Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi
TERUS terang saya sedih membaca berita ini. Seorang anak yang baru memasuki bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) ternyata sudah menyandang diabetes tipe 2. Penyakit yang dulu identik dengan orang berusia di atas 40 tahun, kini mulai menyerang anak-anak dan remaja.
Informasi tersebut saya baca di platform media sosial X. Dalam pemberitaan itu, Wakil Menteri Kesehatan RI, Dante Saksono Harbuwono, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap semakin banyaknya kasus diabetes tipe 2 pada usia muda. Bahkan, sudah ditemukan pada anak yang masih duduk di bangku SMP.
Fenomena ini menunjukkan bahwa diabetes bukan lagi penyakit orang tua. Gaya hidup modern telah mengubah wajah penyakit ini.
Yang lebih memprihatinkan, banyak kasus diabetes pada remaja bukan disebabkan oleh faktor keturunan. Penyebab utamanya justru berasal dari kebiasaan sehari-hari. Terlalu lama duduk di depan layar gawai, jarang bergerak, kurang tidur, sering mengalami stres, serta gemar mengonsumsi minuman manis dan makanan ultra-proses menjadi kombinasi yang sangat berbahaya.
Tubuh sebenarnya telah memberikan sinyal. Namun, sinyal itu sering diabaikan karena gejalanya berkembang perlahan.
Penderitanya mungkin mulai sering merasa haus, lebih sering buang air kecil, mudah lelah, penglihatannya mulai kabur, atau muncul penggelapan kulit di bagian leher dan ketiak.
Kondisi terakhir dikenal sebagai acanthosis nigricans, yang merupakan salah satu tanda terjadinya resistensi insulin.
Sayangnya, tidak sedikit penderita yang sama sekali tidak merasakan keluhan. Diabetes baru diketahui ketika menjalani pemeriksaan kesehatan atau medical check-up. Karena itulah diabetes sering disebut sebagai “penyakit yang datang diam-diam”.
Padahal, bila terlambat diketahui, dampaknya bisa sangat serius. Kadar gula darah yang terus tinggi dapat merusak pembuluh darah dan berbagai organ tubuh. Komplikasinya meliputi penyakit jantung, gagal ginjal, kerusakan saraf, hingga gangguan penglihatan yang dapat berakhir pada kebutaan.
Diabetes tipe 2 sebanarnya sangat mungkin dicegah. Pencegahannya tidak memerlukan teknologi canggih ataupun biaya mahal. Keluarga dapat memulainya dari rumah dengan membiasakan anak mengonsumsi makanan bergizi seimbang, mengurangi minuman berpemanis, membatasi waktu bermain gawai, mengajak seluruh anggota keluarga lebih banyak bergerak, serta memastikan waktu tidur yang cukup setiap hari.
Sekolah juga memiliki peran penting. Lingkungan sekolah yang mendorong aktivitas fisik, menyediakan pilihan makanan sehat, dan memberikan edukasi tentang pola hidup sehat akan membantu melindungi generasi muda dari ancaman diabetes.
Satu langkah lain yang sering dilupakan adalah melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Jangan menunggu tubuh memberikan “alarm” berupa gejala penyakit. Pemeriksaan gula darah, tekanan darah, berat badan, dan lingkar perut sebaiknya menjadi agenda rutin seluruh anggota keluarga, termasuk mereka yang masih berusia muda.
Banyak orang merasa dirinya sehat sehingga menunda pemeriksaan kesehatan. Padahal, diabetes tidak selalu datang dengan keluhan. Ketika gejalanya muncul, kerusakan pada organ tubuh bisa saja sudah berlangsung cukup lama.
Pepatah lama masih sangat relevan hingga hari ini: mencegah lebih baik daripada mengobati.(jto)






