RISKS.ID – Menteri Perdagangan Budi Santoso menyebut bahan baku atau barang penolong masih mendominasi struktur impor Indonesia sepanjang Januari–November 2025. Kontribusinya mencapai 70,27 persen dari total impor nasional.
Dalam keterangan resmi Kementerian Perdagangan, Budi menjelaskan porsi impor tersebut diikuti barang modal sebesar 20,55 persen dan barang konsumsi 9,18 persen. Struktur ini menunjukkan aktivitas industri masih menjadi penggerak utama impor.
Dibandingkan periode Januari–November 2024, impor barang modal melonjak 18,54 persen. Sebaliknya, impor barang konsumsi turun 2,02 persen dan bahan baku atau penolong terkoreksi 1,46 persen.
“Kenaikan impor barang modal yang mencapai 18,54 persen turut disebabkan naiknya impor central processing unit (CPU), ponsel pintar, mobil listrik selain completely knocked down (CKD), serta base station,” ujar Budi, Rabu (07/01/2026).
Untuk kelompok bahan baku atau penolong, penurunan terdalam terjadi pada impor bahan bakar minyak, gula tebu, kacang kedelai, bungkil untuk pakan ternak, dan polipropilena.
Sementara itu, penurunan impor barang konsumsi terutama berasal dari mesin pengatur suhu udara, bawang putih, mobil listrik CKD, non-dairy creamer, dan obat-obatan.
Pada November 2025, nilai impor Indonesia tercatat sebesar 19,86 miliar dolar AS. Angka tersebut turun 9,09 persen dibandingkan Oktober 2025 secara bulanan (month to month/MoM).
Nilai impor November 2025 terdiri atas sektor nonmigas sebesar 17,00 miliar dolar AS dan migas 2,86 miliar dolar AS. Secara kumulatif, impor Indonesia pada Januari–November 2025 mencapai 218,02 miliar dolar AS atau tumbuh 2,03 persen secara tahunan (cumulative to cumulative/CtC).
Budi mengatakan peningkatan tersebut terutama didorong impor nonmigas yang naik 4,37 persen menjadi 188,61 miliar dolar AS, dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 180,71 miliar dolar AS.
Beberapa komoditas impor nonmigas dengan kenaikan tertinggi antara lain garam, belerang, batu, dan semen (HS 25) yang melonjak 70,89 persen, kakao dan olahannya (HS 18) naik 54,53 persen, serta berbagai produk kimia (HS 38) meningkat 36,12 persen.
Berdasarkan negara asal, impor nonmigas Indonesia masih didominasi Tiongkok, Jepang, dan Amerika Serikat. Ketiganya berkontribusi gabungan sebesar 52,87 persen terhadap total impor nonmigas.
Sementara itu, negara asal impor dengan kenaikan tertinggi dibandingkan Januari–November 2024 adalah Meksiko sebesar 234,22 persen, Uni Emirat Arab 74,86 persen, dan Spanyol 38,32 persen.
Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia pada November 2025 kembali mencatat surplus sebesar 2,66 miliar dolar AS. Nilai ini lebih tinggi dibandingkan surplus Oktober 2025 yang tercatat 2,39 miliar dolar AS.
Dengan capaian tersebut, Indonesia berhasil mempertahankan tren surplus neraca perdagangan selama 67 bulan berturut-turut. Secara kumulatif, surplus neraca perdagangan Januari–November 2025 mencapai 38,54 miliar dolar AS, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama 2024 sebesar 29,24 miliar dolar AS.
Dari sisi ekspor, nilai ekspor Indonesia pada November 2025 mencapai 22,52 miliar dolar AS atau turun 7,08 persen secara MoM. Namun secara kumulatif, total ekspor Januari–November 2025 mencapai 256,56 miliar dolar AS atau tumbuh 5,61 persen secara tahunan.
Peningkatan kinerja ekspor tersebut turut ditopang oleh ekspor nonmigas yang tumbuh 7,07 persen secara CtC menjadi 244,75 miliar dolar AS.






