Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
SUDAH lebih dari 800 hari saya tidak mengonsumsi obat diabetes maupun suntik insulin. Karena pengalaman itu, beberapa teman sering meminta saya menjadi tempat berdiskusi ketika mereka baru didiagnosis diabetes atau sedang berjuang mengendalikan gula darah.
Dari berbagai percakapan tersebut, saya menemukan fakta menarik. Ternyata tidak sedikit diabetesi yang lebih menderita karena ketakutannya daripada karena diabetes itu sendiri. Salah satu contohnya adalah Mariana, bukan nama sebenarnya.
Mariana merupakan seorang guru yang cerdas dan disiplin. Namun beberapa bulan terakhir ia mengalami stres berkepanjangan. Tidurnya tidak nyenyak. Pikirannya selalu gelisah. Gula darahnya pun sulit terkendali.
Awalnya saya mengira penyebabnya adalah pola makan atau kurang aktivitas fisik. Ternyata saya keliru. Akar masalahnya justru berasal dari sebuah grup diskusi diabetesi yang baru diikutinya.
Setiap hari Mariana membaca berbagai kisah tentang amputasi, gagal ginjal, stroke, kebutaan, luka yang tak kunjung sembuh, hingga cerita kematian akibat komplikasi diabetes.
Semakin banyak membaca, semakin besar pula rasa takutnya. Lama-kelamaan ia mulai membayangkan bahwa semua kisah itu suatu hari pasti akan menimpa dirinya.
Ketika berbincang dengannya, saya akhirnya mengatakan, “Sepertinya yang paling mengganggu kesehatan Anda bukan diabetes, tetapi rasa takut Anda yang berlebihan terhadap diabetes itu sendiri.”
Ketakutan Bisa Menaikkan Gula Darah
Banyak orang tidak menyadari bahwa stres berkepanjangan dapat memengaruhi kadar gula darah.
Saat seseorang mengalami kecemasan terus-menerus, tubuh akan melepaskan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin. Kedua hormon ini mendorong hati melepaskan lebih banyak glukosa ke dalam darah sebagai persiapan menghadapi ancaman.
Masalahnya, ancaman yang dihadapi Mariana bukanlah harimau atau kebakaran. Ancaman itu berada di dalam pikirannya sendiri. Ia hidup dalam bayang-bayang komplikasi yang belum tentu terjadi. Akibatnya, gula darah menjadi lebih sulit dikendalikan meskipun ia sudah berusaha menjaga pola makan.
Terus terang, ketika pertama kali didiagnosis diabetes, saya juga sempat mengalami ketakutan. Di kepala saya berputar berbagai pertanyaan:
Apakah saya harus minum obat seumur hidup?
Apakah suatu hari saya akan mengalami gagal ginjal?
Apakah saya akan terkena stroke?
Apakah saya masih bisa hidup normal?
Untungnya, saya segera menyadari bahwa ketakutan tidak akan menyelesaikan masalah. Yang saya perlukan bukan rasa takut, melainkan pengetahuan.
Saya mulai belajar tentang diabetes, memahami cara kerja tubuh, memperbaiki pola makan, meningkatkan aktivitas fisik, mengatur waktu istirahat, dan memantau gula darah secara teratur.
Perlahan-lahan saya memahami bahwa diabetes bukan akhir dari kehidupan. Diabetes adalah awal dari gaya hidup baru yang lebih sehat.
Diabetes Bukan Vonis Mati
Banyak diabetesi baru mengalami apa yang saya sebut sebagai fase “kaget diagnosis”. Begitu mendengar kata diabetes, mereka langsung membayangkan amputasi, cuci darah, kebutaan, dan berbagai skenario menakutkan lainnya.
Padahal diabetes bukanlah vonis mati. Diabetes adalah kondisi kesehatan yang harus dikelola. Jutaan orang di seluruh dunia hidup produktif selama puluhan tahun dengan diabetes yang terkendali.
Mereka tetap bekerja, berolahraga, bepergian, mengurus keluarga, bahkan menikmati masa pensiun dengan bahagia.
Bias Cerita Buruk
Ada satu fenomena yang sering terjadi di berbagai grup diskusi kesehatan. Saya menyebutnya sebagai bias cerita buruk.
Mengapa? Karena orang yang sedang mengalami masalah biasanya lebih aktif bercerita.
Sebaliknya, orang yang sehat dan baik-baik saja biasanya sibuk menjalani kehidupannya. Jarang ada yang menulis di grup:
“Hari ini gula darah saya normal.”
“Hari ini saya sehat-sehat saja.”
“Hari ini saya berhasil bersepeda 25 kilometer.”
Akibatnya, anggota baru sering memperoleh kesan seolah-olah semua diabetesi pasti berakhir dengan komplikasi berat. Padahal kenyataannya tidak demikian.
Menjadi Diabetesi Cerdas dan Rasional
Menurut saya, setelah menerima diagnosis diabetes, seseorang perlu mempelajari tiga hal sekaligus.
Pertama, belajar ilmu diabetes. Pahami apa itu gula darah, HbA1c, pola makan, aktivitas fisik, obat, insulin, serta faktor-faktor yang memengaruhi kadar gula darah. Jangan hanya mengandalkan cerita dari grup WhatsApp.
Kedua, belajar mengelola emosi. Diabetes adalah maraton, bukan lari cepat 100 meter. Tidak ada gunanya panik setiap kali melihat gula darah naik. Angka gula darah adalah informasi untuk mengambil keputusan, bukan hukuman dari langit.
Ketiga, belajar memilah informasi. Pengalaman orang lain adalah pelajaran, bukan ramalan. Apa yang terjadi pada seseorang belum tentu terjadi pada diri kita.
Gunakan Grup Diskusi Secara Bijak
Saya tetap mendorong diabetesi untuk bergabung dengan komunitas. Banyak manfaat yang bisa diperoleh dari sana. Namun jadikan grup sebagai tempat belajar, tempat berbagi pengalaman, tempat mencari motivasi, dan tempat saling menguatkan. Jika setiap membaca kisah amputasi kita langsung membayangkan kaki sendiri akan diamputasi, maka grup tersebut justru berubah menjadi sumber stres.
Fokus pada yang Bisa Dikendalikan
Daripada menghabiskan energi untuk mengkhawatirkan sesuatu yang belum tentu terjadi, lebih baik fokus pada hal-hal yang bisa dilakukan hari ini.
– Mengatur pola makan.
– Bergerak lebih aktif.
– Tidur cukup.
– Mengelola stres.
– Mematuhi anjuran tenaga kesehatan.
– Memantau gula darah secara rutin.
Hal-hal sederhana itulah yang dalam jangka panjang akan menentukan kualitas hidup seorang diabetesi.
Pesan untuk Diabetesi Junior
Jika Anda baru didiagnosis diabetes, jangan langsung membayangkan akhir cerita. Anda baru membaca halaman pertama sebuah buku, bukan halaman terakhirnya.
Carilah informasi yang benar. Belajarlah dari pengalaman orang lain. Bangun kebiasaan hidup sehat. Kelola emosi dengan baik.
Yang terpenting, jangan biarkan ketakutan mengambil alih kendali hidupmu.
Tujuan mempelajari diabetes bukan untuk menjadi takut. Tujuan yang sebenarnya adalah agar kita menjadi paham sehingga tahu apa yang harus dilakukan.
Seorang diabetesi yang cerdas tidak menghabiskan waktunya membayangkan kemungkinan terburuk. Ia menggunakan pengetahuannya untuk memperbesar kemungkinan terbaik.
Saya suka kalimat penutup ini karena kuat dan mudah diingat. Bahkan bisa dijadikan kutipan utama artikel:
“Diabetes memang bisa menimbulkan komplikasi. Namun bagi banyak diabetesi, komplikasi pertama yang harus dikalahkan justru adalah ketakutan terhadap diabetes itu sendiri.(jto)






