GULA NGUMPET

Foto: Kompas/Kemenkes

Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi

Kampanye untuk tidak mengonsumsi makanan/minuman dalam kemasan yang mengandung gula terlalu tinggi sebenarnya sudah gencar dilakukan. Iklan layanan masyarakat muncul di televisi, media sosial, hingga fasilitas kesehatan. Namun faktanya, tingkat konsumsi minuman manis dan makanan olahan di masyarakat terlihat belum banyak berubah.

Bacaan Lainnya

Pertanyaannya, apakah masyarakat memang sulit mengetahui kandungan gula pada makanan dan minuman kemasan?

Jawabannya: Ya, sering kali memang tidak mudah.
Banyak konsumen hanya melihat tampilan depan kemasan yang penuh slogan menarik seperti “less sugar”, “real fruit”, “healthy”, “low fat”, atau “tanpa gula tambahan”.

Padahal informasi paling penting justru tersembunyi di bagian belakang kemasan, dalam tulisan kecil yang jarang dibaca secara teliti.

Di sisi lain, pengawasan yang dilakukan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga menunjukkan masih banyak persoalan dalam produk pangan olahan yang beredar di masyarakat.

BPOM dalam berbagai pengawasan menemukan sejumlah produk makanan dan minuman yang:
• mengandung gula sangat tinggi,
• menggunakan pemanis buatan secara berlebihan,
• mencantumkan label yang berpotensi menyesatkan,
• hingga produk ilegal tanpa izin edar yang kandungannya tidak jelas.

Temuan BPOM secara umum dapat dikelompokkan menjadi beberapa kategori.

Pertama: Produk dengan Kandungan Gula Sangat Tinggi
Kelompok ini paling banyak ditemukan pada:
• minuman teh kemasan,
• kopi susu siap minum,
• minuman rasa buah,
• minuman bersoda,
• yogurt rasa,
• hingga sereal sarapan.

Masalahnya, banyak konsumen tidak sadar bahwa satu botol minuman bisa mengandung gula setara 6–10 sendok teh.

Padahal produk tersebut sering dikonsumsi dalam sekali minum.

Kedua: Produk dengan Pemanis Buatan
BPOM juga menemukan banyak produk yang menggunakan:
• aspartam,
• sakarin,
• siklamat,
• sorbitol,
• sukralosa,
• dan berbagai pemanis buatan lainnya.

Karena itu BPOM mewajibkan pencantuman label tertentu pada produk yang memakai pemanis buatan, termasuk peringatan khusus untuk kelompok tertentu.

Masalahnya, banyak masyarakat langsung menganggap produk “sugar free” otomatis aman. Padahal belum tentu demikian. Beberapa produk memang rendah gula, tetapi tetap tinggi karbohidrat atau sangat manis sehingga mendorong konsumsi berlebihan.

Ketiga: Produk dengan Label Menyesatkan
Ini yang sering membuat konsumen terkecoh.
Ada produk yang menampilkan slogan:
• “alami”,
• “healthy”,
• “real fruit”,
• “diabetes friendly”,
• atau “tanpa gula tambahan”.

Tetapi setelah dibaca lebih teliti, kandungan karbohidrat dan gulanya ternyata tetap tinggi.

Keempat: Produk Ilegal atau Tanpa Izin Edar
BPOM juga masih menemukan produk makanan, minuman, maupun herbal tanpa izin edar resmi. Pada kelompok ini, konsumen tidak benar-benar tahu apa kandungan sebenarnya di dalam produk tersebut.

Yang menarik, di balik berbagai temuan itu, muncul fakta lain yang jarang dipahami masyarakat. Beberapa produsen ternyata menggunakan “trik label” dengan memecah kandungan gula menjadi berbagai nama berbeda agar tidak terlihat mendominasi dalam daftar komposisi.

Mengapa dilakukan demikian?

Karena aturan pencantuman komposisi mewajibkan bahan ditulis berdasarkan jumlah terbanyak. Jika hanya memakai satu istilah “gula”, maka kata gula akan muncul di urutan paling depan dan langsung terlihat tinggi.

Akhirnya gula “dipecah” menjadi beberapa nama. Akibatnya, konsumen sering tidak sadar bahwa sebenarnya produk tersebut tetap mengandung gula dalam jumlah besar.

Berikut beberapa nama lain gula yang sering muncul pada label makanan dan minuman kemasan:
Nama pada Label Jenis
Sukrosa gula pasir
Fruktosa gula buah
Glukosa gula sederhana
Maltosa gula malt
Dekstrosa glukosa
Sirup jagung pemanis cair
HFCS (High Fructose Corn Syrup) sirup jagung tinggi fruktosa
Molase tetes tebu
Maltodekstrin karbohidrat cepat serap
Gula invert campuran glukosa-fruktosa
Karamel turunan gula

Bahkan ada produk yang mencantumkan tiga sampai lima istilah gula sekaligus dalam satu kemasan.

Karena itu, memahami kebutuhan gula harian menjadi penting agar masyarakat punya gambaran seberapa besar konsumsi yang masih dianggap aman.

Secara sederhana, kebutuhan gula harian dapat dibagi menjadi tiga kelompok.Kelompok Batas
Gula Harian Ekuivalen
Anak-anak sekitar 25 gram ± 6 sendok teh gula
Remaja sekitar 40 gram ± 1 gelas besar minuman boba
Dewasa sekitar 50 gram ± 1 botol teh manis kemasan + 1 potong kue

Sebagai gambaran:
• satu sendok teh gula sekitar 4 gram,
• satu botol teh kemasan bisa mengandung 20–35 gram gula,
• satu gelas kopi susu kekinian dapat mencapai 40–60 gram gula,
• sementara satu minuman boba ukuran besar kadang melebihi kebutuhan gula harian orang dewasa.

Itulah sebabnya banyak orang merasa:
“Saya tidak makan gula terlalu banyak.”

Padahal gula masuk melalui berbagai minuman dan makanan ringan yang dikonsumsi tanpa sadar.

Lalu bagaimana cara membaca kandungan gula yang benar?
Pertama, jangan langsung percaya pada tulisan besar di bagian depan kemasan.
Fokus utama justru ada pada:
• Informasi Nilai Gizi,
• daftar komposisi,
• dan ukuran sajian.

Kedua, perhatikan bagian “Gula Total” atau “Total Sugar”.
Biasanya ditulis dalam satuan gram.
Misalnya tertulis:
• Gula total: 24 gram.
Artinya produk tersebut mengandung sekitar 6 sendok teh gula.

Ketiga, perhatikan ukuran sajian.
Ini yang paling sering mengecoh.
Misalnya:
• gula total 12 gram,
• tetapi sajian per kemasan 3.
Artinya satu kemasan penuh sebenarnya mengandung 36 gram gula.

Keempat, baca daftar komposisi dengan teliti.
Jika di urutan awal muncul:
• gula,
• sirup glukosa,
• fruktosa,
• maltodekstrin,
• atau sirup jagung,
berarti produk tersebut memiliki kandungan gula cukup tinggi.

Kelima, jangan hanya terpaku pada kata “gula”.
Penderita diabetes maupun masyarakat umum juga perlu memperhatikan total karbohidrat karena pada akhirnya sebagian besar karbohidrat sederhana akan berubah menjadi glukosa di dalam tubuh.

Pada akhirnya, konsumen modern memang dituntut lebih cerdas. Kemasan yang menarik belum tentu sehat. Tulisan “alami” belum tentu rendah gula. Label “tanpa gula tambahan” belum tentu aman dikonsumsi berlebihan.

Karena itu, membaca label dengan teliti bukan lagi sekadar kebiasaan, melainkan bagian dari upaya menjaga kesehatan keluarga di tengah banjir makanan dan minuman olahan yang semakin sulit dihindari.(jto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *