Tumbuh 5,61 Persen, Apindo Soroti Dampak Tak Merata dan Tekanan Biaya Dunia Usaha

shinta kamdani

RISKS.ID – Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) pada triwulan I 2026 dinilai belum sepenuhnya dirasakan dunia usaha. Pada Rabu, 6 Mei 2026, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menyoroti adanya ketimpangan dampak pertumbuhan di tengah tekanan biaya yang meningkat.

Dia menyebut, capaian tersebut memang menunjukkan resiliensi ekonomi domestik yang cukup kuat. Namun, pelaku usaha lebih menyoroti bagaimana pertumbuhan itu ditransmisikan ke aktivitas bisnis riil.

Bacaan Lainnya

“Dunia usaha menghadapi situasi asymmetric impact of growth, di mana pertumbuhan tetap terjadi, tetapi manfaatnya belum terdistribusi secara merata, sementara tekanan biaya meningkat,” kata dia di Jakarta.

Menurut dia, kondisi tersebut mencerminkan ketidakseimbangan antara pertumbuhan makro dengan realitas di tingkat mikro. Di satu sisi ekonomi tumbuh, tetapi di sisi lain pelaku usaha menghadapi tekanan yang semakin besar.

Salah satu faktor utama adalah pelemahan nilai tukar rupiah. Depresiasi dari kisaran Rp16.800 per dolar AS pada awal tahun menjadi mendekati Rp17.400 per dolar AS pada akhir triwulan I 2026 meningkatkan biaya produksi, terutama bagi sektor yang bergantung pada bahan baku impor.

Dia menjelaskan, kondisi tersebut berdampak langsung pada margin keuntungan hingga membatasi ekspansi usaha di sejumlah sektor.

Dari sisi struktur pertumbuhan, sektor berbasis konsumsi domestik menjadi yang paling diuntungkan. Beberapa di antaranya adalah penyediaan akomodasi dan makan minum yang tumbuh 13,14 persen, transportasi dan pergudangan 8,04 persen, jasa kesehatan dan kegiatan sosial 7,62 persen, serta perdagangan besar dan eceran 6,26 persen.

“Sektor-sektor ini jelas mendapatkan manfaat dari demand-driven expansion, khususnya karena lonjakan mobilitas dan konsumsi masyarakat selama periode libur panjang,” ujar dia.

Namun, kondisi berbeda terjadi pada sektor manufaktur yang justru terkontraksi 1,01 persen. Padahal, sektor ini merupakan tulang punggung industri nasional dalam mendorong pertumbuhan ekonomi.

Dia menambahkan, kondisi tersebut menunjukkan bahwa meski secara agregat data Produk Domestik Bruto (PDB) terlihat solid, di tingkat mikro banyak pelaku usaha masih menghadapi tekanan, terutama berupa penyusutan margin keuntungan (margin compression).

Karena itu, dia menilai diperlukan langkah ke depan agar pertumbuhan ekonomi tidak hanya tinggi secara angka, tetapi juga merata dan berkelanjutan.

“Momentum pertumbuhan 5,61 persen ini perlu dijaga melalui penguatan stabilitas nilai tukar, pengendalian inflasi, serta kebijakan yang mampu meningkatkan daya saing industri nasional, khususnya sektor manufaktur dan industri padat karya yang saat ini menghadapi tekanan biaya cukup besar,” pungkas dia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *