NOVEL HITAM DAN PUTIH: Bertambah Matang (Bagian-9)

novel hitam dan putih

MUSIM dingin kedua di California datang lebih cepat dari sebelumnya.

Livia mulai terbiasa dengan banyak hal.

Bacaan Lainnya

Ia sudah tidak lagi bingung membaca arah jalan.

Sudah hafal rasa kopi pahit Amerika.

Sudah bisa tertawa kecil saat orang salah mengucapkan namanya menjadi “Livi-ah.”

Tetapi ada satu hal yang tidak pernah benar-benar berubah, rasa sepi.

Monterey Park tetap terasa asing baginya.

Lampu kota terlalu terang.
Langit terlalu pucat.
Dan orang-orang terlalu sibuk dengan hidup masing-masing.

Kadang Livia berdiri lama di halte bus hanya untuk mendengar suara hujan.

Karena hujan satu-satunya hal yang mengingatkannya pada Kediri.

Hubungannya dengan keluarga semakin renggang.

Tan Hok Liang masih rutin menelepon dari Indonesia.
Namun pembicaraan mereka selalu terasa dingin.

“Kamu ketemu Daniel minggu lalu?”

“Iya.”

“Anaknya baik.”

Livia diam.

“Jangan terus keras kepala.”

“Aku lagi kuliah, Pa.”

“Makanya cari lingkungan yang benar.”

Livia memejamkan mata pelan.

Ia sudah lelah mendengar kata benar.

Benar menurut keluarga.

Benar menurut komunitas.

Benar menurut masa lalu.

Tetapi tidak pernah sekali pun ada yang bertanya, apa yang sebenarnya ia inginkan.

“Aku enggak suka Daniel.”

Sunyi.

Kalimat itu akhirnya keluar juga.

Di ujung telepon, Tan Hok Liang langsung menarik napas berat.

“Perasaan bisa datang belakangan.”

“Aku bukan lagi hidup tahun 1970, Pa.”

“Kamu pikir Papa enggak ngerti dunia?”

“Aku pikir Papa terlalu takut sama dunia.”

Suasana langsung membeku.

Dan untuk pertama kalinya sejak kecil, Livia berani melawan ayahnya secara terang-terangan.

Suara Tan Hok Liang berubah dingin.

“Anak itu masih di kepala kamu ya?”

Livia menggigit bibir kecil.

Karena bahkan setelah bertahun-tahun, nama Arga masih menjadi luka terbesar di rumah itu.

“Kalau Papa terus hidup dalam ketakutan,” suara Livia mulai bergetar, “Papa bakal kehilangan aku juga.”

Klik.

Telepon ditutup.

Livia menunduk pelan.

Tangannya gemetar.

Tetapi anehnya, setelah itu dadanya terasa sedikit lega.

Seolah selama ini ia hidup terlalu lama sebagai anak baik-baik.

Dan sekarang ia mulai belajar menjadi dirinya sendiri.

Di Kediri, hidup Arga juga berubah perlahan.

Novel pertamanya akhirnya selesai.

Ia memberi judul:
Hujan di Bawah Lampion.

Cerita tentang kota kecil, perempuan pecinan, dan cinta yang dipisahkan ketakutan.

Awalnya Arga tidak benar-benar yakin akan menerbitkannya.

Ia hanya menulis untuk bertahan hidup.

Namun Bimo diam-diam mengirim naskah itu ke sebuah penerbit di Surabaya.

Dan tiga bulan kemudian, semuanya berubah.

“DITERIMA?!” Arga hampir menjatuhkan gelas kopi.

Bimo tertawa puas sambil melambaikan surat dari penerbit.

“Mereka suka tulisanmu.”

Arga membaca surat itu berkali-kali.

Tangannya sampai gemetar.

Untuk pertama kalinya sejak Livia pergi, ada sesuatu dalam hidupnya yang bergerak maju.

Pak Sastro yang mendengar kabar itu hanya tersenyum sambil menepuk pundak anaknya.

“Tuh kan.”

“Apa?”

“Patah hati kadang lebih berguna daripada kuliah.”

Arga tertawa keras.

Dan suara tawanya akhirnya terdengar hidup lagi.

Novel itu ternyata cukup sukses.

Tidak meledak besar.

Tetapi dibicarakan banyak orang.

Pembaca menyukai suasana pecinan kecil dalam cerita Arga.

Menyukai hujan, lampion merah, dan rasa kehilangan yang terasa nyata.

Banyak yang bertanya, “Tokoh perempuannya nyata ya?”

Dan setiap kali mendengar pertanyaan itu, Arga hanya tersenyum kecil.

Karena sebagian dirinya tahu, ia memang sedang menulis seseorang yang tidak pernah benar-benar pergi dari hidupnya.

Suatu malam, setelah acara diskusi buku kecil di Surabaya, seorang perempuan menghampiri Arga.

“Mas Arga?”

“Iya?”

“Ada titipan.”

Perempuan itu menyerahkan amplop putih kecil.

Tanpa nama pengirim.

Arga membukanya perlahan.

Dan begitu melihat tulisan tangan itu, napasnya langsung berhenti.

Tulisan Livia.

Aku baca bukumu.

Kamu masih suka hujan ternyata.

Dunia seperti mendadak sunyi.

Arga membaca ulang kalimat itu berkali-kali.

Tangannya gemetar kecil.

Livia.

Setelah bertahun-tahun.

Livia membaca bukunya.

Malam itu Arga tidak bisa tidur.

Ia duduk di kamar sambil terus memandangi surat kecil itu.

Banyak hal berubah dalam hidup mereka.

Namun melihat tulisan tangan Livia lagi terasa seperti menemukan bagian dirinya yang hilang.

Besoknya, Arga langsung membalas.

Lewat alamat kecil yang terselip di balik amplop.

Aku kira kamu sudah lupa sama hujan di Kediri.

Ternyata enggak.

Dan sejak malam itu, mereka mulai kembali saling berkirim pesan.

Diam-diam.

Rahasia.

Kadang lewat surat.

Kadang email singkat lewat komputer di perpustakaan kampus Livia.

Awalnya canggung.

Karena mereka bukan lagi dua remaja yang bertemu di bawah lampion.

Mereka sudah berubah.

Sudah melewati kesepian masing-masing.

Namun justru karena itu, cinta mereka terasa lebih dewasa.

Tidak lagi penuh janji berlebihan.

Tetapi penuh kejujuran kecil.

Suatu malam di California, Livia membuka email dari Arga sambil duduk sendirian di perpustakaan kampus.

Di luar, salju turun pelan.

Kediri sekarang beda.

Banyak toko pecinan tutup.

Tapi klenteng tempat kita pertama ketemu masih ada.

Kadang aku ke sana kalau lagi bingung.

Mata Livia langsung basah.

Ia membayangkan Arga berdiri di depan klenteng itu sendirian.

Dan tiba-tiba rasa rindu yang selama ini ia tahan datang begitu keras.

Livia membalas cepat.

Aku kangen suara motor jelekmu.

Beberapa menit kemudian balasan masuk.

Motornya sekarang masih jelek.

Yang berubah cuma orangnya.

Livia tertawa kecil sendiri.

Mahasiswa lain menoleh heran ke arahnya.

Tetapi untuk pertama kalinya sejak lama, ia merasa hangat lagi.

Sementara itu di Indonesia, Kevin mulai curiga.

Suatu malam ia melihat Tan Hok Liang duduk diam membaca koran.

Di halaman budaya, ada foto Arga sedang memegang novel pertamanya.

Judul besar di bawah foto itu berbunyi:

“Penulis Muda Kediri Angkat Kisah Pecinan dan Cinta Antaretnis.”

Tatapan Tan Hok Liang langsung berubah dingin.

Kevin mengambil koran itu perlahan.

Lalu membaca satu kutipan dari novel, Beberapa rumah dibangun dari tembok.

Tetapi beberapa lainnya dibangun dari seseorang yang membuat kita ingin pulang.

Kevin langsung tahu.

Novel itu tentang Livia.

Dan yang lebih membuatnya tidak nyaman, Arga mulai punya nama sekarang.

Di California, Daniel Huang masih terus mendekati Livia.

Makan malam.

Undangan pesta.

Ajakan jalan.

Daniel sebenarnya bukan lelaki buruk.

Ia sopan.

Mapan.

Dan cukup perhatian.

Tetapi setiap kali bersamanya, Livia selalu merasa seperti sedang menjalani hidup orang lain.

Suatu malam, Daniel akhirnya bertanya langsung.

“Kamu masih mikirin seseorang ya?”

Livia membeku.

Daniel tersenyum kecil pahit.

“Aku bisa lihat dari mata kamu.”

Livia menunduk pelan.

Dan untuk pertama kalinya, ia berkata jujur, “Ada orang yang enggak pernah benar-benar pergi dari hidupku.”

Daniel diam beberapa detik.

Lalu tertawa kecil.

“Berarti aku kalah sama seseorang dari kota kecil yang bahkan belum pernah aku lihat.”

Livia ikut tersenyum tipis.

Namun jauh di dalam dirinya, ia sadar satu hal, waktu memang mengubah mereka.

Tetapi cinta yang berhasil bertahan melewati kehilangan justru tumbuh menjadi sesuatu yang lebih dalam.

Lebih tenang.

Dan jauh lebih sulit dilupakan.

Bersambung…………….

 

Disclaimer: Cerita ini hanya fiktif belaka, hanya berdasarkan imajinasi penulis. Jika ada persamaan cerita, nama tokoh dan tempat, itu hanya kebetulan saja.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *