Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
ADA beberapa kawan yang bersikap lucu. Mereka menolak memeriksakan kesehatan, meski hanya untuk cek gula darah, asam urat, atau kolesterol. Padahal prosesnya sederhana, dan tidak memerlukan waktu lama.
Alasannya justru bikin geli. “Saya tidak mau ketahuan semua penyakit saya. Nanti malah tambah stres,” kata mereka.
Saya biasanya hanya tersenyum mendengarnya. Bagi saya, logika seperti itu sama anehnya dengan seseorang yang menolak melihat spion mobil karena takut mengetahui ada kendaraan di belakangnya. Padahal, kendaraan itu tetap ada, mau dilihat ataupun tidak.
Begitu pula dengan penyakit. Kita tidak menjadi lebih sehat hanya karena tidak mau memeriksakan diri. Penyakit tetap bisa berkembang diam-diam, bahkan sering kali tanpa gejala. Justru karena itulah pemeriksaan kesehatan menjadi sangat penting.
Menurut saya, setiap orang sebaiknya mulai rutin memeriksakan kesehatannya sejak masih merasa sehat, bukan setelah jatuh sakit. Tujuannya bukan mencari-cari penyakit, melainkan memastikan bahwa tubuh kita benar-benar dalam kondisi baik.
Kalaupun ditemukan gangguan kesehatan, biasanya masih berada pada tahap awal sehingga peluang untuk mengatasinya jauh lebih besar. Hal ini berbeda dengan penyakit yang ketahuan ketika sudah parah.
Saat ini semakin banyak penyakit yang dapat dideteksi sejak dini melalui pemeriksaan laboratorium yang relatif sederhana. Misalnya diabetes melalui pemeriksaan gula darah puasa, gula darah dua jam setelah makan, atau HbA1c.
Risiko penyakit jantung dan stroke dapat diperkirakan melalui pemeriksaan kolesterol dan profil lemak darah. Gangguan fungsi ginjal dapat diketahui melalui pemeriksaan kreatinin, ureum, serta urine. Gangguan fungsi hati juga dapat dideteksi melalui pemeriksaan enzim hati.
Bahkan, anemia, infeksi, gangguan asam urat, kelainan tiroid, kekurangan vitamin tertentu, hingga beberapa jenis kanker juga dapat diketahui lebih awal melalui pemeriksaan yang sesuai.
Semakin dini suatu penyakit ditemukan, semakin besar peluang untuk mencegah komplikasi. Dalam banyak kasus, perubahan pola makan, olahraga, penurunan berat badan, atau pengobatan sederhana sudah cukup untuk mengendalikan penyakit sebelum menjadi lebih berat.
Saya sendiri pernah menjadi contoh orang yang keliru. Dulu saya jarang memeriksakan kesehatan karena merasa tubuh baik-baik saja. Baru setelah kondisi memburuk dan harus dirawat di rumah sakit, saya mengetahui bahwa gula darah saya mencapai 596 mg/dL. Angka yang sangat tinggi.
Beruntung, saya segera mendapatkan pertolongan dari tim dokter sehingga kondisi saya dapat dipulihkan.
Seandainya saya rutin melakukan pemeriksaan kesehatan sebelumnya, besar kemungkinan diabetes saya sudah terdeteksi jauh lebih awal. Mungkin saya tidak perlu mengalami kondisi seberat itu.
Syukurlah, sekarang fasilitas pemeriksaan kesehatan semakin mudah dijangkau. Hampir setiap kota memiliki laboratorium kesehatan, baik milik rumah sakit, klinik, maupun laboratorium swasta. Bahkan, banyak laboratorium menyediakan paket medical check-up dengan harga yang semakin terjangkau.
Jangan menunggu tubuh memberikan “alarm” berupa penyakit yang telanjur berat. Lebih baik mengetahui lebih awal, lalu segera mengambil langkah perbaikan.
Pepatah lama mengatakan, lebih baik mencegah daripada mengobati. Lebih baik mengetahui penyakit sejak dini daripada baru mengetahuinya ketika penyakit itu sudah menimbulkan komplikasi. Meskipun sudah berusia ratusan tahun, nasihat itu tetap relevan hingga hari ini.(jto)






