Bedong Bayi Bisa Cegah Kaki O, Mitos atau Fakta?

bedong bayi
Ilustrasi bedong bayi. Foto: Shutterstock

RISKS.ID – Dokter spesialis ortopedi subspesialis ortopedi anak lulusan Universitas Indonesia, Dr. Mohammad Aulia Herdiyana Sp.OT Subsp. A (K), membantah anggapan bahwa membedong bayi dapat membantu meluruskan bentuk kaki agar tidak menjadi O atau X.

Menurut Aulia, anggapan tersebut merupakan mitos yang masih banyak dipercaya masyarakat.

Bacaan Lainnya

“Jelas saya mengatakan itu mitos. Justru kita agak peduli bahwa studi-studi menyebut ternyata dengan membedong yang terlalu rapat, justru akan berpengaruh ke panggulnya,” ujar Aulia dalam temu media di Jakarta, Rabu (28/1/2026).

Dokter yang berpraktik di RS Pondok Indah–Puri Indah itu menjelaskan, kondisi kaki berbentuk O (genu varum) atau X (genu valgum) pada bayi baru lahir merupakan hal yang normal dan umumnya akan membaik seiring bertambahnya usia, tanpa memerlukan intervensi apa pun.

Namun, kondisi tersebut berpotensi tidak mengalami perubahan apabila bayi memiliki faktor keturunan.

Aulia menegaskan, membedong kaki bayi terlalu rapat justru berisiko membahayakan. Tekanan berlebihan dapat menyebabkan bagian bonggol di sekitar panggul bergerak ke arah luar, yang berpengaruh terhadap aktivitas anak di kemudian hari.

“Panjang kaki bisa jadi berbeda, sehingga gerakan anak terbatas. Anak jadi kesulitan menggerakkan panggul seluas mungkin,” kata Aulia.

Jika kondisi tersebut dibiarkan, lanjut dia, pola berjalan anak juga dapat berubah akibat perbedaan panjang kaki.

“Tapi kalau dibiarin terus, ya tadi, pola jalan juga berubah karena kan ada beda panjang kakinya,” ujar Aulia.

Meski demikian, Aulia tidak melarang orangtua membedong bayi. Ia hanya mengingatkan agar bedong tidak dilakukan terlalu kencang dan bayi tetap memiliki ruang untuk bergerak dengan nyaman.

Selain itu, Aulia juga menyinggung kebiasaan anak duduk dengan posisi W yang dinilai dapat memengaruhi pertumbuhan sudut dan posisi panggul.

“Ketika anak di posisinya W itu kan dia mutar ke dalam. Sehingga dia merangsang tulangnya itu dalam posisi 30 derajat tadi. Yang terjadi adalah ketika dia terlalu besar intervensinya, supaya dia nyaman, dia akan memutar kakinya ke dalam,” jelasnya.

Kebiasaan berjalan dengan kaki mengarah ke dalam (intoeing) dapat terjadi jika anak terbiasa berada pada posisi tersebut. Oleh karena itu, orangtua disarankan untuk membiasakan anak duduk bersila atau duduk di atas kursi sebagai alternatif yang lebih baik bagi pertumbuhan tulang dan sendi.

Dengan pemahaman yang tepat, orangtua diharapkan tidak lagi terpaku pada mitos dan dapat memberikan stimulasi yang aman serta mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *