RISKS.ID – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) terus memperkuat hilirisasi minyak atsiri nasional melalui pengembangan Pusat Flavor and Fragrance (PFF) di Bali. Fasilitas tersebut disiapkan menjadi pusat inovasi, pelatihan, hingga inkubasi bisnis produk berbasis bahan alam.
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan Indonesia memiliki potensi besar dalam pengembangan industri flavor, fragrance, dan wellness karena didukung kekayaan biodiversitas serta melimpahnya komoditas minyak atsiri.
“Pengembangan PFF di Bali merupakan bagian dari upaya pemerintah memperkuat hilirisasi minyak atsiri nasional agar tidak diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi seperti parfum, aromaterapi, produk spa, kosmetik, hingga produk rumah tangga berbasis bahan alam,” ujar Agus dalam keterangannya di Jakarta, Minggu (10/5).
Menurut dia, Bali memiliki peluang pasar yang sangat besar untuk pengembangan industri hilir minyak atsiri. Tingginya aktivitas pariwisata dan berkembangnya industri spa serta wellness menjadi faktor pendukung utama.
Selain itu, tren gaya hidup sehat juga mendorong peningkatan permintaan produk aromaterapi, minyak spa, parfum, lilin aromaterapi, hingga produk perawatan tubuh berbahan alami.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Putu Juli Ardika menjelaskan pengembangan PFF diarahkan untuk memperkuat ekosistem industri flavor dan fragrance nasional melalui peningkatan kompetensi sumber daya manusia (SDM), pengembangan inovasi produk, dan penguatan jejaring industri.
“PFF Bali tidak hanya menjadi pusat pelatihan, tetapi juga diharapkan mampu menjadi katalis pengembangan industri flavor dan fragrance nasional berbasis minyak atsiri. Melalui fasilitas ini, kami mengupayakan lahirnya produk-produk inovatif yang memiliki daya saing di pasar domestik maupun global,” kata dia.
Sejak dikembangkan, PFF telah menjalankan berbagai program pengembangan kapasitas dan pelatihan berbasis minyak atsiri.
Salah satu program strategis yang telah dilaksanakan adalah pelatihan sertifikasi peracikan minyak spa berbasis minyak atsiri bagi 40 pekerja migran Indonesia bekerja sama dengan Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI).
Menurut Putu, pelatihan tersebut menjadi bagian dari penguatan kompetensi tenaga kerja sektor spa dan wellness, termasuk untuk kebutuhan penempatan kerja ke Maldives.
Selain itu, PFF juga telah menggelar pelatihan nonsertifikasi peracikan aromaterapi atsiri bagi internal Balai Diklat Industri (BDI) Denpasar dan masyarakat umum. Program lainnya berupa mini class Create Your Scent bersama Spa Factory Bali hingga penyusunan kurikulum peracikan parfum berbahan minyak atsiri.
Pada 2026, pengembangan PFF akan terus diperkuat melalui berbagai program pelatihan berbasis praktik guna mendukung industri hilir minyak atsiri dan ekonomi kreatif masyarakat.
Salah satu program yang telah dilaksanakan yakni pelatihan pengolahan minyak jelantah menjadi produk sabun hasil kerja sama BDI Denpasar dan Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Udayana pada 13 Maret 2026 dengan peserta sebanyak 22 orang.
Selanjutnya, PFF Bali dijadwalkan menggelar pelatihan peracikan parfum pada 29 Mei 2026. Kemudian pelatihan pembuatan sabun dan lilin aromaterapi akan dilaksanakan pada 29 Juni 2026 untuk mendukung pengembangan produk wellness berbasis bahan alam.
Tidak hanya itu, pada 7 Agustus 2026, PFF juga direncanakan menyelenggarakan pelatihan pembuatan dupa aromaterapi guna mendukung diversifikasi produk hilir minyak atsiri bernilai tambah.
Putu menilai pengembangan industri flavor dan fragrance nasional membutuhkan sinergi kuat antara pemerintah, akademisi, asosiasi, dan pelaku usaha agar tercipta rantai nilai industri yang berkelanjutan.
“Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu pusat pengembangan produk flavor, fragrance, dan wellness berbasis bahan alam di tingkat global. Karena itu, penguatan hilirisasi dan pengembangan SDM industri harus terus dipercepat,” pungkas dia.






