Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
Anda member BPJS Kesehatan? Coba cek: jangan-jangan ada hak anggota yang belum Anda gunakan, yakni program pengelolaan penyakit kronis diabetes melitus dan hipertensi.
Diabetes melitus dan hipertensi adalah dua penyakit kronis yang paling banyak dialami masyarakat Indonesia. Keduanya sering disebut -silent killer- karena datang tanpa gejala jelas, tapi diam-diam merusak pembuluh darah, jantung, ginjal, mata, hingga otak. Jika tidak dikendalikan, ujungnya bisa stroke, gagal ginjal cuci darah, serangan jantung, atau amputasi.
Data International Diabetes Federation (IDF) 2024 mencatat 20,4 juta orang dewasa Indonesia hidup dengan diabetes, atau 11,3 persen dari populasi dewasa. Angka ini menempatkan Indonesia di peringkat 5 dunia. Sementara itu, Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi hipertensi pada penduduk ≥18 tahun mencapai 34,11 persen.
Dengan jumlah penduduk dewasa ±185 juta, artinya penderita hipertensi diperkirakan lebih dari 63 juta orang.
Dua penyakit ini tidak bisa disembuhkan, tapi bisa dikendalikan. Kuncinya: deteksi dini dan pengelolaan rutin seumur hidup.
Prolanis: Jurus Pemerintah Tekan Komplikasi
Untuk menekan dampak lanjutan diabetes dan hipertensi, pemerintah melalui BPJS Kesehatan memperkenalkan *Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis)*.
Diluncurkan sejak 2015, Prolanis fokus mengelola 2 penyakit ini di Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP). Hingga Agustus 2025, sebanyak 4,8 juta peserta telah tergabung dalam Prolanis. Rinciannya: 3,3 juta peserta penderita hipertensi dan 2,1 juta peserta penderita diabetes.
Apa yang Didapat Peserta Prolanis? Gratis!
Para member Prolanis mendapatkan pelayanan di semua Faskes 1, yakni Puskesmas di seluruh Indonesia, berupa:
1. Konsultasi dokter rutin tiap bulan
2. Edukasi kesehatan & senam Prolanis bareng komunitas
3. Pelayanan obat bulanan
4. Pemeriksaan penunjang gratis sesuai jadwal: cek gula darah, tekanan darah, HbA1C tiap 6 bulan, kolesterol, fungsi ginjal, dan asam urat jika diperlukan. Semua ditanggung BPJS Kesehatan. Peserta tidak bayar sepeser pun.
Untung Dobel: Untuk Peserta dan Untuk Negara
Selain meringankan biaya bagi para penderita, layanan Prolanis sebenarnya juga menghemat biaya kesehatan yang harus ditanggung negara. Mencegah lebih murah daripada mengobati. Biaya cuci darah, operasi jantung, atau perawatan stroke bisa ratusan juta per orang. Dengan gula darah dan tensi terkendali, kualitas hidup terjaga dan beban BPJS berkurang.
Masih Banyak yang Belum Bergabung
Saat ini penderita diabetes ada ±20,4 juta orang dan penderita hipertensi tercatat lebih dari 63 juta orang jika mengacu prevalensi Riskesdas 2018.
Bila melihat data tersebut, masih banyak penderita yang belum bergabung sebagai peserta program Prolanis. Dari 20,4 juta penderita DM, baru 2,1 juta yang ikut Prolanis. Dari 63 juta penderita hipertensi, baru 3,3 juta yang aktif.
Cara Daftar Prolanis: Mudah & Cepat
Padahal Prolanis bisa diikuti secara mudah, dengan mendaftarkan diri di Puskesmas/Faskes 1 tempat Anda terdaftar BPJS Kesehatan. Syaratnya juga sederhana:
1. Peserta aktif BPJS Kesehatan
2. Terdiagnosis Diabetes Melitus Tipe 2 atau Hipertensi oleh dokter FKTP
3. Bersedia mengikuti kegiatan Prolanis secara rutin.
Cukup bawa kartu BPJS dan KTP, sampaikan ke petugas Puskesmas bahwa Anda ingin ikut Prolanis.
Jangan Tunggu Sakit, Cegah dari Sekarang
Bila Anda saat ini merasa sehat tetapi sudah berusia 50 tahun, atau punya riwayat keluarga DM/hipertensi, saya sarankan untuk bergabung ke Prolanis. Lakukan skrining di Puskesmas. Karena diabetes dan hipertensi tidak menunggu Anda merasa sakit dulu baru datang.
Prolanis bukan sekadar program ambil obat. Prolanis adalah sistem untuk menjaga Anda tetap sehat, produktif, dan mandiri seumur hidup. (jto)






