MALAM itu hujan turun pelan di halaman rumah Arga.
Bukan hujan deras.
Hanya gerimis panjang yang membuat udara dingin dan tanah mengeluarkan aroma basah yang khas.
Lampu bohlam kuning di bengkel sablon belakang rumah menyala redup. Suara rakel bergesekan dengan kain terdengar pelan di tengah malam yang sepi.
Arga duduk sendiri di depan meja sablon.
Namun sejak tadi pekerjaannya tidak selesai-selesai.
Pikirannya ke mana-mana.
Ke Livia.
Ke Kevin.
Ke tatapan dingin Tan Hok Liang.
Dan untuk pertama kalinya sejak mengenal Livia, Arga mulai merasa takut.
Takut perbedaan dunia mereka memang terlalu jauh.
Pak Sastro yang sejak tadi memperhatikan anaknya akhirnya mematikan rokoknya di asbak kaleng.
“Kamu lagi mikirin anak pecinan itu?”
Arga mendesah kecil.
“Kelihatan banget ya Pak?”
“Kalau orang jatuh cinta itu mukanya goblok semua.”
Arga tertawa pendek.
“Bapak dulu juga?”
Pak Sastro menyandarkan tubuh ke kursi kayu.
“Lebih parah.”
Arga menoleh.
Biasanya ayahnya jarang bicara soal masa muda.
Pak Sastro mengambil segelas kopi hitam yang mulai dingin.
“Ibu kamu dulu anak lurah.”
Arga mengernyit.
“Serius?”
“Iya.”
“Lah kok bisa mau sama Bapak?”
Pak Sastro terkekeh pelan.
“Karena bapakmu dulu ganteng.”
“Enggak masuk akal.”
“Tapi keluarganya enggak suka sama Bapak.”
Wajah Pak Sastro perlahan berubah lebih tenang.
Lebih jauh.
“Kakekmu pengen Ibu nikah sama pegawai negeri. Orang punya pangkat. Punya sawah. Punya nama.”
“Terus?”
“Ya ditentang habis-habisan.”
Hujan di luar terdengar makin jelas.
Pak Sastro memandang ke halaman gelap sambil tersenyum kecil mengingat masa lalu.
“Dulu Bapak cuma tukang bikin papan reklame keliling.”
“Tapi akhirnya nikah juga.”
“Karena cinta itu bukan soal siapa paling kaya.”
Pak Sastro menatap Arga.
“Tapi siapa yang paling tahan bertahan.”
Arga diam.
Kalimat itu terasa menancap pelan di dadanya.
“Kalau kamu memang sayang sama dia,” lanjut Pak Sastro, “jangan mundur cuma karena takut dipandang rendah.”
Arga menunduk.
“Aku cuma takut dia ikut susah.”
Pak Sastro tersenyum tipis.
“Nak.”
Ia menepuk pundak anaknya pelan.
“Perempuan yang benar-benar sayang sama laki-laki bukan cari hidup yang paling gampang.”
“Terus?”
“Tapi cari orang yang bikin dia kuat hidup susah.”
Untuk beberapa detik Arga tidak bisa bicara.
Karena entah kenapa, ucapan ayahnya terasa lebih berat malam itu.
Di luar, petir kecil menyambar langit Kediri.
Dan jauh di dalam hati Arga, keyakinannya terhadap Livia mulai tumbuh semakin dalam.
Namun kota mulai berubah.
Beberapa minggu terakhir, suasana Kediri terasa sedikit berbeda.
Warung kopi lebih ramai oleh obrolan politik.
Orang-orang mulai bicara soal harga sembako yang naik.
Dolar meroket.
Tentang mahasiswa turun ke jalan di Jakarta.
Di Solo.
Bahkan demo lain di kota besar yang ingin menurunkan pemimpin pemerintahan saat itu.
Radio-radio memutar berita dengan nada tegang.
Suatu sore, Arga datang ke pecinan lebih awal.
Langit mendung berat.
Angin terasa aneh.
Ia menemukan Livia sedang duduk di tangga belakang klenteng sambil memeluk lutut.
“Kamu kenapa?” tanya Arga pelan.
Livia menatap jalanan yang mulai sepi.
“Papa nyuruh toko tutup lebih cepat.”
“Karena?”
“Katanya keadaan lagi enggak aman.”
Arga ikut duduk di sampingnya.
Beberapa toko mulai menurunkan rolling door.
“Papa takut banget ya?” tanya Arga hati-hati.
Livia tersenyum pahit.
“Bukan takut.”
“Terus?”
“Trauma.”
Angin meniup rambut panjangnya pelan.
“Papa pernah ngalamin kerusuhan waktu muda.”
Arga diam mendengarkan.
“Katanya dulu toko keluarga hampir dibakar.”
Suara Livia mengecil.
“Sejak itu Papa enggak pernah percaya sama orang luar.”
Arga menunduk pelan.
Ia mulai mengerti kenapa tatapan Tan Hok Liang selalu penuh curiga padanya.
Tetapi tetap saja, mengerti tidak membuatnya berhenti mencintai Livia.
“Kamu takut?” tanya Arga.
Livia menoleh.
“Kalau sama keadaan?”
Arga mengangguk.
Livia terdiam beberapa detik.
“Aku lebih takut kehilangan tempat pulang.”
Kalimat itu membuat Arga menatapnya cukup lama.
Lalu tanpa sadar ia berkata, “Kalau semua tempat hilang… kamu masih bisa pulang ke aku.”
Livia membeku.
Dadanya terasa hangat sekaligus sesak.
Karena tidak ada seorang pun yang pernah mengatakan hal seperti itu padanya.
Dan untuk pertama kalinya, Livia sadar, Arga bukan lagi sekadar tempat nyaman.
Ia sudah menjadi rumah.
Malam itu hujan turun tipis di Pecinan Kediri.
Rintik-rintik air memukul genting rumah keluarga Tan dengan irama yang pelan namun membuat suasana terasa semakin muram. Lampion merah yang tergantung di teras bergoyang pelan diterpa angin malam.
Di ruang tengah, televisi menyala sejak sore.
Biasanya Mei Lin akan memutar acara drama Mandarin favoritnya, tetapi malam itu semua saluran televisi hanya menayangkan satu berita yang sama.
Kerusuhan.
Jakarta terbakar.
Solo mencekam.
Dan korban terus bertambah.
Tan Hok Liang duduk kaku di depan televisi. Tangannya menggenggam erat sandaran kursi hingga buku-buku jarinya memutih.
Di sampingnya, Mei Lin memeluk Livia yang saat itu masih remaja. Wajah perempuan itu pucat sejak tadi.
Kevin berdiri di dekat jendela sambil sesekali mengintip keluar rumah, seolah memastikan keadaan Pecinan Kediri masih aman.
Di layar televisi, seorang pembawa berita berbicara dengan nada tegang.
“Kerusuhan yang terjadi di Jakarta dan Solo dilaporkan telah menyebabkan banyak korban jiwa. Sejumlah toko dibakar massa. Banyak warga keturunan Tionghoa memilih mengungsi ke tempat yang lebih aman.”
Gambar berganti.
Asap hitam membumbung ke langit.
Api melalap bangunan.
Orang-orang berlari sambil berteriak.
Suara sirene bersahut-sahutan.
Livia menelan ludah.
“Papa…”
Tan Hok Liang tidak menjawab.
Matanya terpaku pada layar televisi.
Seolah sedang melihat hantu dari masa lalu.
Reporter di lapangan kembali muncul.
“Kondisi masih belum terkendali. Sejumlah kawasan perdagangan yang banyak dihuni warga keturunan Tionghoa menjadi sasaran amuk massa…”
Mei Lin langsung menutup mulutnya.
Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
“Astaga…”
Kevin mengepalkan tangan.
“Kenapa mereka melakukan ini?”
Tak ada yang menjawab.
Karena tidak ada seorang pun di ruangan itu yang benar-benar tahu jawabannya.
Televisi terus menayangkan gambar-gambar mengerikan.
Toko yang hancur.
Kaca yang pecah.
Mobil yang terbakar.
Wajah-wajah ketakutan.
Dan di antara semuanya, berkali-kali muncul keluarga-keluarga Tionghoa yang berlari menyelamatkan diri sambil membawa anak-anak mereka.
Livia merasakan tubuh ibunya mulai bergetar.
“Mi…”
Mei Lin memeluk putrinya lebih erat.
“Tidak apa-apa.”
Namun suaranya sendiri terdengar gemetar.
Di luar rumah, suasana Pecinan Kediri mulai berubah.
Beberapa toko menutup rolling door lebih awal.
Orang-orang terlihat mondar-mandir dengan wajah cemas.
Suara telepon berdering silih berganti.
Kabar dari Jakarta.
Kabar dari Solo.
Kabar dari kerabat yang tinggal di kota lain.
Tak ada yang benar-benar tenang malam itu.
Tan Hok Liang akhirnya bangkit dari kursinya.
Ia berjalan menuju jendela dan memandang keluar.
Lampion merah yang biasanya terasa hangat kini tampak suram.
Pecinan yang selama ini terasa aman mendadak terlihat rapuh.
“A Liang…” bisik Mei Lin.
Tan Hok Liang tetap diam.
Tatapannya kosong.
Jauh di dalam dirinya, ketakutan lama yang pernah ia rasakan bertahun-tahun sebelumnya perlahan bangkit kembali.
Ketakutan yang selama ini ia kubur rapat.
Ketakutan sebagai seorang ayah.
Sebagai seorang suami.
Sebagai seorang Tionghoa.
Televisi kembali menyiarkan laporan terbaru.
“Jumlah korban diperkirakan terus bertambah. Banyak warga memilih berlindung di tempat-tempat aman sambil menunggu situasi kondusif…”
Suara reporter itu terdengar semakin jauh di telinga Tan Hok Liang.
Yang ia lihat sekarang bukan lagi layar televisi.
Melainkan wajah Livia.
Wajah Kevin.
Wajah Mei Lin.
Keluarganya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia menyadari betapa mudahnya dunia yang telah mereka bangun runtuh dalam sekejap.
Tan Hok Liang menoleh kepada keluarganya.
Lalu berkata pelan dengan suara yang nyaris tidak terdengar,
“Mulai besok toko tutup.”
Kevin mengangguk.
Mei Lin terdiam.
Livia memandang ayahnya.
Untuk pertama kalinya ia melihat sesuatu yang jarang muncul di wajah lelaki itu.
Bukan kemarahan.
Bukan ketegasan.
Melainkan ketakutan.
Ketakutan seorang ayah yang takut kehilangan keluarganya.
Di luar, hujan semakin deras.
Dan malam itu, di rumah berpintu merah milik keluarga Tan, tak seorang pun benar-benar bisa tidur.
Karena jauh di Jakarta dan Solo, api masih menyala.
Dan bersama nyala api itu, lahirlah ketakutan yang kelak akan mengubah hidup keluarga Tan untuk waktu yang sangat lama.
Arga berdiri di ujung jalan dalam keadaan basah kuyup.
Dari kejauhan ia melihat rumah keluarga Tan masih tertutup rapat.
Lampunya mati.
Dan entah kenapa, untuk pertama kalinya Arga merasa dunia mereka mungkin benar-benar sedang melawan hubungan ini.
Keesokan paginya, pecinan berubah sunyi.
Banyak toko tidak buka.
Orang-orang berbicara pelan dan penuh curiga.
Di ruang makan rumah keluarga Tan, tidak ada yang benar-benar makan.
Tan Hok Liang duduk diam dengan mata merah karena tidak tidur semalaman.
Lalu tiba-tiba ia berkata,
“Mulai hari ini kamu enggak usah keluar sendirian.”
Livia langsung menatap ayahnya.
“Papa”
“Aku belum selesai.”
Nada suaranya dingin.
“Kamu juga enggak usah ketemu anak itu lagi.”
Sunyi.
Kevin menunduk kecil.
Mei Lin terlihat gelisah.
“Papa bahkan enggak kenal dia.”
“Aku enggak perlu kenal.”
“Dia enggak kayak yang Papa pikir!”
Tan Hok Liang memukul meja cukup keras hingga cangkir teh bergetar.
“KAMU TIDAK TAHU DUNIA LUAR!”
Suasana langsung membeku.
Livia menahan napas.
Dan untuk pertama kalinya, ia melihat mata ayahnya berkaca-kaca oleh amarah dan ketakutan sekaligus.
“Mereka bisa berubah kapan saja,” suara Tan Hok Liang melemah sedikit. “Hari ini baik. Besok melempar batu ke rumah kita.”
Livia perlahan berdiri.
“Arga bukan mereka.”
Namun Tan Hok Liang justru menjawab dengan suara paling dingin yang pernah didengar putrinya.
“Semua selalu bilang begitu di awal.”
Bersambung…………….
Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka, hanya berdasarkan imajinasi penulis. Jika ada persamaan cerita, nama tokoh dan tempat, itu hanya kebetulan saja.






