RISKS.ID – Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada awal perdagangan Kamis (13/8/2026). Mata uang Indonesia dibuka pada level Rp17.879 per dolar AS, melemah tipis 2 poin atau 0,01% dibandingkan posisi penutupan sehari sebelumnya.
Tekanan terhadap rupiah terjadi ketika dolar AS memperoleh momentum setelah pasar mencermati perkembangan inflasi Amerika Serikat. Data harga konsumen Juli menjadi salah satu indikator yang diperhatikan investor untuk membaca arah kebijakan moneter bank sentral AS.
Indeks dolar AS tercatat naik 0,17% ke level 99,98. Pergerakan tersebut turut menekan sejumlah mata uang utama. Euro melemah 0,14% menjadi US$1,1524 per euro, sedangkan yen Jepang turun 0,1% ke posisi 159,45 per dolar AS.
Kepala Strategi Pasar Bannockburn Global Forex Marc Chandler menilai pergerakan dolar masih menunjukkan ketahanan meski sebelumnya pasar memperkirakan mata uang tersebut akan melemah setelah sejumlah data ekonomi AS menunjukkan perlambatan.
“Saya sempat berpikir bahwa setelah data tenaga kerja yang lemah pada hari Jumat, dolar akan tetap lemah karena adanya ekspektasi angka CPI yang rendah,” kata Chandler.
Data menunjukkan inflasi konsumen AS meningkat 3,4% secara tahunan pada Juli 2026. Angka tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan 3,5% pada Juni. Sementara inflasi inti tercatat 2,5%, turun dari 2,6% pada bulan sebelumnya.
Selain faktor inflasi, perhatian investor juga tertuju pada pasar energi. Harga minyak dunia sempat meningkat seiring munculnya kekhawatiran terkait aktivitas pelayaran di kawasan Selat Hormuz.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi sentimen terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Pasar kini mencermati kombinasi perkembangan inflasi AS, arah kebijakan suku bunga, serta pergerakan harga komoditas untuk menentukan posisi investasi berikutnya.
Dengan tekanan eksternal yang masih berlangsung, pergerakan rupiah pada perdagangan selanjutnya akan sangat dipengaruhi sentimen dolar AS dan perkembangan pasar global.






