Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
PADA 2022 jumlah penyandang diabetes di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 18 juta orang. Sementara itu, BPJS Kesehatan mengeluarkan biaya sekitar Rp2 triliun setiap tahun untuk pengobatan penyakit ini. Angka yang sangat besar dan terus membesar.
Apalagi saat ini jumlah penyandang diabetes diperkirakan telah menembus 20 juta orang! Jika laju pertumbuhannya tidak dikendalikan, bukan tidak mungkin biaya pengobatan akan terus melonjak dari tahun ke tahun.
Karena itu, sudah saatnya perhatian kita bergeser. Jangan hanya sibuk mengobati diabetes. Jauh lebih penting adalah mencegah agar jumlah penyandang diabetes baru tidak terus bertambah.
Ibarat sebuah bendungan, jika air yang masuk jauh lebih besar daripada yang keluar, suatu saat bendungan itu akan jebol. Begitu pula dengan diabetes. Jika jumlah penderita baru terus bertambah sementara upaya pencegahan berjalan lambat, sistem pembiayaan kesehatan nasional akan menghadapi tekanan yang semakin berat.
Pencegahan adalah investasi kesehatan yang jauh lebih murah dibandingkan biaya pengobatan komplikasi diabetes.
Mulai dari Rumah
Upaya pencegahan sebenarnya dimulai dari lingkungan terkecil, yaitu keluarga. Kuncinya sederhana, tetapi sering kali sulit dijalankan.
Pertama, mengubah pola makan. Kurangi konsumsi gula, minuman manis, karbohidrat olahan, dan makanan tinggi lemak jenuh. Sebaliknya, perbanyak sayuran, buah, protein berkualitas, serta makanan yang kaya serat.
Kedua, bergerak lebih aktif. Tidak harus menjadi atlet. Berjalan kaki, bersepeda, berenang, atau senam selama sedikitnya 150 menit setiap minggu sudah memberikan manfaat besar dalam menurunkan risiko diabetes.
Ketiga, menjaga berat badan tetap ideal. Kelebihan berat badan dan obesitas merupakan salah satu faktor risiko utama diabetes tipe 2.
Keempat, menghindari rokok serta membatasi konsumsi alkohol. Kedua kebiasaan ini dapat memperburuk kondisi metabolisme tubuh dan meningkatkan risiko berbagai penyakit kronis.
Yang tidak kalah penting adalah mengelola stres dan tidur yang cukup. Kurang tidur dan stres berkepanjangan terbukti dapat mengganggu kerja hormon yang mengatur kadar gula darah.
Jangan Menunggu Sakit
Banyak orang baru mengetahui dirinya menderita diabetes setelah muncul komplikasi. Padahal diabetes sering berkembang tanpa gejala yang jelas.
Karena itu, pemeriksaan gula darah secara berkala menjadi langkah yang sangat penting, terutama bagi mereka yang berusia di atas 45 tahun, memiliki riwayat diabetes dalam keluarga, mengalami kelebihan berat badan, atau memiliki tekanan darah tinggi. Semakin dini diabetes ditemukan, semakin besar peluang untuk mengendalikannya sebelum menimbulkan komplikasi.
Program Sudah Ada, Tinggal Diperkuat
Sebenarnya Indonesia sudah memiliki berbagai program pencegahan penyakit tidak menular. Salah satunya adalah Posbindu PTM (Pos Pembinaan Terpadu Penyakit Tidak Menular) yang berfungsi melakukan deteksi dini faktor risiko di lingkungan masyarakat. Sayangnya, belum semua daerah mampu mengoptimalkan kegiatan ini.
Ada pula PROLANIS (Program Pengelolaan Penyakit Kronis) dari BPJS Kesehatan yang membantu penyandang diabetes dan hipertensi menjalani kontrol rutin, edukasi, serta mencegah komplikasi yang memerlukan biaya besar.
Pemerintah juga mulai menjalankan program pemeriksaan kesehatan gratis sebagai bagian dari upaya deteksi dini penyakit di masyarakat.
Program-program tersebut sudah berada di jalur yang benar. Tantangannya adalah memperluas jangkauan, meningkatkan kualitas pelaksanaan, dan memastikan masyarakat benar-benar memanfaatkannya.
Jadi, untuk mencegah semakin banyaknya penyandang diabetes pada masa depan, mulailah dari diri sendiri, kemudian meluas di lingkungan keluarga. Pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan peran pemerintah, tanpa partisipasi kita.(jto)






