RISKS.ID – Danantara Indonesia memperkuat upaya pengembangan industri material maju melalui penyelenggaraan Danantara’s Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing di Jakarta, 9โ10 Juli. Forum yang melibatkan kementerian, BUMN, akademisi, dan pelaku industri tersebut menjadi wadah penyusunan strategi bersama untuk mempercepat hilirisasi mineral sekaligus memperkuat daya saing manufaktur nasional berbasis teknologi.
Dalam forum tersebut hadir sejumlah pembicara utama, antara lain Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto, Wakil Kepala BP BUMN Tedi Bharata, Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, serta Managing Director Industrialization Danantara Indonesia Ardy Muawin. Mereka menyoroti pentingnya pengembangan material maju sebagai fondasi pertumbuhan industri bernilai tambah tinggi sekaligus penggerak ekonomi masa depan.
CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menegaskan Indonesia harus mengambil peran lebih besar dalam rantai pasok global dengan memaksimalkan nilai tambah sumber daya mineral yang dimiliki. Menurutnya, kekayaan nikel, bauksit, tembaga, timah hingga rare earth seharusnya menjadi modal utama untuk membangun industri berteknologi tinggi di dalam negeri. “Sudah saatnya Indonesia naik kelas dalam rantai nilai material maju. Indonesia diberkahi dengan kekayaan mineral yang luar biasa, namun selama puluhan tahun kita terlalu sering berhenti di titik ekstraksi dan membeli kembali produk jadinya dengan nilai yang jauh lebih tinggi,” ujar Rosan.
Pada kesempatan yang sama, empat BUMN yakni PT Mineral Industri Indonesia (Persero), PT LEN Industri (Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dan PT Perminas (Persero) menandatangani nota kesepahaman pengembangan critical minerals downstreaming. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memperkuat pasokan mineral kritis bagi industri strategis nasional, mempercepat pengembangan teknologi material maju, serta mendukung sektor kendaraan listrik, dirgantara, maritim, pertahanan, hingga ketenagalistrikan.
Chief Technology Officer Danantara Indonesia Sigit P. Santosa mengatakan pembangunan industri middle stream material harus menjadi bagian penting dari transformasi ekonomi Indonesia menuju manufaktur berteknologi tinggi. “Kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada ketersediaan mineral, tetapi pada kemampuan kita mengubahnya menjadi ekosistem industri material maju yang menopang baterai, energi bersih, pertahanan, transportasi, dan berbagai teknologi strategis masa depan,” kata Sigit. Selain dialog, kegiatan juga menghadirkan pameran mineral dan produk material maju dari MIND ID, Krakatau Steel, serta DEFEND ID sebagai gambaran potensi hilirisasi industri nasional.






