RISKS.ID – Penerapan Solar B40 mulai memunculkan tantangan baru bagi industri alat berat. Pada Selasa, 05 Mei 2026, pelaku industri menyoroti meningkatnya risiko unscheduled downtime yang berpotensi mengganggu efisiensi operasional sekaligus menekan profitabilitas perusahaan.
Selama ini, unscheduled downtime memang menjadi persoalan klasik yang sulit dihindari. Namun, dampaknya tidak hanya bersifat teknis. Gangguan ini juga memicu berbagai biaya tersembunyi (hidden cost) yang secara langsung menggerus margin keuntungan perusahaan.
Biaya tersebut meliputi tetap berjalanya sewa alat dan gaji operator meskipun unit tidak beroperasi, potensi kehilangan produksi, hingga risiko penalti akibat keterlambatan proyek. Bahkan, dalam sejumlah kasus, kerusakan unit memaksa mobilisasi keluar area kerja yang menambah beban logistik.
Seiring implementasi Solar B40 sebagai bagian dari transisi energi nasional, industri kini juga harus beradaptasi dengan karakteristik bahan bakar tersebut yang membutuhkan pengelolaan lebih cermat.
Tiga Tantangan Utama Solar B40
Di lapangan, terdapat tiga persoalan utama yang kerap muncul dan berpotensi memicu gangguan operasional:
Pertama, sifat higroskopis atau mudah menyerap air. Kondisi ini meningkatkan risiko kontaminasi yang dapat menurunkan kualitas bahan bakar serta performa mesin.
Kedua, munculnya endapan (sludge) dan slime. Kandungan biodiesel memicu pertumbuhan mikroba serta proses oksidasi alami akibat adanya FAME (fatty acid methyl ester), yang dapat menyumbat filter dan mengganggu sistem injeksi.
Ketiga, stabilitas bahan bakar yang lebih rendah. Solar B40 cenderung lebih cepat teroksidasi sehingga kualitasnya menurun apabila tidak dikelola dengan sistem penyimpanan yang tepat.
Head of Marketing PT Islaverde Bioinnovation Utama Luthfi Hernowo menjelaskan, masalah tersebut dapat berdampak langsung pada performa unit.
“Jika tidak dikelola dengan baik, endapan (sludge) dan slime dapat masuk ke sistem injeksi dan menyebabkan gangguan performa mesin, seperti hunting hingga tripping saat unit beroperasi pada beban tinggi,” ujar dia.
Dia menambahkan, sebagian besar persoalan tersebut sebenarnya dapat dicegah melalui pengelolaan bahan bakar yang lebih sistematis.
“Pendekatan preventif menjadi kunci. Dengan menjaga stabilitas bahan bakar, meminimalkan potensi endapan, serta mengontrol partikel pencemar sejak di tangki penyimpanan, risiko downtime bisa ditekan signifikan,” tambah dia.
Peran Data dan Uji Laboratorium
Pendekatan preventif tidak lepas dari pentingnya data sebagai indikator objektif. Melalui pengujian laboratorium, kualitas bahan bakar dapat dipantau secara akurat untuk memastikan stabilitas sekaligus meminimalkan kontaminasi.
Hasil pengujian menunjukkan bahwa pengelolaan bahan bakar yang tepat mampu menjaga performa mesin tetap optimal dan menekan potensi gangguan operasional. Dengan demikian, perusahaan dapat menghindari biaya tak terduga akibat unscheduled downtime.
Langkah ini dinilai semakin relevan di era Solar B40, di mana presisi dalam pengelolaan bahan bakar menjadi faktor kunci keberlanjutan operasional industri.
Dorong Transformasi ke Pola Preventif
Sebagai informasi, PT Islaverde Bioinnovation Utama merupakan perusahaan yang fokus mengembangkan solusi berbasis teknologi untuk efisiensi dan keberlanjutan industri. Perusahaan ini merupakan bagian dari Wahana Artha Group.
Melalui inovasi seperti Verdeen Industrial Diesel, perusahaan menawarkan pendekatan berbasis tiga pilar utama, yakni menjaga stabilitas bahan bakar selama penyimpanan, mengoptimalkan proses pembakaran, serta melindungi komponen mesin dari risiko korosi dan kontaminasi.
Pendekatan tersebut diharapkan mampu mendorong pelaku industri beralih dari pola reaktif menuju strategi preventif dalam mengelola risiko operasional, sekaligus menjaga produktivitas dan profitabilitas jangka panjang.






