NOVEL HITAM DAN PUTIH: Cap Go Meh (Bagian-2)

novel hitam dan putih
Ilustrasi by Chaterine G Peter/RISKS.ID

SEJAK sore hujan di depan klenteng itu, ada sesuatu yang berubah dalam hidup Arga.

Bukan perubahan besar yang langsung terasa.

Bacaan Lainnya

Hanya hal-hal kecil.

Ia jadi lebih sering melamun saat menyablon poster atau banner di belakang rumah. Salah menghitung pesanan. Terlalu lama menatap hujan dari jendela bengkel sablon milik ayahnya di Sukorame .

Dan yang paling membuatnya kesal: ia mulai hafal jalan-jalan kecil di pecinan Kediri.

Padahal dulu kawasan itu hanyalah tempat mengantar banner dan stiker toko.

Sekarang rasanya berbeda.

Seolah ada sesuatu yang tertinggal di sana.

Atau seseorang.

“Ga!”

Suara Pak Sastro membuat Arga tersentak.

Tinta sablon hitam di tangannya hampir tumpah.

“Pikiranmu ke mana?” tanya ayahnya sambil duduk di kursi kayu tua.

Pria lima puluh tahun itu tampak lebih kurus sejak sakit paru-paru menyerangnya beberapa bulan lalu. Tetapi matanya masih tajam dan hangat seperti biasa.

“Enggak ke mana-mana.”

“Kalau suka sama anak orang, bilang aja.”

Arga langsung batuk.

“Apaan sih, Pak.”

Pak Sastro tertawa kecil sambil menyalakan rokok kretek. Sepertinya, Pak Sastro tidak peduli dengan penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

Berbeda dengan Arga, Pak Sastro penyuka Gudang Garam Merah, rokok tanpa filter.

“Asap rokok dan jatuh cinta itu sama.”

“Apa?”

“Sama-sama gampang ketahuan.”

Arga mendengkus malas, tetapi pipinya sedikit panas.

Ia kembali menarik rakel sablon di atas kain sambil mencoba mengalihkan pikiran.

Namun wajah gadis itu terus muncul di kepalanya.

Mata teduh.

Payung putih.

Dan suara lembut yang berkata:

“Kita ketemu lagi, Ga.”

Masalahnya, mereka belum benar-benar bertemu lagi.

Sudah enam hari berlalu sejak malam hujan itu.

Arga beberapa kali sengaja lewat pecinan. Kadang sore, kadang malam. Ia bahkan sempat membeli bakpao yang sebenarnya tidak terlalu ia suka.

Dia melakukan itu hanya supaya punya alasan berhenti lebih lama di sana.

Tetapi gadis itu tidak pernah terlihat.

Dan entah kenapa, kehilangan seseorang yang bahkan belum benar-benar dikenal terasa lebih menyebalkan daripada patah hati biasa.

Malam Cap Go Meh akhirnya tiba.

Seluruh pecinan Kediri berubah seperti dunia lain.

Jalanan penuh lampion merah yang digantung berderet dari ujung gang ke ujung lain. Cahaya emas dari lampu-lampu toko memantul di aspal basah sisa hujan sore tadi. Musik Mandarin lawas mengalun dari pengeras suara tua di depan toko obat Cina.

Orang-orang memenuhi jalan.

Anak-anak kecil berlarian membawa kembang api.

Ibu-ibu memakai cheongsam merah marun.

Pria-pria tua duduk di depan ruko sambil bermain xiangqi dan minum teh panas.

Aroma makanan bercampur di udara:

bakmi goreng,

cakwe,

bakpao,

dan asap dupa dari klenteng utama.

“Buset… rame banget,” gumam Bimo, teman Arga.

Ia berjalan di samping Arga sambil menggigit cakwe panas sampai mulutnya kepedasan sendiri.

“Kamu yakin kita enggak salah tempat?”

Arga memandang sekeliling sambil memasukkan tangan ke saku jaket jinsnya.

“Namanya juga Cap Go Meh.”

“Iya, tapi biasanya kamu malas ke tempat rame.”

Arga tidak menjawab.

Bimo melirik curiga.

“Anjing… jangan-jangan gara-gara cewek?”

“Mulutmu enggak bisa disekolahin ya?”

Bimo tertawa keras.

“Fix. Jatuh cinta.”

Arga mendecih malas lalu berjalan lebih cepat.

Tetapi diam-diam ia memang mencari seseorang.

Matanya terus menyapu keramaian.

Tangga klenteng.

Deretan toko.

Kerumunan orang.

Mana tahu ia datang.

Di depan klenteng utama, pertunjukan barongsai baru dimulai.

Suara tambur menggema keras.

Dug..dug..dug dug dug.

Kepala naga merah bergerak lincah di atas tiang-tiang besi. Orang-orang bertepuk tangan dan bersorak setiap kali pemain barongsai melompat tinggi.

Lampion-lampion merah bergoyang tertiup angin malam.

Dan di tengah keramaian itulah Arga melihatnya.

Gadis yang dia cari.

Livia Tan.

Ia berdiri di sisi tangga klenteng sambil memegang kamera kecil silver di tangannya.

Malam itu Livia memakai sweater putih tulang dengan rok hitam panjang di bawah lutut. Rambut hitamnya dibiarkan terurai jatuh di bahu. Di bawah cahaya lampion, kulitnya terlihat pucat hangat seperti porselen.

Tetapi bukan itu yang membuat Arga terpaku.

Melainkan caranya memandang keramaian.

Livia terlihat ada di tengah pesta, namun sekaligus jauh dari semuanya.

Seolah tubuhnya berada di sana, tetapi pikirannya entah ke mana.

Lalu Livia menoleh.

Dan langsung menemukan Arga di tengah ratusan orang.

Matanya sedikit membesar. Seolah tak percaya melihat Arga.

Kemudian perlahan ia tersenyum.

Senyum kecil yang entah kenapa langsung membuat dada Arga terasa plong.

“Kamu datang juga ternyata.”

Suara itu hampir tenggelam oleh suara tambur.

Arga mendekat sambil berusaha terlihat santai.

“Ya… siapa tahu ada yang lagi butuh korek.”

Livia tertawa kecil.

Dan Arga kembali merasa: suara tawa itu terlalu berbahaya untuk jantungnya.

“Eh iya, namaku Livia, lengkapnya Livia Tan.”

Arga menyambut tangan Livia.

“Kamu sendirian?” tanya Arga.

“Enggak. Papa sama Mama di dalam klenteng.”

Livia menunjuk ke arah altar utama.

“Kakakmu?”

“Sibuk ngawasin toko.”

“Ngeri banget ngomongnya.”

“Kak Kevin memang begitu.”

Ada nada lelah di balik candanya.

Untuk sesaat, Arga ingin bertanya lebih jauh.

Tetapi ia belum cukup dekat untuk masuk ke hidupnya sedalam itu.

Belum.

“Foto-foto?” tanya Arga menunjuk kamera kecil di tangan Livia.

Livia mengangguk.

“Aku suka nyimpen momen.”

“Momen apa?”

“Hal-hal kecil yang biasanya dilupakan orang.”

Arga memperhatikan wajahnya beberapa detik.

Lalu berkata pelan,

“Kayaknya kamu orang yang susah lupa.”

Livia terdiam sebentar.

Tatapannya berubah sedikit lembut.

“Dan kamu kayak orang yang terlalu gampang diingat.”

Jantung Arga langsung salah detak.

Untung suara tambur kembali menggema keras.

Kalau tidak, mungkin Livia bisa mendengar detak jantungnya dari jarak satu meter.

Mereka berjalan meninggalkan keramaian utama.

Bimo yang sadar dirinya mulai menjadi obat nyamuk memilih menghilang entah ke mana sambil memberi kode muka menyebalkan pada Arga.

Lampion-lampion merah menggantung rendah di sepanjang gang.

Cahaya hangatnya membuat malam terasa seperti potongan film lama.

Livia berjalan pelan di samping Arga.

Sesekali memotret:

anak kecil tertawa,

penjual bakpao,

lelaki tua bermain kartu,

atau hujan tipis yang mulai turun lagi.

“Kamu suka hujan ya?” tanya Arga.

“Suka.”

“Kenapa?”

Livia berpikir sebentar.

“Hujan bikin kota kelihatan lebih jujur.”

Arga tertawa kecil.

“Itu jawaban paling aneh yang pernah aku dengar.”

“Ya memang aneh.”

“Tapi aku suka.”

Livia menoleh.

“Apanya?”

“Jawabanmu.”

Mereka saling diam beberapa detik.

Dan diam itu anehnya tidak terasa canggung.

Justru nyaman.

Di depan sebuah gerobak kecil, Livia berhenti.

“Eh.”

“Apa?”

“Itu tanghulu.”

Arga menyipitkan mata melihat tusuk stroberi berlapis gula merah mengilap.

“Makanan orang kaya ya?”

Livia tertawa.

“Kamu ngomong kayak bapak-bapak.”

“Emang mahal.”

“Lumayan.”

Arga langsung mengeluarkan dompet tipisnya.

“Bang, dua.”

Livia buru-buru menahan tangannya.

“Enggak usah. Aku bercanda.”

“Udah terlanjur gengsi.”

Penjual tanghulu terkekeh sambil menyerahkan dua tusuk.

Saat jemari mereka bersentuhan kecil ketika menerima makanan itu, Livia spontan menarik napas pendek.

Begitu juga Arga.

Tatapan mereka beradu beberapa saat.

Dan untuk pertama kalinya malam itu, Livia terlihat gugup.

Mereka melanjutkan jalan lebih pelan.

Keramaian mulai tertinggal jauh.

Kini hanya terdengar suara tikus got dan sesekali petasan dari arah jalan utama.

Di ujung gang kecil dekat Sungai Brantas, angin malam terasa lebih dingin.

Lampion merah tergantung sendirian di atas jalan sempit itu.

Cahayanya memantul lembut di wajah Livia.

“Arga,” panggilnya pelan.

“Hm?”

“Kamu pernah pengen pergi jauh dari Kediri?”

Arga memasukkan kedua tangan ke saku celana.

“Pernah.”

“Ke mana?”

“Mana aja asal hidup enggak susah.”

Livia menunduk.

“Aku malah takut pergi.”

“Kenapa?”

Karena mungkin aku enggak bisa pulang lagi, pikir Livia.

Tetapi ia tidak mengatakannya.

Sebagai gantinya ia hanya berkata, “Kadang rumah bisa berubah jadi tempat paling asing.”

Arga memandangnya cukup lama.

Ia tidak sepenuhnya mengerti maksud gadis itu.

Tetapi ia tahu satu hal: Livia menyimpan banyak hal sendirian.

Dan anehnya, ia ingin menjadi tempat gadis itu bercerita.

Tiba-tiba…..

“Livia!”

Suara keras memecah malam.

Kevin berdiri di ujung gang sambil membawa payung hitam.

Wajahnya tegang.

Tatapannya langsung jatuh ke Arga.

Dingin.

Tajam.

Tidak suka.

“Papa nyariin kamu.”

“Aku bentar lagi balik,” jawab Livia pelan.

“Sekarang.”

Nada Kevin tidak memberi ruang untuk dibantah.

Suasana langsung berubah.

Arga bisa merasakan jelas: dirinya tidak diterima.

Kevin berjalan mendekat beberapa langkah.

“Kamu siapa?”

“Temen.”

Livia menjawab cepat sebelum Arga sempat bicara.

Kevin masih menatap Arga cukup lama.

Menilai jaket lusuhnya.

Motor tuanya.

Sepatu basahnya.

Lalu berkata pelan, “Hati-hati milih teman, Liv.”

Kalimat itu terdengar biasa.

Tetapi nadanya menusuk.

Livia menggigit bibir kecil.

Ia tampak marah, tetapi menahannya.

“Aku pulang dulu,” katanya pada Arga.

Namun sebelum pergi, ia mendekat sedikit.

Cukup dekat hingga Arga bisa mencium aroma hujan dari rambutnya.

“Kamu besok sibuk?”

Arga membeku beberapa detik.

“Enggak.”

“Kalau gitu…”

Livia tersenyum kecil.

“Lewat pecinan lagi aja.”

 

Bersambung…….

 

Disclaimer: Cerita ini hanya fiksi belaka. Jika ada persamaan judul, nama tokoh, dan cerita, itu hanyalah kebetulan semata. 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *