Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu di Kulon Progo Siasati Ukuran agar Pelanggan Tak Kabur

perajin tahu
Ilustrasi by RISKS.ID

RISKS.ID – Perajin tahu di Kalurahan Tuksono, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mulai memutar strategi menghadapi kenaikan harga kedelai yang kini menyentuh Rp10.800 hingga Rp11.000 per kilogram. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menyesuaikan ukuran tahu menjadi sedikit lebih ekonomis tanpa menaikkan harga jual.

Wakil Ketua usaha Tahu Nunggal Roso, Mubari, mengatakan tekanan akibat lonjakan harga bahan baku semakin terasa bagi pelaku usaha tahu rumahan. Menurut dia, kedelai menjadi komponen biaya terbesar dalam proses produksi.

Bacaan Lainnya

“Senin (25/5), kami memilih menyiasati ukuran dan ketebalan tahu dengan mengurangi beberapa milimeter daripada harus menaikkan harga jual. Cara ini lebih bisa diterima pelanggan,” ujar Mubari di Kulon Progo.

Dia mengatakan langkah tersebut dilakukan agar pelanggan tetap bertahan, terutama pedagang pasar rakyat dan konsumen menengah ke bawah di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Selain menyesuaikan ukuran tahu, para perajin juga memperketat efisiensi produksi. Pengawasan proses pembuatan dilakukan lebih ketat guna menekan angka kegagalan produksi.

“Setiap butir kedelai harus dimasak maksimal. Kami juga memaksimalkan efisiensi bahan bakar saat perebusan tahu,” katanya.

Mubari menjelaskan kenaikan harga kedelai berdampak langsung pada menyusutnya margin keuntungan. Sebab, biaya bahan baku mencapai sekitar 60 hingga 70 persen dari total biaya produksi.

Ketika harga kedelai naik, biaya operasional otomatis membengkak. Di sisi lain, perajin tidak leluasa menaikkan harga jual karena khawatir pelanggan beralih ke produk lain atau mengurangi pembelian.

“Akibatnya keuntungan kami terpangkas jauh,” ujarnya.

Dia menambahkan para perajin kini harus melakukan pengelolaan arus kas secara ketat. Modal kerja untuk membeli kedelai dalam jumlah yang sama kini jauh lebih besar dibanding sebelumnya.

“Kami harus memutar otak agar arus kas harian tetap aman untuk membayar tenaga kerja dan biaya lain seperti kayu bakar, gas, serta plastik kemasan,” katanya.

Untuk menambah pemasukan, para perajin juga memanfaatkan produk sampingan tahu. Ampas tahu dijual sebagai pakan ternak atau diolah kembali menjadi tempe gembus.

Menurut Mubari, langkah tersebut cukup membantu menutup sebagian biaya operasional.

Meski ukuran tahu sedikit disesuaikan, dia memastikan kualitas produk tetap dijaga. Rasa, tekstur, dan kebersihan tahu tetap menjadi prioritas utama demi menjaga loyalitas pelanggan.

“Kepercayaan pelanggan adalah modal terbesar bagi kami untuk bertahan di masa sulit seperti sekarang,” tuturnya.

Sementara itu, perajin Tahu Nunggal Roso lainnya, Suhadi, berharap pemerintah turun tangan menstabilkan harga kedelai di tingkat lokal.

Dia menilai bantuan subsidi atau jalur distribusi yang lebih pendek akan sangat membantu pelaku usaha kecil agar tetap bertahan.

“Perajin skala rumahan seperti kami sangat membutuhkan dukungan supaya tetap bisa menyediakan sumber protein murah bagi masyarakat,” katanya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *