NOVEL HITAM DAN PUTIH: Pintu Merah (Bagian-3)

novel hitam dan putih
Ilustrasi by Chaterine G Peter/RISKS.ID

RUMAH keluarga Tan berdiri di ujung pecinan Kediri.

Bangunannya tua, dua lantai, menyatu dengan toko tekstil besar bernama Sumber Rejeki. Cat merah marun di dinding depan mulai memudar dimakan usia, tetapi ukiran naga emas di pintu kayunya masih terlihat megah.

Bacaan Lainnya

Di malam hari, rumah itu selalu tampak terang.

Lampion merah menggantung di teras depan.

Suara televisi Mandarin terdengar dari ruang tengah.

Dan aroma teh melati bercampur obat herbal memenuhi udara.

Namun bagi Livia, rumah itu lebih mirip sangkar.

Malam Cap Go Meh baru saja selesai ketika sedan hitam milik keluarganya berhenti di depan rumah.

Kevin turun lebih dulu.

Pintu mobil dibanting agak keras.

Livia berjalan di belakangnya tanpa bicara.

Ia tahu kakaknya sedang kesal.

Begitu masuk rumah, suara berat langsung terdengar dari ruang makan.

“Kamu dari mana?”

Sang ayah, Tan Hok Liang duduk di kursi utama sambil memegang cangkir teh.

Pria itu berusia hampir enam puluh tahun, tubuhnya sedang, rambutnya mulai memutih di pelipis. Ia selalu memakai kemeja rapi bahkan di rumah sendiri. Wajahnya keras seperti ukiran batu, dan matanya punya tatapan yang membuat orang otomatis menunduk.

Livia kecil dulu sering takut hanya karena dipanggil namanya oleh sang ayah.

“Di luar lihat barongsai,” jawab Livia pelan.

“Sendiri?”

Kevin membuka jaketnya sambil duduk.

“Enggak.”

Seketika suasana meja makan terasa berubah.

Tan Hok Liang mengangkat mata perlahan.

“Sama siapa?”

Livia mencoba terdengar biasa.

“Teman.”

“Teman mana?”

“Baru kenal.”

Kevin terkekeh kecil tanpa humor.

“Anak sablon.”

Livia langsung menoleh tajam.

“Kevin.”

“Aku salah?”

Tan Hok Liang diam beberapa detik.

Lalu meletakkan cangkir tehnya pelan.

“Pribumi?”

Pertanyaan itu keluar datar.

Tetapi cukup membuat udara terasa dingin.

Livia tidak langsung menjawab.

Dan itu sudah cukup.

Rahang Tan Hok Liang mengeras.

“Jangan terlalu dekat sama orang yang tidak jelas.”

“Aku cuma ngobrol.”

“Semua masalah besar mulai dari ‘cuma ngobrol’.”

Livia menggigit bibir kecil.

Ia benci cara ayahnya memandang orang lain seperti ancaman.

Seperti dunia selalu ingin menghancurkan keluarga mereka.

Sang ibu, Mei Lin keluar dari dapur membawa semangkuk sup hangat.

Perempuan itu jauh berbeda dari suaminya.

Wajahnya lembut.

Gerak-geriknya tenang.

Dan suaranya selalu pelan seolah takut melukai siapa pun.

“Sudahlah,” katanya lembut. “Livi juga bukan anak kecil.”

Tan Hok Liang tidak menjawab.

Tetapi tatapannya masih keras.

“Aku enggak suka kamu terlalu sering di luar.”

“Aku cuma jalan sebentar.”

“Kamu perempuan.”

“Terus?”

Kevin menyandarkan tubuh sambil tersenyum miring.

“Papa cuma enggak mau kamu bikin masalah.”

“Aku bukan masalah keluarga.”

“Belum.”

Livia langsung berdiri.

Kursinya bergeser cukup keras.

“Aku capek!!”

Ia berjalan cepat menuju tangga sebelum emosinya benar-benar meledak.

Dari belakang, suara ayahnya terdengar lagi.

“Ingat satu hal.”

Livia berhenti.

“Kita berbeda dengan mereka.”

Kalimat itu membuat dada Livia sesak.

Bukan karena marah.

Tetapi karena ia mulai sadar, keluarganya mungkin tidak akan pernah menerima dunia di luar pecinan.

Kamar Livia berada di lantai dua, menghadap jalan kecil belakang rumah.

Kamarnya rapi.

Terlalu rapi.

Rak buku penuh novel dan majalah fotografi.

Meja kecil dekat jendela.

Tanaman kaktus mini.

Dan foto-foto hasil jepretannya ditempel di dinding.

Namun tempat favoritnya tetap jendela.

Dari sana ia bisa melihat sebagian lampion pecinan dan sedikit cahaya Sungai Brantas di kejauhan.

Hujan turun tipis lagi malam itu.

Livia duduk di lantai sambil memegang kamera kecilnya.

Di layar kamera, ada foto Arga.

Bukan foto jelas.

Hanya siluetnya dari jauh saat berdiri di bawah lampion tadi malam.

Tetapi entah kenapa Livia terus memandanginya.

Ia mengingat suara tawanya.

Cara bicaranya.

Dan bagaimana Arga selalu terlihat kikuk setiap kali menatap matanya.

Berbeda sekali dari lelaki-lelaki yang dikenalkan keluarganya.

Mereka biasanya terlalu rapi.

Terlalu percaya diri.

Terlalu sibuk menunjukkan kekayaan orang tua mereka.

Sedangkan Arga….

Terlihat jujur.

Dan itu membuat Livia takut.

Karena untuk pertama kalinya, ia benar-benar ingin mengenal seseorang lebih jauh.

Sementara itu, di rumah kecil pinggir kota, Arga juga belum tidur.

Ia berbaring di dipan kayu sambil menatap langit-langit kamar.

Kipas angin berputar pelan di atas kepalanya.

Di luar, suara hujan terdengar samar.

Namun yang terus memenuhi pikirannya hanyalah satu orang.

Livia Tan.

“Anak orang kaya,” gumamnya pelan.

Ia tertawa kecil sendiri.

Rasanya lucu.

Mana mungkin gadis seperti itu mau dekat dengannya.

Arga hanyalah anak tukang sablon.

Kuliah pun tidak selesai karena harus membantu ayahnya bekerja.

Sedangkan Livia…cara bicaranya saja sudah berbeda.

Tetapi semakin ia mencoba melupakan, semakin wajah itu memenuhi kepalanya.

Sampai akhirnya Arga duduk, mengambil pensil, lalu mulai menggambar di belakang kertas nota bekas.

Wajah Livia.

Hari-hari berikutnya berjalan pelan.

Livia mulai sering keluar rumah dengan alasan memotret pecinan.

Kadang sore.

Kadang menjelang malam.

Dan entah bagaimana, Arga selalu ada.

Di warung kopi dekat gang.

Di toko cakwe.

Di tepi Sungai Brantas.

Atau sekadar berdiri sambil pura-pura memperbaiki motornya.

Awalnya mereka hanya ngobrol singkat.

Tentang hujan.

Tentang kota.

Tentang makanan.

Lalu pembicaraan mulai memanjang.

Livia mulai bercerita tentang kesukaannya memotret.

Arga bercerita tentang mimpinya membuka studio desain sendiri.

Mereka mulai saling menunggu tanpa mengakuinya.

Jika Arga terlambat datang, Livia diam-diam gelisah.

Jika Livia tidak muncul, Arga kehilangan mood seharian.

Dan perlahan, tanpa mereka sadari, rasa itu tumbuh semakin dalam.

Suatu sore, mereka duduk di pinggir Sungai Brantas, tak jauh dari Jembatan Lama yang menghubungkan Kecamatan Kota dan Kecamatan Mojoroto.

Langit seolah merestui pertemuan muda-mudi yang sedang jatuh hati.

Langit berwarna jingga redup.

Air sungai mengalir pelan membawa pantulan cahaya kota.

Livia memotret langit.

Arga memperhatikannya diam-diam.

“Kamu kalau difoto pasti jelek,” kata Livia tiba-tiba.

Arga tertawa.

“Kok gitu?”

“Karena mukamu lebih cocok dilihat langsung.”

Arga menoleh.

Dan Livia baru sadar apa yang baru saja ia katakan.

Pipinya langsung memerah.

“Eh maksudku….”

“Aku ngerti.”

“Jangan geer.”

“Terlambat.”

Livia tertawa malu sambil memukul lengan Arga pelan.

Dan saat itulah Arga sadar, ia jatuh cinta.

Benar-benar jatuh cinta.

Namun di tempat lain, seseorang mulai memperhatikan semuanya.

Kevin berdiri di balkon lantai dua rumah keluarga Tan sambil memegang rokok Dji Sam Soe.

Tatapannya dingin.

Di bawah sana, ia baru saja melihat Livia turun dari motor Arga.

Tidak terlalu dekat.

Tidak menyentuh.

Tetapi cara mereka saling memandang sudah cukup menjelaskan segalanya.

Kevin mengembuskan asap rokok perlahan.

Lalu masuk ke ruang kerja ayahnya.

Tan Hok Liang sedang menghitung laporan toko.

“Papa.”

“Hm?”

“Livia mulai dekat sama anak itu.”

Tangan Tan Hok Liang berhenti.

Sunyi beberapa detik memenuhi ruangan.

“Seberapa dekat?”

Kevin mendekat.

“Lebih dari teman.”

Wajah Tan Hok Liang perlahan berubah keras.

Ia membuka laci meja.

Mengambil rokok lama yang sebenarnya sudah berhenti ia hisap bertahun-tahun.

Tangannya sedikit gemetar saat menyalakannya.

Kevin jarang melihat ayahnya seperti itu.

Lalu Tan Hok Liang berkata pelan:

“Aku pernah lihat orang dibakar hidup-hidup.”

Kevin diam.

“Aku pernah lihat toko dijarah.”

Api rokok menyala kecil di ujung jarinya.

“Orang-orang yang kita percaya bisa berubah jadi monster dalam satu malam.”

Tatapannya mengeras.

“Aku enggak akan biarkan anakku hancur karena mengulangi kesalahan yang sama.”

Di luar rumah, hujan mulai turun lagi membasahi pecinan Kediri.

Dan tanpa disadari Arga maupun Livia- cinta mereka mulai diawasi.

 

Bersambung…………..

 

Disclaimer: Cerita ini hanyalah fiksi belaka, jika ada persamaan judul, nama tokoh, dan jalan cerita hanyalah kebetulan semata. 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *