Rupiah Terus Melemah, BI Perlu Perkuat Pasokan Valas

usd and rupiah
Nilai tukaDolar AS terus melemah. Foto: TheAsianParent

RISKS.ID – Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto memandang Bank Indonesia (BI) perlu memperkuat pengelolaan pasokan valuta asing (valas) di pasar domestik sebagai respons atas pelemahan nilai tukar rupiah yang mendekati Rp17.000 per dolar AS.

Myrdal menilai tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan dolar AS di dalam negeri.

Bacaan Lainnya

Dari sisi permintaan, kebutuhan valas dinilai masih relatif konsisten, terutama berasal dari aktivitas impor serta kewajiban pembayaran utang luar negeri. Jika terjadi peningkatan, kata dia, sifatnya masih musiman pada awal tahun.

Namun, pasokan valas di pasar domestik dinilai relatif terbatas. Menurut Myrdal, kondisi tersebut kemungkinan disebabkan oleh eksportir, khususnya eksportir sumber daya alam nonmigas, yang belum optimal mengonversi devisa hasil ekspor ke rupiah.

“Ketimpangan antara ketersediaan dolar dan kebutuhan valas domestik membuat dolar menguat dan rupiah tertekan. Padahal, dari sisi fundamental, seharusnya rupiah berada pada tren penguatan,” ujar dia dikutip dari kantor berita Antara.

Karena itu, Myrdal menilai BI perlu mendorong peningkatan pasokan valas di pasar domestik, salah satunya melalui imbauan kepada eksportir agar segera mengonversi dolar hasil ekspor ke rupiah. Peran pemerintah juga dinilai penting untuk memperkuat kebijakan yang mendorong perputaran devisa di dalam negeri.

Ia menambahkan, pelemahan rupiah terjadi di tengah kondisi fundamental eksternal yang relatif solid.

“Pelemahan rupiah saat ini terjadi di tengah inflow ke pasar keuangan, surplus neraca perdagangan selama 67 bulan berturut-turut, serta neraca transaksi berjalan yang surplus pada kuartal III 2025,” kata Myrdal.

Selain penguatan pasokan valas, BI juga dinilai perlu terus melakukan intervensi stabilisasi melalui berbagai instrumen, seperti pasar surat berharga negara (SBN) sekunder, pasar spot rupiah, instrumen NDF dan DNDF, serta transaksi swap valas.

Pandangan serupa disampaikan Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman. Menurut dia, stabilisasi nilai tukar tidak cukup jika hanya mengandalkan intervensi di pasar spot.

“Ketika tekanan berasal dari arus modal jangka pendek, efektivitas intervensi konvensional menjadi terbatas. Karena itu, diperlukan kombinasi intervensi di pasar spot, instrumen derivatif valas, serta stabilisasi pasar obligasi,” ujar Rizal.

Ia menilai penguatan pasokan valas domestik melalui optimalisasi devisa hasil ekspor perlu terus diperkuat agar stabilitas rupiah tidak sepenuhnya bergantung pada arus modal asing.

Menurut Rizal, pelemahan rupiah mendekati Rp17.000 per dolar AS saat ini lebih mencerminkan tekanan siklikal global dibandingkan memburuknya fundamental ekonomi domestik.

Secara global, penguatan dolar AS masih didukung oleh tingginya imbal hasil US Treasury serta ekspektasi suku bunga global yang bertahan lebih lama. Kondisi tersebut menekan mayoritas mata uang negara berkembang di Asia, termasuk rupiah.

Meski demikian, Rizal menegaskan pelemahan rupiah saat ini belum dapat dikategorikan sebagai sinyal krisis.

“Selama volatilitas masih terkendali, inflasi tetap dalam target, neraca eksternal solid, dan cadangan devisa memadai, tekanan ini belum menjadi alarm krisis,” kata dia.

Ia menambahkan, stabilisasi bahkan penguatan rupiah tetap memiliki peluang, meski tidak terjadi secara otomatis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *