KEDIRI terasa berbeda setelah Livia pergi.
Bukan karena kota itu berubah tiba-tiba.
Lampion di pecinan masih menyala setiap malam.
Warung kopi dekat jembatan Brantas masih penuh suara lelaki bermain kartu.
Dan motor-motor tua masih meraung di Jalan Dhoho menjelang malam.
Tetapi bagi Arga, semuanya kehilangan warna.
Sudah hampir lima bulan sejak malam di Bandara Juanda.
Dan selama lima bulan itu, hidup Arga seperti berjalan tanpa arah.
Ia jarang tertawa.
Jarang keluar rumah.
Bahkan bengkel sablon milik Pak Sastro mulai sering terlambat buka karena Arga sulit bangun pagi.
“Ga.”
Pak Sastro berdiri di depan pintu bengkel sambil memegang rokok.
“Kamu enggak bisa terus begini.”
Arga sedang duduk di lantai, dikelilingi kertas desain yang berantakan.
Matanya cekung.
Rambutnya mulai panjang dan tidak terurus.
“Aku capek, Pak.”
“Capek hidup atau capek sedih?”
Arga tertawa kecil tanpa tenaga.
“Bedanya tipis.”
Pak Sastro masuk lalu duduk di samping anaknya.
Suara hujan terdengar samar dari luar.
“Dia pergi bukan berarti hidupmu ikut selesai.”
Arga diam.
Karena masalahnya bukan sekadar Livia pergi.
Tetapi sejak perempuan itu hilang dari hidupnya, Arga seperti kehilangan alasan untuk bergerak.
Ia masih datang ke pecinan kadang-kadang.
Namun kini tempat itu terasa asing.
Pecinan Kediri perlahan ikut berubah setelah kerusuhan di Jakarta dan Solo beberapa bulan lalu.
Orang-orang jadi lebih tertutup.
Banyak toko memasang pagar besi tambahan.
Beberapa keluarga Tionghoa pindah ke Surabaya.
Dan jalanan yang dulu ramai hingga malam kini mulai sepi lebih cepat.
Bahkan lampion-lampion merah tampak redup.
Suatu sore, Arga berdiri di depan klenteng tempat pertama kali ia bertemu Livia.
Hujan rintik turun pelan.
Ia masih hafal semuanya.
Tangga batu itu.
Aroma dupa.
Suara lonceng kecil saat tertiup angin.
Dan tepat di depan altar luar itu, bayangan Livia seolah masih ada.
Sweater krem.
Payung putih.
Senyum kecil.
“Punya korek?”
Arga memejamkan mata sebentar.
Dadanya langsung sesak.
“Masih sering ke sini?”
Suara itu membuat Arga menoleh.
Penjaga klenteng, pria tua berdiri sambil membawa sapu lidi.
Matanya sipit, bajunya sederhana.
Dari senyum yang tersampaikan, pak tua itu sudah kehilangan semua giginya.
Arga tersenyum kecil.
“Kadang.”
Orang tua itu mengangguk pelan.
“Cici itu enggak balik lagi ya?”
Arga membeku beberapa detik.
Ternyata bahkan orang lain masih mengingat Livia.
“Enggak tahu.”
Penjaga klenteng menyapu daun pelan.
“Dulu dia sering duduk lama di sini.”
Arga menatap altar.
“Iya.”
“Kayaknya dia sedih terus.”
Kalimat itu membuat dada Arga semakin berat.
Karena sekarang ia sadar, selama ini Livia memang sudah kesepian bahkan sebelum pergi ke Amerika.
Malam-malam Arga berubah Panjang dan sepi.
Ia sering duduk sendirian di kamar sempitnya sambil mendengar radio pelan.
Kadang hujan turun.
Kadang kota sunyi.
Dan di meja kecil dekat jendela, surat-surat untuk Livia menumpuk tanpa tujuan.
Karena Arga tidak tahu harus mengirim ke mana.
Sampai suatu malam, saat listrik padam karena hujan besar, Arga mulai menulis.
Awalnya hanya satu halaman.
Tentang seorang gadis pecinan yang suka hujan.
Lalu dua halaman.
Lalu sepuluh.
Dan tanpa sadar, malam demi malam ia terus menulis tentang Livia.
Tentang lampion merah.
Tentang Sungai Brantas.
Tentang hujan di depan klenteng.
Tentang cinta yang dipisahkan ketakutan.
Arga menulis seperti orang yang takut lupa.
Karena semakin lama, wajah Livia mulai terasa kabur di kepalanya.
Dan itu lebih menakutkan daripada kehilangan itu sendiri.
Suatu malam, Bimo datang ke rumah sambil membawa kopi sachet dan rokok Gudang Garam Surya 12.
Ia masuk kamar Arga lalu berhenti.
“Buset.”
Kertas berserakan di mana-mana.
Buku catatan penuh tulisan tangan.
Coretan dialog.
Potongan cerita.
“Apa ini?”
Arga sedang duduk di lantai sambil mengetik di mesin ketik tua milik Pak Sastro.
“Cerita.”
“Cerita apa?”
Arga diam sebentar.
Lalu menjawab pelan, “Cerita orang yang enggak bisa pulang.”
Bimo duduk perlahan.
Untuk pertama kalinya sejak Livia pergi, ia melihat mata Arga sedikit hidup lagi.
Bukan karena sudah sembuh.
Tetapi karena akhirnya menemukan tempat menaruh rasa sakitnya.
“Kamu mau jadi penulis sekarang?”
Arga tersenyum tipis.
“Enggak tahu.”
“Tapi?”
“Tapi kalau aku enggak nulis… mungkin aku bakal lupa dia.”
Sunyi beberapa detik memenuhi kamar.
Hanya suara hujan di genteng.
Bimo mengambil salah satu halaman lalu membacanya pelan.
Perempuan itu datang bersama hujan dan lampion merah.
Dan sejak malam itu, kota kecil ini tak pernah benar-benar sama.
Bimo mengangkat alis.
“Lumayan juga.”
Arga tertawa kecil.
“Jangan ngehina.”
“Serius.”
Bimo menatap sahabatnya cukup lama sebelum berkata pelan,
“Mungkin ini cara kamu bertahan hidup.”
Hari-hari berikutnya, Arga mulai hidup di antara pekerjaan dan tulisan.
Pagi membantu sablon.
Malam menulis.
Kadang sampai subuh.
Ia mulai membawa buku catatan ke mana-mana.
Jika hujan turun, ia menulis.
Jika melihat lampion pecinan, ia menulis.
Jika merindukan Livia terlalu keras, ia menulis lebih banyak.
Dan perlahan, cerita itu mulai berubah menjadi novel.
Tentang dua manusia dari dunia berbeda.
Tentang kota kecil yang penuh prasangka.
Tentang cinta yang kalah oleh ketakutan.
Namun Arga tidak pernah menulis nama asli Livia.
Karena sebagian dirinya masih ingin melindunginya.
Sementara itu, pecinan terus berubah.
Toko-toko tua mulai dijual.
Anak-anak muda Tionghoa banyak pindah ke kota besar.
Beberapa rumah kosong dibiarkan gelap tanpa penghuni.
Suatu sore, Arga duduk di warung kopi dekat gang tempat biasa ia menunggu Livia.
Penjual kopi bernama Pak Deon itu meletakkan gelas panas di depannya.
“Lama enggak lihat kamu sama cewek kamera itu.”
Arga tersenyum kecil.
“Dia jauh.”
“Pindah?”
“Iya.”
Pak Deon yang rambutnya mulai habis itu mengangguk pelan.
“Sayang ya.”
Arga memandang jalanan pecinan yang mulai basah oleh hujan sore.
Lampion merah bergoyang pelan tertiup angin.
Arga sadar, yang hilang bukan cuma Livia.
Tetapi juga versi dirinya sendiri saat masih bersama perempuan cantic itu.
Malam itu Arga kembali menulis sampai larut.
Lampu meja kecil menerangi kamar sempitnya.
Tangannya bergerak cepat di atas mesin tik.
Tak.
Tak.
Tak.
Lalu ia berhenti di satu kalimat.
Beberapa orang pergi terlalu jauh, tetapi tetap tinggal di dalam dada seseorang.
Arga menatap kalimat itu lama.
Kemudian perlahan tersenyum kecil.
Karena akhirnya ia mengerti satu hal:
Ia mungkin tidak bisa mempertahankan Livia di hidup nyata.
Tetapi di dalam tulisan, perempuan itu akan hidup selamanya.
Bersambung…………….
Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka, hanya berdasarkan imajinasi penulis. Jika ada persamaan cerita, nama tokoh dan tempat, itu hanya kebetulan saja.






