AKU tidak pernah benar-benar percaya pada kebetulan.
Di pekerjaanku dulu, semua selalu punya motif. Semua punya arah. Bahkan senyum pun kadang menyimpan jebakan.
Tapi sejak melihat wajah Mariyani di dalam kameraku pagi itu, aku mulai ragu pada keyakinanku sendiri.
Selama hampir dua minggu di Kediri, aku beberapa kali kembali ke Jalan Stasiun Kediri. Kadang pagi sekali setelah subuh. Kadang sore menjelang lampu-lampu jalan menyala.
Aku duduk di bangku trotoar sambil memegang kamera.
Berharap melihat cardigan abu-abu itu lagi.
Tapi Mariyani tidak pernah muncul.
Yang datang justru kenangan-kenangan lama yang tidak kuundang.
Tentang masa SMA kami.
Tentang hujan yang sering turun saat pulang sekolah.
Tentang Mariyani yang selalu membawa novel di dalam tasnya.
Dan tentang aku yang terlalu pengecut untuk sekadar bilang bahwa aku menyukainya.
Mungkin hidup memang seperti itu.
Kita sering kehilangan sesuatu bahkan sebelum sempat memilikinya.
Sampai suatu malam, Reno menghubungiku.
Reno teman sebangkuku waktu SMA. Sekarang perutnya sudah maju ke depan dan rambutnya tinggal separuh, tapi suaranya masih sama kerasnya.
“Datang alumni, Wan. Jangan ngilang terus. Sekali-sekali ketemu orang hidup.”
Aku sempat malas datang.
Terlalu banyak bagian dari diriku yang rasanya gagal untuk dipertontonkan di depan teman-teman lama.
Aku yang dulu paling ambisius.
Paling yakin akan sukses.
Kini pulang ke Kediri sendirian dengan hidup berantakan.
Tapi akhirnya aku datang juga.
Acara alumni itu diadakan di aula sekolah SMA kami yang tidak banyak berubah. Cat dindingnya masih krem pucat. Pohon ketapang di halaman masih berdiri besar seperti dulu.
Bedanya hanya kami.
Kami semua menua.
Aku baru masuk ketika suara tawa dan obrolan memenuhi aula. Beberapa wajah langsung menepuk pundakku, memelukku, bertanya tentang Jakarta, pekerjaan, keluarga.
Aku menjawab seperlunya.
Aku sudah terlalu lelah menjelaskan hidupku.
Lalu di tengah keramaian itu, mataku berhenti pada seorang perempuan yang sedang menuangkan teh ke gelas plastik.
Cardigan abu-abu muda!
Rambut sebahu.
Dan senyum yang masih sama seperti belasan tahun lalu.
Mariyani.
Dunia rasanya mendadak melambat.
Dia mengangkat wajah.
Mata kami bertemu.
Dan anehnya, di antara puluhan orang di ruangan itu, justru kami yang sama-sama terlihat paling gugup.
“Mariyani…” suaraku pelan.
Dia tersenyum kecil.
“Jadi benar kamu pulang.”
Aku tidak langsung menjawab.
Karena untuk beberapa detik, aku sibuk memastikan bahwa perempuan di depanku ini nyata. Bukan sekadar bayangan dalam foto kameraku.
“Kamu berubah,” kataku akhirnya.
Dia tertawa kecil.
“Kamu juga.”
Tidak. Itu bohong.
Mariyani memang berubah. Wajahnya terlihat lebih dewasa. Ada garis lelah tipis di dekat matanya. Tapi sorot matanya masih sama hangatnya.
Sedangkan aku?
Aku merasa seperti manusia yang tertinggal terlalu jauh dari hidupnya sendiri.
Kami duduk di pojok aula setelah acara mulai ramai. Obrolan kami canggung pada awalnya. Tentang teman-teman lama. Tentang guru-guru yang sudah pensiun. Tentang kota Kediri yang sekarang terasa jauh lebih cantik.
“Malam minggu sekarang Jalan Stasiun rame banget,” katanya.
Aku mengangguk.
“Lebih romantis dari yang aku ingat.”
“Mungkin kitanya yang berubah.”
Aku tersenyum tipis.
Mungkin benar.
Mariyani bercerita bahwa sekarang dia tinggal tidak jauh dari pusat kota. Mengurus dua anak sendirian. Anak pertama kelas lima SD, yang kedua baru masuk TK.
Aku diam mendengarkan.
“Suamiku kerja di Kanada,” katanya pelan.
Aku menunggu kelanjutannya.
“Tapi dia nggak akan pernah pulang lagi.”
Kalimat itu diucapkannya biasa saja. Terlalu biasa malah. Seperti seseorang yang sudah terlalu lama berdamai dengan luka.
Aku menoleh ke arah wajahnya.
“Mari…” kataku hati-hati.
Dia tersenyum kecil sebelum aku sempat melanjutkan.
“Nggak apa-apa. Aku sudah terbiasa cerita tanpa nangis sekarang.”
Entah kenapa dadaku terasa sesak.
Karena aku tahu persis jenis senyum seperti itu.
Senyum orang-orang yang pernah hancur, lalu belajar terlihat baik-baik saja supaya tidak membuat orang lain khawatir.
Malam makin larut.
Satu per satu teman-teman mulai pulang.
Sampai akhirnya hanya tersisa kami berdua di halaman sekolah.
Lampu-lampu jalan memantul di aspal yang sedikit basah karena tersapu gerimis.
“Kamu masih motret?” tanyanya.
Aku mengangguk sambil mengangkat kamera.
Dia tersenyum.
“Pantes.”
“Pantes apa?”
“Aku ketemu kamu duluan lewat foto.”
Aku menatapnya.
Dia tertawa kecil melihat wajah bingungku.
“Aku lihat story Instagram-mu waktu motret Jalan Stasiun. Ada aku di foto itu, kan?”
Aku ikut tertawa pelan.
Jadi selama ini dia memang benar-benar ada.
Bukan ilusi.
Bukan khayalanku yang terlalu kesepian.
Sebelum pulang, kami berjalan sebentar di depan sekolah.
Angin malam Kediri terasa dingin tipis.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku bisa berjalan berdampingan dengan seseorang tanpa merasa perlu berpura-pura menjadi kuat.
Tanpa sadar, aku mulai menikmati pulang.
Bersambung…………






