SETELAH malam reuni itu, aku dan Mariyani mulai sering bertukar pesan.
Awalnya biasa saja.
Sekadar saling mengirim kabar.
Tentang hujan di Kediri.
Tentang makanan yang dulu sering kami beli waktu SMA. Bakso dan nasi tumpang.
Tentang teman-teman yang kini bentuk wajahnya sudah sulit dikenali.
Tapi rupanya, ada jenis percakapan yang pelan-pelan bisa membuat seseorang merasa tidak sendirian lagi.
Dan aku menemukannya pada Mariyani.
Kadang dia mengirim foto langit sore dari halaman rumahnya.
Kadang foto anak bungsunya yang tertidur sambil memeluk tas sekolah.
Kadang cuma tulisan pendek.
Sudah makan?
Aneh ya.
Di Jakarta dulu, ponselku tidak pernah sepi. Grup kantor. Klien. Sidang. Telepon tengah malam. Ratusan email.
Tapi tidak ada satu pun yang benar-benar menanyakan apakah aku baik-baik saja.
Sedangkan dari Mariyani, satu pesan sederhana saja bisa membuat malamku terasa lebih tenang.
Aku mulai terbiasa menunggu notifikasinya.
Dan itu membuatku takut.
Karena setelah kehilangan terlalu banyak hal, aku jadi sadar bahwa manusia bisa kembali hancur hanya karena berharap lagi.
Suatu sore, dia mengajakku bertemu di sebuah kafe kecil dekat Jalan Stasiun Kediri.
Kafe itu tidak besar. Dindingnya dari bata ekspos dengan lampu-lampu kuning redup yang menggantung rendah. Dari jendelanya, jalanan terlihat jelas. Orang-orang berjalan santai di trotoar sambil sesekali berhenti untuk berfoto.
Jalan Stasiun memang berubah menjadi tempat yang cantik sekarang.
Saat malam datang, lampu-lampu klasik di sepanjang jalan menyala bersamaan, membuat suasananya seperti potongan kenangan yang sengaja dipelihara kota ini. Anak-anak muda duduk di bangku trotoar sambil bercakap pelan. Musik dari pengamen akustik bercampur aroma kopi dan udara malam.
Ada sesuatu yang tenang di sana.
Sesuatu yang membuat luka terasa sedikit lebih ringan.
Mariyani sudah datang lebih dulu ketika aku masuk.
Dia mengenakan sweater krem sederhana dan rambutnya diikat setengah. Tidak berlebihan. Tidak mencoba terlihat lebih muda.
Tapi justru itu yang membuatnya terlihat menenangkan.
Cantik.
“Tumben telat,” katanya sambil tersenyum kecil.
“Aku muter dulu tadi. Motret.”
“Hasilnya?”
Aku mengangkat kamera.
“Masih kalah bagus sama objek aslinya.”
Dia mendengus pelan.
“Kamu ternyata masih suka gombal.”
Aku tertawa kecil.
Sudah lama sekali aku tidak tertawa setenang itu.
Kami mengobrol lama sore itu.
Tentang hidup yang ternyata tidak berjalan seperti rencana.
Tentang bagaimana dewasa ternyata lebih melelahkan daripada yang dulu kami bayangkan.
Aku bercerita sedikit tentang Jakarta. Tentang karierku yang hancur. Tentang rumah tangga yang runtuh terlalu cepat.
Aku tidak menceritakan semuanya.
Masih ada bagian-bagian gelap yang bahkan aku sendiri belum sanggup melihatnya kembali.
Tapi Mariyani mendengarkan tanpa menyela.
Tanpa menghakimi.
Dan itu terasa langka.
“Kadang aku capek,” katanya pelan sambil mengaduk kopi.
Aku menatapnya.
“Sebagai ibu?”
Dia mengangguk kecil.
“Sebagai manusia.”
Kalimat itu membuatku diam cukup lama.
Karena aku tahu persis rasanya.
Ada hari-hari ketika bangun pagi saja terasa berat. Hari-hari ketika kita harus tetap tersenyum demi orang lain padahal diri sendiri hampir runtuh.
“Aku dulu marah banget,” lanjutnya. “Kenapa harus aku yang ditinggal? Kenapa aku yang harus berjuang sendiri?”
“Mari…”
“Tapi lama-lama aku sadar… hidup nggak selalu kasih penjelasan.”
Dia tersenyum tipis.
“Kadang kita cuma diminta bertahan.”
Di luar jendela, lampu-lampu Jalan Stasiun mulai menyala satu per satu.
Cantik sekali.
Orang-orang berlalu-lalang sambil tertawa kecil. Seorang anak muda memainkan gitar di dekat trotoar. Sepasang lansia berjalan pelan bergandengan tangan.
Dan di tengah suasana hangat kota kecil itu, aku mendadak merasa sangat lelah.
Lelah berpura-pura kuat selama ini.
“Aku kehilangan anak-anakku. Semua salahku,” kataku pelan.
Mariyani terdiam.
Aku menunduk menatap cangkir kopi.
“Mereka ikut ibunya sekarang.”
Suara di dalam kafe mendadak terasa jauh.
“Aku bahkan nggak tahu mereka masih marah atau kangen sama aku.”
Mariyani tidak langsung bicara.
Dia hanya mendorong kotak tisu kecil ke arahku.
Gerakan sederhana.
Tapi entah kenapa membuat dadaku sesak.
“Wan,” katanya pelan.
Aku mengangkat wajah.
“Kamu masih hidup sampai hari ini, itu artinya Tuhan belum selesai sama kamu.”
Aku tersenyum hambar.
“Kalimat motivasi ibu-ibu?”
Dia tertawa kecil.
“Lumayan buat orang depresi kayak kamu.”
Aku ikut tertawa.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya sejak pulang ke Kediri, aku bisa pulang tidur tanpa merasa kosong sepenuhnya.
Sejak hari itu, aku dan Mariyani jadi semakin dekat.
Kami sering bertemu di kafe yang sama.
Kadang di angkringan dekat stasiun.
Kadang hanya berjalan menyusuri Jalan Stasiun tanpa tujuan jelas sambil melihat lampu-lampu malam.
Kami saling bercerita.
Saling menguatkan.
Dua orang yang sama-sama pernah ditinggalkan hidupnya sendiri.
Dan tanpa sadar, kami mulai menjadi tempat pulang satu sama lain.
Bersambung…………






