RISKS.ID – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,61 persen pada triwulan I-2026 menjadi sinyal kuat bahwa daya beli masyarakat masih tetap terjaga.
Dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (14/5), Purbaya mengatakan konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
“Kontributor terbesar pertumbuhan ekonomi adalah konsumsi rumah tangga. Hal ini menunjukkan bahwa daya beli masyarakat tetap kuat dan tumbuh signifikan,” ujar dia.
Menurut Purbaya, pemahaman terhadap struktur pertumbuhan ekonomi perlu dilihat dari kontribusi masing-masing komponen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Dia menjelaskan, kontribusi pertumbuhan dihitung dari pertumbuhan setiap komponen yang dikalikan dengan pangsanya terhadap perekonomian nasional. Dari perhitungan tersebut, konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Kontribusi pertumbuhan dihitung dari pertumbuhan masing-masing komponen dikalikan dengan pangsanya terhadap perekonomian. Dari perhitungan tersebut, konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.
Berdasarkan data, konsumsi rumah tangga memberikan kontribusi sebesar 2,94 persen terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Sementara itu, Badan Pusat Statistik mencatat kinerja konsumsi rumah tangga terutama didorong meningkatnya mobilitas masyarakat selama momentum libur nasional dan hari besar keagamaan seperti Nyepi dan Idul Fitri.
Selain itu, berbagai kebijakan pengendalian inflasi dan stimulus pemerintah juga turut menopang konsumsi masyarakat. Kebijakan tersebut antara lain diskon tiket transportasi, pemberian THR atau gaji ke-14, serta penetapan BI rate di level 4,75 persen.
Tak hanya konsumsi rumah tangga, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) atau investasi juga menyumbang 1,79 persen terhadap pertumbuhan ekonomi. Kontribusi tersebut ditopang investasi pemerintah melalui pembangunan prioritas nasional dan investasi swasta.
Di sisi lain, belanja pemerintah memberikan kontribusi sebesar 1,26 persen terhadap pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026, dengan pertumbuhan mencapai 21,81 persen.
Purbaya menjelaskan pertumbuhan belanja pemerintah pada awal tahun merupakan bagian dari strategi percepatan belanja negara agar dampak ekonomi dapat dirasakan lebih merata sepanjang tahun.
Menurut dia, pola belanja pemerintah yang sebelumnya cenderung menumpuk pada akhir tahun kini diarahkan agar terealisasi lebih awal sehingga mampu mendukung aktivitas ekonomi secara optimal.
Pemerintah, lanjut dia, juga terus memperkuat sinergi kebijakan fiskal dan moneter guna menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat daya beli masyarakat.
Langkah tersebut dilakukan melalui percepatan realisasi belanja kementerian/lembaga serta pelaksanaan berbagai program prioritas nasional sejak awal tahun.






