AMAN TAPI WASPADA

joko intarto

Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi

“Tomat itu buah atau sayur?”

Bacaan Lainnya

Pertanyaan itu dilontarkan seorang kawan setelah melihat foto sarapan yang saya unggah pagi tadi. Dalam foto tersebut tampak dua butir tomat merah kekuningan seukuran telur ayam yang saya santap sebagai teman sarapan.

Terus terang, saya sempat bingung menjawabnya. Selama ini saya juga tidak pernah benar-benar yakin apakah tomat harus dimasukkan ke kelompok buah-buahan atau sayur-sayuran.

Sepanjang yang saya ketahui, ada dua jenis tomat yang popular. Pertama, tomat sayur yang biasanya digunakan untuk memasak garang asem, sayur, atau sambal dabu-dabu. Kedua, tomat yang lebih sering dimakan langsung, seperti tomat apel yang berukuran besar atau tomat cherry yang mungil dan rasanya lebih manis.

Menurut ilmu botani, tomat termasuk buah. Alasannya, tomat tumbuh dari bunga dan mengandung biji, sehingga memenuhi kriteria sebagai buah.

Namun dalam dunia kuliner, tomat sering diperlakukan sebagai sayuran karena lebih banyak digunakan dalam masakan daripada sebagai pencuci mulut.

Jadi, tidak perlu bingung. Keduanya benar. Tomat adalah buah menurut ilmu tumbuhan, tetapi dianggap sayuran dalam dunia masak-memasak.
Bagi penderita diabetes, kabar baiknya adalah tomat termasuk makanan yang ramah terhadap gula darah. Indeks glikemiknya tergolong rendah, berkisar antara 15 hingga 30 tergantung varietas dan tingkat kematangannya. Dengan nilai tersebut, konsumsi tomat umumnya tidak menyebabkan lonjakan gula darah yang tajam.

Bukan hanya itu. Kandungan karbohidrat tomat juga relatif kecil. Satu buah tomat ukuran sedang hanya mengandung sekitar 4–5 gram karbohidrat. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan nasi, roti, atau minuman manis.

Tomat juga mengandung serat yang membantu memperlambat penyerapan gula ke dalam darah. Efeknya, rasa kenyang dapat bertahan lebih lama dan kadar gula darah menjadi lebih stabil.

Keistimewaan lain dari tomat terletak pada kandungan likopennya. Likopen adalah antioksidan yang memberi warna merah cerah pada tomat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa senyawa ini dapat membantu mengurangi stres oksidatif dan peradangan yang sering menyertai diabetes.

Selain itu, tomat termasuk makanan rendah kalori. Satu buah tomat ukuran sedang hanya mengandung sekitar 20–25 kalori. Karena itu, tomat cocok dikonsumsi oleh diabetesi yang sedang berusaha menurunkan berat badan atau mengecilkan lingkar perut.

Meski demikian, ada satu hal yang perlu diperhatikan. Yang aman bukan selalu produk olahan tomatnya, melainkan tomat segarnya.

Saus tomat kemasan sering kali mengandung tambahan gula. Demikian pula sambal botolan. Bahkan jus tomat kemasan kadang mengandung gula dan garam dalam jumlah yang tidak sedikit.

Karena itu, jika ingin memperoleh manfaat terbaik dari tomat, pilihlah tomat segar. Dimakan langsung, dijadikan salad, atau dicampurkan ke dalam masakan rumahan tetap menjadi pilihan yang lebih sehat dibandingkan produk olahan yang telah mengalami banyak penambahan bahan.

Jadi, jika suatu hari ada yang bertanya, “Tomat itu buah atau sayur?”, jawabannya: tomat adalah buah yang sering diperlakukan sebagai sayur. Boleh juga disebut sebaliknya.

Disebut buah atau sayur tidaklah penting. Bagi penderita diabetes, tomat justru merupakan sahabat yang baik di meja makan, dan teman baik untuk menyembuhkan peradangan. (jto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *