RISKS.ID – PT Bukit Asam Tbk (PTBA) membukukan lonjakan kinerja keuangan signifikan sepanjang semester I 2026.
Anggota Holding BUMN Pertambangan MIND ID ini mengantongi laba bersih Rp2,65 triliun, atau meroket 218 persen secara tahunan (year-on-year) di tengah pergerakan pasar komoditas global.
Perolehan positif tersebut disokong oleh kenaikan pendapatan perusahaan yang menyentuh Rp22,03 triliun, tumbuh 8 persen dibandingkan periode sama tahun lalu.
Pemulihan volume operasional pada kuartal II 2026 serta penguatan pasar ekspor ke negara-negara Asia seperti Vietnam, India, dan Thailand menjadi pendorong utama pertumbuhan.
Sepanjang enam bulan pertama, PTBA mencatat total volume penjualan sebesar 21,10 juta ton dengan porsi ekspor mencapai 10,33 juta ton.
Selain terdorong kenaikan indeks harga batubara global, kenaikan rata-rata harga jual (average selling price) turut menjaga margin margin keuntungan perseroan.
Direktur Utama PTBA, Bambang Ismawan, menjelaskan bahwa keberhasilan ini tidak lepas dari kemampuan perusahaan merespons perubahan pasar dengan cepat dan disiplin pada efisiensi biaya operasional.
“Memasuki periode dengan kondisi operasional yang lebih kondusif, Perseroan berhasil mendorong pemulihan kinerja produksi sekaligus memperkuat penjualan ekspor, baik secara kuartalan maupun tahunan.
Momentum penguatan harga batubara global kami manfaatkan melalui strategi penjualan yang adaptif, disertai program efisiensi untuk menjaga disiplin biaya,” ujar Bambang.
Di samping memaksimalkan penjualan komoditas utama, PTBA mempercepat penyelesaian infrastruktur logistik kunci.
Proyek jalur angkutan batubara Tanjung Enim–Kramasan yang kini telah mencapai progres 93 persen disiapkan untuk menekan biaya distribusi jangka panjang.
Langkah pendanaan proyek ini turut didukung komitmen pembiayaan bank Himbara hingga Rp3,56 triliun.
Guna memastikan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan, perseroan juga mulai menggarap diversifikasi usaha non-batubara konvensional.
PTBA menjajaki hilirisasi melalui proyek Dimethyl Ether (DME), metanol, hingga riset olahan Kalium Humat untuk sektor pertanian.
Di sektor energi terbarukan, kemitraan bersama PT Pertamina Power Indonesia terus dibangun untuk pemanfaatan lahan pascatambang menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).






