NGOPI PAGI

joko intarto

Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi

“SAYA ini penggemar kopi. Kalau tidak minum kopi sehari rasanya ada yang kurang.” Kalimat seperti itu mungkin sering kita dengar. Bahkan, banyak diabetesi yang masih menikmati secangkir kopi pada sore atau malam hari dengan alasan agar tetap segar bekerja atau menemani obrolan.

Bacaan Lainnya

Bagi penyandang diabetes, waktu minum kopi pada sore hari, apalagi malam hari, ternyata bisa menurunkan kualitas tidur. Ujung-ujungnya, berpengaruh pada produksi hormon kortisol dan akhirnya memengaruhi kadar gula darah besok pagi.

Banyak orang mengira efek kopi hanya berlangsung satu atau dua jam. Kenyataannya tidak demikian. Kafein memiliki waktu paruh (half-life) sekitar enam jam.

Artinya, jika Anda minum secangkir kopi pukul 14.00, sekitar pukul 20.00 masih ada sekitar 50 persen kafein yang beredar di dalam tubuh. Bahkan, ketika jarum jam menunjukkan pukul 02.00 dini hari, sekitar 25 persen kafein itu masih tersisa.

Coba ingat-ingat: Mungkin Anda sudah merasa mengantuk. Namun, otak masih “mencium” keberadaan kafein tersebut.

Kafein bekerja dengan menghambat adenosin, yaitu zat alami yang membuat kita merasa lelah dan mengantuk setelah beraktivitas seharian. Ketika adenosin dihambat, rasa kantuk berkurang.

Akibatnya, kita memang masih bisa tidur, tetapi kualitas tidurnya menurun. Yang paling sering terganggu adalah fase tidur dalam (deep sleep), yaitu fase ketika tubuh melakukan proses pemulihan, memperbaiki jaringan, mengatur hormon, serta meningkatkan sensitivitas insulin.

Inilah jawaban atas pertanyaan mengapa seseorang yang tidur selama tujuh atau delapan jam, tetapi bangun dalam keadaan lelah?

Tidur Berkualitas Membantu Mengendalikan Kortisol

Saat menjelang pagi, tubuh secara alami meningkatkan produksi hormon kortisol. Hormon ini berfungsi membangunkan tubuh dan menyiapkannya untuk beraktivitas.

Masalah muncul ketika kualitas tidur buruk. Kurang tidur atau tidur yang tidak nyenyak membuat tubuh menganggap dirinya sedang menghadapi stres. Akibatnya, produksi kortisol bisa menjadi lebih tinggi dari yang diperlukan.

Kortisol yang berlebihan mendorong hati melepaskan lebih banyak glukosa ke dalam aliran darah. Akibatnya, gula darah pagi hari menjadi lebih tinggi. Kondisi inilah yang sering dialami banyak diabetesi, meskipun malam sebelumnya mereka tidak makan berlebihan.

Dengan kata lain, tidur yang berkualitas membantu menjaga produksi kortisol tetap normal. Ketika kortisol terkendali, kadar gula darah pun lebih mudah dikendalikan.

Ngopi Pagi 

Apakah diabetesi harus berhenti minum kopi? Tidak.

Banyak penelitian menunjukkan bahwa kopi, terutama kopi tanpa tambahan gula, masih dapat menjadi bagian dari pola hidup sehat. Yang perlu diperhatikan adalah waktunya.

Jika Anda terbiasa tidur sekitar pukul 21.00 atau 22.00, sebaiknya secangkir kopi terakhir diminum sebelum lewat tengah hari. Dengan begitu, sebagian besar kafein sudah keluar dari tubuh ketika waktu tidur tiba.

Cara sederhana ini memberi kesempatan kepada otak untuk menikmati tidur yang lebih dalam, membantu tubuh mengatur hormon dengan lebih baik, dan menjaga gula darah tetap stabil keesokan harinya.

Mengendalikan diabetes tidak selalu dimulai dari obat atau makanan. Kadang-kadang, perubahan kecil dalam kebiasaan sehari-hari justru memberi manfaat yang besar. Salah satunya adalah mengubah jadwal minum kopi.

Jadi, jika Anda seorang diabetesi yang tidak bisa berpisah dengan kopi, tidak perlu merasa bersalah. Tetaplah menikmati secangkir kopi favorit Anda. Namun ingat satu aturan sederhana: ngopilah pagi, sebelum lewat tengah hari.(jto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *