Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
BEBERAPA waktu belakangan ini, banyak orang membicarakan tentang autophagy sebagai metode regenerasi sel yang dilakukan dengan cara berpuasa. Istilah ini mendadak populer di media sosial, seminar kesehatan, hingga grup WhatsApp keluarga. Ada yang menyebutnya sebagai “tombol reset tubuh”, ada pula yang menganggapnya sebagai rahasia umur panjang.
Mengenal Autophagy
Autophagy berasal dari bahasa Yunani: auto berarti diri sendiri dan phagy berarti memakan. Secara sederhana, autophagy adalah proses alami tubuh untuk membersihkan sel-sel yang rusak, tua, atau tidak lagi berfungsi optimal, lalu mendaur ulang bagian-bagian yang masih bermanfaat.
Bayangkan seperti kegiatan bersih-bersih rumah. Barang rusak dibuang, barang lama diperbaiki, sementara yang masih berguna dimanfaatkan kembali. Tubuh manusia ternyata juga memiliki mekanisme “bersih-bersih” seperti itu.
Penelitian tentang autophagy berkembang pesat setelah ilmuwan Jepang Yoshinori Ohsumi berhasil menjelaskan mekanisme autophagy melalui penelitiannya menggunakan sel ragi pada tahun 1990-an.
Atas temuannya tersebut, Ohsumi menerima Penghargaan Nobel Fisiologi atau Kedokteran pada tahun 2016. Dunia medis kemudian semakin tertarik meneliti hubungan autophagy dengan: proses penuaan, metabolisme, diabetes, penyakit degeneratif, hingga sistem kekebalan tubuh.
Salah satu pemicu autophagy yang paling banyak diteliti adalah puasa atau pembatasan makan dalam periode tertentu. Namun para ahli juga mengingatkan bahwa autophagy bukan “tombol sulap”. Puasa tetap harus dilakukan secara sehat dan sesuai kondisi tubuh masing-masing.
Puasa dalam Perspektif Islam dan Ilmu Kesehatan
Dalam ajaran Islam, puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Puasa merupakan latihan pengendalian diri, disiplin, kesabaran, sekaligus sarana memperbaiki kualitas spiritual dan kesehatan.
Menariknya, ilmu kesehatan modern justru menemukan banyak manfaat biologis dari praktik puasa yang sudah diajarkan agama sejak ribuan tahun lalu.
Secara medis, puasa memberi kesempatan tubuh untuk beristirahat dari aktivitas metabolisme yang berlangsung hampir tanpa henti. Pada pola hidup modern, banyak orang makan terus-menerus: sarapan, camilan, kopi manis, gorengan, makan siang, makan malam, bahkan ngemil tengah malam. Tubuh akhirnya bekerja tanpa jeda.
Nah, puasa membantu menurunkan kadar insulin, menggunakan cadangan energi,
memperbaiki sensitivitas insulin, mengontrol berat badan, serta memberi waktu perbaikan metabolisme.
Bagi penderita Diabetes Mellitus, kondisi ini sebenarnya bisa menjadi peluang memperbaiki pola hidup. Tetapi tentu saja harus dilakukan dengan pengawasan dan persiapan yang baik.
Bagaimana Diabetesi Berpuasa dengan Aman?
Banyak diabetesi takut berpuasa karena khawatir gula darah turun drastis atau justru melonjak tinggi. Kekhawatiran itu memang masuk akal. Tetapi bukan berarti penderita diabetes otomatis tidak boleh berpuasa. Yang paling penting adalah memastikan kondisi tubuh cukup stabil sebelum menjalankan puasa.
Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:
1. Pastikan gula darah relatif terkendali. Jika gula darah sering terlalu tinggi atau terlalu rendah, puasa sebaiknya ditunda sampai kondisi lebih stabil.
2. Kenali tanda bahaya. Bila muncul gemetar, keringat dingin, pusing, lemas, jantung berdebar atau pandangan kabur,
bisa jadi gula darah turun terlalu rendah dan puasa perlu segera dibatalkan.
3. Jangan “balas dendam” saat berbuka. Ini yang paling sering terjadi. Seharian berhasil menahan lapar, lalu meja makan berubah menjadi arena festival kolak, es buah, gorengan, teh manis, ketupat, opor, kue manis. Akibatnya, gula darah langsung melonjak tinggi. Padahal tujuan puasa justru melatih pengendalian diri, termasuk pengendalian pola makan.
4. Sahur sangat penting. Bagi diabetesi, sahur membantu menjaga kestabilan energi dan gula darah selama puasa. Untuk sahur, pilih makanan yang tinggi serat, cukup protein, karbohidrat kompleks, serta cukup cairan.
5. Konsultasi obat dan insulin. Bagi pengguna obat diabetes atau insulin, jadwal dan dosis sering perlu disesuaikan selama puasa. Karena itu konsultasi dengan tenaga medis tetap penting.
Intermittent Fasting sebagai Latihan Menuju Puasa
Sebagian diabetesi memilih melakukan latihan sebelum memasuki puasa penuh, salah satunya melalui metode Intermittent Fasting. Metode ini dilakukan dengan mengatur jeda makan secara bertahap, misalnya:
8:16,
10:14,
12:12,
14:10.
Tujuannya bukan sekadar menurunkan berat badan, tetapi membantu tubuh beradaptasi terhadap perubahan pola makan dan jam makan. Dengan latihan bertahap, penderita diabetes dapat memantau respons gula darah, kekuatan fisik, rasa lapar, kualitas tidur, hingga kestabilan energi harian.
Pendekatan seperti ini sering lebih aman dibanding langsung menjalani puasa penuh tanpa persiapan. Tubuh diberi kesempatan belajar berpindah dari “mode terus menerima makanan” menuju “mode menggunakan cadangan energi”.
Namun perlu diingat, puasa bukan lomba kuat-kuatan. Bila tubuh memberi sinyal bahaya, berbuka justru menjadi keputusan yang bijak. Dalam ajaran agama maupun ilmu kesehatan, menjaga keselamatan tubuh tetap menjadi prioritas.
Puasa sebagai Jalan Sehat
Puasa bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga momentum memperbaiki pola hidup. Bagi diabetesi, puasa dapat menjadi kesempatan untuk belajar lebih disiplin mengatur makan, mengendalikan gula darah, menjaga berat badan, dan melatih pengendalian diri.
Tubuh manusia sesungguhnya memiliki kemampuan luar biasa untuk memperbaiki diri. Tugas kita adalah membantu tubuh bekerja lebih baik dengan pola hidup yang benar.
Karena itu, jangan takut berpuasa hanya karena menyandang diabetes. Jalani dengan ilmu, persiapan, dan kesadaran menjaga kesehatan.
Dengan puasa yang dilakukan secara benar, seorang diabetesi bukan hanya menjalankan ajaran agama, tetapi juga sedang belajar mencintai tubuhnya sendiri.(jto)






