Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
Hormon ini membantu kita ‘’mengumpulkan nyawa’’ sesaat setelah bangun pagi. Sayangnya, hormon kortisol juga bisa meningkatkan gula darah.
Rupanya ini yang menyebabkan dokter meminta saya mengecek gula darah setiap Selasa pagi, setelah bangun tidur, sebelum mengonsumsi makanan atau minuman apa pun. Dokter ingin tahu pengaruh hormon kortisol terhadap perubahan gula darah saya.
Saya dan banyak penderita diabetes sering terheran-heran ketika bangun pagi mengetahui gula darahnya tiba-tiba naik. Padahal sebelum tidur tidak makan manis. Bahkan tidak makan sama sekali. “Jangan-jangan tubuh saya rusak?” tanya saya dalam hati.
Belum tentu. Bisa jadi penyebabnya adalah hormon bernama kortisol.
Kortisol adalah nama hormon yang sangat penting bagi kehidupan manusia. Tanpa kortisol, tubuh tidak mampu bertahan menghadapi aktivitas sehari-hari. Kortisol diproduksi oleh kelenjar adrenal yang berada di atas ginjal. Produksinya mengikuti jam biologis tubuh.
Menjelang subuh hingga pagi hari, sekitar pukul 04.00–08.00, kadar kortisol secara alami meningkat. Tubuh memang sengaja melakukan itu untuk membangunkan “mesin tubuh” yang semalaman beristirahat.
Coba ingat-ingat, apa yang Anda rasakan setelah bangun tidur pada pagi hari? Sebelum mulai beraktivitas secara penuh, Anda pasti melalui fase ‘’mengumpulkan nyawa’’ terlebih dahulu. Otak mulai bekerja. Jantung dipacu sedikit lebih cepat. Tekanan darah dinaikkan perlahan. Energi mulai disiapkan. Itu semua berkat hormon kortisol.
Hormon ini memberi perintah kepada hati untuk melepaskan glukosa ke dalam darah agar tubuh memiliki bahan bakar untuk mulai beraktivitas. Karena itu, kadar gula darah pada pagi hari memang cenderung sedikit lebih tinggi dibanding saat tidur malam. Fenomena ini dikenal sebagai dawn phenomenon atau fenomena fajar.
Pada orang sehat, pankreas segera mengeluarkan insulin untuk mengendalikan kenaikan gula darah tersebut. Namun pada penderita diabetes atau resistensi insulin, respons insulin tidak optimal. Akibatnya gula darah pagi bisa melonjak cukup tinggi. Itu yang menyebabkan diabetesi bertanya, “Saya belum makan apa pun, mengapa gula darah pagi ini sudah begitu tinggi?”
Mengapa Stres Bisa Membuat Gula Darah Naik?
Selain diproduksi pada pagi hari, kortisol juga keluar saat tubuh menghadapi tekanan. Deadline pekerjaan, tekanan ekonomi, konflik rumah tangga, kurang tidur, kecemasan, terjebak kemacetan di jalan raya, merupakan sebagian contoh kondisi yang bisa meningkatkan produksi kortisol.
Setiap mengalami kondisi seperti itu, tubuh akan memberi respons yang sama: “Siapkan energi! Naikkan gula darah!”
Akibatnya hati kembali melepas glukosa ke aliran darah. Bagi diabetesi, kondisi ini bisa menjadi masalah karena insulin tidak mampu bekerja optimal. Gula darah pun naik tanpa disadari. Karena itu banyak penderita diabetes mengalami gula darah naik saat ujian, naik ketika banyak pikiran, naik setelah marah, naik setelah begadang, dan naik setelah kurang tidur semalaman.
Bagaimana Menjaga Kortisol Tetap Aman?
Karena kortisol adalah hormon alami dan penting, targetnya bukan menghilangkan kortisol, melainkan menjaga agar produksinya tetap seimbang.
Beberapa cara sederhana yang dapat membantu:
Tidur cukup dan teratur. Usahakan tidur lebih awal dan cukup 7–8 jam. Tubuh sangat membutuhkan tidur untuk menurunkan hormon stres.
Olahraga rutin. Jalan kaki, peregangan, bersepeda santai, senam ringan, hingga latihan jinjit dapat membantu tubuh lebih sensitif terhadap insulin sekaligus menurunkan stres.
Mengelola pikiran. Belajar lebih tenang menghadapi masalah sangat membantu pengendalian gula darah. Latihan napas, dzikir, meditasi, atau aktivitas spiritual dapat membantu menurunkan respons stres tubuh.
Mengurangi begadang. Begadang membuat ritme hormon kacau dan memicu kenaikan kortisol.
Tidak terlalu sering cemas. Tubuh sulit membedakan ancaman nyata dan ancaman pikiran. Semakin sering seseorang cemas, semakin sering tubuh memproduksi hormon stres.
Selama ini banyak orang mengira diabetes hanya soal gula dan makanan manis. Padahal kenyataannya lebih kompleks. Pikiran yang penuh tekanan, tidur yang buruk, dan stres berkepanjangan juga sangat memengaruhi gula darah.(jto)






