RISKS.ID – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan tingginya permintaan dolar Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu faktor utama yang menekan nilai tukar rupiah hingga menembus level Rp17.700 per dolar AS.
Airlangga menyampaikan hal tersebut di kantornya, Jakarta, Selasa (20/5/2026). Menurut dia, faktor global saat ini memberi tekanan cukup besar terhadap pergerakan mata uang Garuda.
“Faktor global juga sangat mempengaruhi dan seperti yang saya sampaikan selama bulan ibadah haji ini kan demand terhadap dolar juga tinggi,” ujar Airlangga.
Dia menjelaskan, kebutuhan dolar AS meningkat seiring periode pembayaran dividen perusahaan usai musim laporan keuangan tahunan. Permintaan valas yang tinggi itu diperburuk oleh lonjakan harga minyak dunia akibat konflik antara AS dan Iran yang belum mereda.
Kombinasi kedua faktor tersebut dinilai menjadi tekanan eksternal yang cukup kuat terhadap kurs rupiah.
“Sesudah laporan keuangan, pembayaran dividen itu kebanyakan juga di bulan-bulan ini. Jadi memang demand-nya sedang tinggi. Plus harga minyak masih naik,” jelasnya.
Meski demikian, pemerintah berharap nilai tukar rupiah bisa kembali menguat pada semester II 2026.
“Mudah-mudahan semester II bisa lebih baik lagi,” tambah Airlangga.
Berdasarkan data perdagangan Selasa (20/5/2026), nilai tukar rupiah ditutup melemah 38 poin atau 0,22 persen menjadi Rp17.706 per dolar AS. Sebelumnya, rupiah berada di level Rp17.668 per dolar AS.
Sementara itu, analis Bank Woori Saudara Rully Nova menilai pelemahan rupiah juga dipengaruhi kenaikan harga minyak dunia yang masih bertahan di atas 100 dolar AS per barel.
Selain faktor eksternal, pasar juga disebut masih menunggu hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (21/5/2026).
“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi faktor domestik menanti hasil RDG BI yang diumumkan besok dan ruang fiskal yang masih terbatas akibat subsidi membengkak seiring tren kenaikan harga minyak dunia masih di atas 100 dolar,” ujar Rully.






