesaikan dengan obat dan suntik insulin. Karena itu, ia merasa tidak perlu berolahraga.

Sudah hampir setahun kami sering berbincang lewat video call. Setiap kali ngobrol, ceritanya sama: gula darahnya tidak makin menurun. Padahal obat yang dikonsumsi semakin banyak. Suntik insulin bahkan sampai 8 kali sehari. Tapi gula darah tetap tinggi.

Terakhir dia cek: 230 mg/dL. Itu dua pekan lalu.

Setelah percakapan terakhir, saya kirim pesan singkat: ”Saudaraku, kita punya waktu 24 jam. Jangan habiskan semuanya untuk orang lain. Sisakan untuk dirimu sendiri… walau hanya 30 menit saja. Gunakanlah untuk berolahraga. Untuk dirimu sendiri. Bukan untuk orang lain.

Kita sering merasa bangga dengan mengatakan bekerja keras. Lembur. Mengorbankan waktu. Semua demi keluarga. Tapi kita lupa menjaga “alat utama” untuk berjuang itu sendiri, yakni tubuh kita.

Kita kerja mati-matian untuk orang lain. Namun saat kita sakit, orang lain hanya bisa berkata: “Kasihan ya…”

Dan beban hidup kita? Mereka tidak akan ikut menanggung.

Maka, jika hari ini Anda masih punya 30 menit untuk scroll HP, membaca artikel ini, Anda sebenarnya punya 30 menit untuk menurunkan gula darah Anda sendiri.(jto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *