Bank Mandiri Wanti-Wanti Ketidakpastian Global, Konflik AS-Iran Dinilai Jadi Ancaman Baru Ekonomi

ketidakpastian global
Ilustrasi by Chaterine G Peter/RISKS.ID

RISKS.ID – Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro mengingatkan kondisi ekonomi global saat ini berada dalam fase penuh ketidakpastian. Bahkan, menurut dia, situasi ekonomi tahun ini menjadi salah satu yang paling rumit dalam penyusunan proyeksi ekonomi perusahaan.

Hal itu disampaikan Andry dalam acara Macro & Market Brief Q2-2026 Indonesia Economic Outlook yang digelar secara virtual, Senin (11/5).

Bacaan Lainnya

“Bahkan kalau kita membuat skenario saat ini, kami di internal Bank Mandiri Group merasakan bahwa skenario yang dilakukan ini adalah the most complicated scenario yang pernah kami buat, karena menghadapi banyak tantangan dan banyak variabel yang mempengaruhi kondisi perusahaan maupun perekonomian,” ujar dia.

Menurut Andry, ketidakpastian global saat ini dipicu berbagai faktor, terutama konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan titik temu.

Konflik tersebut dinilai berpotensi mengganggu jalur distribusi energi dunia di Selat Hormuz dan membuat risiko pasokan energi global tetap tinggi.

Akibat kondisi itu, harga minyak dunia diperkirakan bertahan di atas 100 dolar AS per barel. Situasi tersebut juga mendorong sentimen risk-off di pasar global yang membuat dolar AS menguat dan menekan aset negara berkembang atau emerging markets (EM).

Selain itu, International Monetary Fund (IMF) turut memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia menjadi 3,1 persen dari sebelumnya 3,3 persen pada Januari 2026.

Pemangkasan proyeksi tersebut dipicu meningkatnya risiko geopolitik dan perlambatan perdagangan global.

Dari sisi kebijakan moneter, pasar juga memperkirakan suku bunga acuan Amerika Serikat atau Fed Fund Rate (FFR) tidak akan turun sepanjang 2026 dan tetap bertahan di level 3,75 persen.

Probabilitas CME FedWatch Tool menunjukkan level 350-375 basis points (bps) masih mendominasi hingga akhir tahun.

Menurut Andry, kondisi tersebut membuat arus modal asing ke negara berkembang mulai tertahan dan berpotensi berubah menjadi capital outflow akibat meningkatnya penghindaran risiko global.

Dia menilai terdapat sejumlah risiko besar yang perlu diwaspadai Indonesia. Salah satunya adalah potensi gangguan di Selat Hormuz dan eskalasi konflik AS-Iran-Lebanon yang dapat memicu lonjakan harga minyak dunia.

Selain itu, kenaikan harga energi juga berpotensi memperbesar beban subsidi energi pemerintah dan mendorong inflasi lebih tinggi.

“Inflasi yang tinggi akan mengurangi ruang pelonggaran moneter bank sentral emerging markets, termasuk Bank Indonesia,” jelas dia.

Andry juga menyoroti sentimen risk-off global yang dapat menekan rupiah, meningkatkan yield Surat Berharga Negara (SBN), serta memberi tekanan terhadap pasar saham domestik.

Risiko lain yang dihadapi yakni kenaikan suku bunga pasar dan terbatasnya penerimaan ekspor di tengah tingginya kebutuhan impor.

Meski demikian, dia menilai Indonesia masih memiliki sejumlah peluang di tengah gejolak global tersebut.

Indonesia diperkirakan bisa memperoleh windfall dari kenaikan harga komoditas unggulan ekspor seperti crude palm oil (CPO), batu bara, dan nikel.

Kondisi itu dinilai berpotensi memberikan sentimen positif terhadap penerimaan negara dan neraca transaksi berjalan.

Selain itu, relokasi rantai pasok global juga membuka peluang masuknya investasi asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia sebagai alternatif basis manufaktur dunia.

Andry menambahkan penguatan kebijakan hilirisasi juga mendorong peningkatan nilai tambah ekspor Indonesia melalui pergeseran dari ekspor bahan mentah ke produk olahan seperti smelter, katoda, hingga battery grade.

Menurut dia, transisi energi global turut menjadi peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisi dalam industri kendaraan listrik, nikel, dan energi terbarukan.

“Jangan lupa bahwa walaupun terjadi perang, komitmen transisi energi global ini tetap dilakukan dengan konsisten oleh pemerintah Indonesia,” pungkas dia.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *