Rupiah Tersungkur ke Rp17.287 per Dolar AS, Terseret Lonjakan Harga Minyak Dunia

usd and rupiah
Nilai tukaDolar AS terus melemah. Foto: TheAsianParent

RISKS.ID – Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan hari ini. Mata uang Garuda melemah 106 poin atau 0,62 persen ke level Rp17.287 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp17.181 per dolar AS.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova mengungkapkan, tekanan terhadap rupiah tidak lepas dari lonjakan harga minyak dunia. Kondisi tersebut dipicu eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang berdampak pada penutupan Selat Hormuz.

Bacaan Lainnya

“Pelemahan rupiah pada perdagangan hari ini dipengaruhi oleh kenaikan harga minyak dunia akibat berlanjutnya perang AS dan Iran yang berimbas pada penutupan Selat Hormuz,” kata dia kepada wartawan di Jakarta, Kamis (23/4).

Situasi semakin rumit setelah pertemuan putaran kedua antara AS dan Iran di Pakistan untuk membahas negosiasi damai dan gencatan senjata batal terlaksana. Iran memilih tidak hadir lantaran adanya blokade yang dilakukan AS di Selat Hormuz.

AS kemudian memutuskan gencatan senjata sepihak sembari tetap menekan Iran agar tidak memberlakukan tarif di Selat Hormuz serta menghentikan pengayaan uranium. Langkah tersebut diambil dengan rencana penyimpanan uranium oleh pihak AS.

Sebagaimana dilaporkan Sputnik, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menilai pelanggaran komitmen, blokade di Selat Hormuz, serta ancaman dari AS menjadi hambatan utama dalam proses negosiasi. Dia menegaskan bahwa Iran selalu terbuka terhadap dialog, namun tekanan dan ancaman membuat upaya damai sulit terwujud.

Sementara itu, laporan Anadolu menyebutkan harga energi melonjak akibat ketidakpastian gencatan senjata yang rapuh. Risiko gagalnya negosiasi memicu kekhawatiran baru terhadap gangguan pasokan global.

Mengutip Xinhua, harga minyak mentah Brent berada di kisaran 102,25 dolar AS per barel pada pukul 02.00 GMT Rabu. Sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik ke level 93,47 dolar AS per barel.

Dari dalam negeri, sentimen negatif juga datang dari aksi jual obligasi pemerintah di berbagai tenor. Hal ini memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas ekonomi dan arah kebijakan ke depan.

Aksi jual tersebut tercermin dari kenaikan imbal hasil di hampir semua tenor. Imbal hasil tenor 1 tahun naik 9,5 basis points (bps), tenor 2 tahun 2,1 bps, sementara tenor 3 dan 4 tahun masing-masing melonjak 10,2 bps dan 12,2 bps.

“Tenor 5 tahun naik 12,2 bps, bahkan tenor acuan 10 tahun meningkat 9,1 bps menjadi 6,73 persen,” jelas Rully.

Di sisi lain, kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dirilis Bank Indonesia juga menunjukkan pelemahan ke level Rp17.308 per dolar AS, dari sebelumnya Rp17.179 per dolar AS.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *