KAYU HARAPAN

joko intarto

Oleh: JOKO INTARTO
Diabetesi

SAYA selalu senang membaca kabar tentang lahirnya harapan baru bagi para penyandang diabetes. Kali ini kabar baik itu datang dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), melalui unggahan resminya di platform media sosial X.

Bacaan Lainnya

Lembaga riset milik pemerintah tersebut sedang mengembangkan pemanfaatan kulit kayu raru sebagai bahan obat herbal untuk membantu mengendalikan diabetes. Penelitian ini menarik karena memanfaatkan kekayaan hayati Indonesia yang selama ini mungkin hanya dikenal sebagai bagian dari tradisi masyarakat.

Mengapa penelitian seperti ini penting? Jumlah penyandang diabetes di dunia terus meningkat. Kini jumlahnya sudah mendekati setengah miliar orang. Yang lebih mengkhawatirkan, sebagian besar dari mereka belum mengetahui bahwa dirinya telah mengidap diabetes. Penyakit ini berkembang perlahan dan sering kali baru diketahui setelah muncul komplikasi.

Karena itu, pencarian terapi yang lebih efektif, aman, dan terjangkau terus dilakukan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Salah satu tanaman yang kini menjadi perhatian para peneliti adalah kayu raru (Vatica perakensis). Selama ini masyarakat mengenalnya sebagai bahan yang digunakan dalam proses fermentasi minuman tradisional sekaligus pemberi cita rasa yang khas. Namun, kulit kayu raru ternyata menyimpan potensi yang jauh lebih besar.

Para peneliti menemukan bahwa kulit kayu raru mengandung senyawa fenolik yang diduga mampu membantu mengendalikan kadar gula darah. Salah satu mekanismenya adalah menghambat kerja enzim alfa-glukosidase, yaitu enzim yang bertugas memecah karbohidrat menjadi gula sederhana yang kemudian diserap tubuh. Semakin lambat proses pemecahan karbohidrat, semakin lambat pula kenaikan kadar gula darah setelah makan.

Hasil penelitian laboratorium menunjukkan kemampuan ekstrak kayu raru menghambat aktivitas enzim tersebut mencapai lebih dari 90 persen secara in vitro. Sementara itu, penelitian pada tikus jantan yang mengalami diabetes menunjukkan bahwa pemberian ekstrak tunggal kulit kayu raru mampu menurunkan kadar gula darah hingga sekitar 22 persen.

Penelitian tidak berhenti sampai di situ. BRIN juga mengembangkan formulasi baru dengan mengombinasikan ekstrak kulit kayu raru dan karbon aktif berbahan mocaf, yaitu tepung singkong termodifikasi. Dalam formulasi ini, karbon aktif berfungsi sebagai carrier atau pembawa yang membantu menjaga kestabilan zat aktif sehingga penyerapannya menjadi lebih optimal.

Hasilnya cukup menjanjikan. Pada komposisi tertentu, kombinasi tersebut tetap mampu menurunkan kadar gula darah, meskipun besar penurunannya berbeda-beda sesuai dengan rasio campurannya.

Penelitian ini masih merupakan tahapan awal. Sebagian besar hasilnya masih berasal dari penelitian laboratorium dan uji pada hewan. Agar dapat digunakan sebagai obat untuk manusia, kulit kayu raru masih harus melewati serangkaian penelitian lanjutan, mulai dari uji keamanan, uji efektivitas pada manusia, hingga memenuhi persyaratan sebagai Obat Herbal Terstandar (OHT) atau bahkan fitofarmaka.

Artinya, saat ini kita belum bisa serta-merta menganggap kayu raru sebagai obat diabetes yang siap digunakan masyarakat luas. Meski demikian, penelitian ini memberikan secercah harapan. 

Indonesia memiliki kekayaan hayati yang luar biasa. Jika terus diteliti secara ilmiah, bukan tidak mungkin berbagai tanaman obat asli Nusantara akan berkembang menjadi produk kesehatan yang diakui secara medis, baik di dalam maupun luar negeri.(jto)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *