JALAN STASIUN: Sembuh (Bagian-6)

novel jalan stasiun
Ilustrasi by Chaterine G Peter/RISKS.ID

MARIYANI diperbolehkan pulang dua hari kemudian.

Dokter bilang lukanya tidak terlalu serius, tapi dia harus banyak istirahat. Tidak boleh terlalu capek. Tidak boleh stres.

Bacaan Lainnya

Aku hampir tertawa mendengar bagian terakhir itu.

Orang dewasa mana yang hidupnya tidak stres?

Pagi saat aku menjemputnya dari rumah sakit, langit Kediri mendung tipis. Jalanan masih basah sisa hujan semalam. Aku membawa tas kecil berisi pakaian dan obat-obatannya sambil berjalan pelan di sampingnya.

Mariyani masih terlihat lemah.

Langkahnya pelan.

Dan entah kenapa melihat perempuan yang biasanya selalu tampak kuat itu berjalan hati-hati seperti itu membuat dadaku terasa aneh.

“Aku bisa sendiri,” katanya waktu aku membukakan pintu mobil Grab.

“Aku tahu.”

“Tapi?”

“Tapi aku tetap bantu.”

Dia mendesah kecil sambil tersenyum.

Rumahnya terasa hangat siang itu. Ada aroma kayu dan minyak kayu putih.

Anak-anaknya langsung memeluk Mariyani begitu kami masuk.

Aku berdiri agak jauh memperhatikan mereka.

Dan untuk sesaat, ada rasa kosong yang kembali datang diam-diam.

Aku teringat anak-anakku di Jakarta.

Aku tidak tahu apakah mereka masih mengingat kebiasaan kecilku sebelum tidur. Tidak tahu apakah mereka masih menyimpan nomor teleponku. Tidak tahu apakah mereka pernah menanyakan aku.

“Om Wawan.”

Suara kecil itu membuyarkan lamunanku.

Aida, anak sulung Mariyani menatapku sambil memeluk lengan kanan mamanya.

“Terima kasih udah jagain Mama.”

Aku tersenyum kecil sambil mengusap rambutnya.

“Mulai hari ini kita jagain Mama sama-sama ya.”

Anak itu mengangguk serius.

Hari-hari setelah itu berjalan pelan.

Dan tanpa sadar, aku mulai mengisi ruang-ruang kecil dalam hidup Mariyani.

Pagi-pagi sekali aku datang ke rumahnya untuk mengantar anak-anaknya sekolah. Aida dan Arjuna.

Awalnya canggung.

Aku tidak terbiasa menghadapi anak kecil terlalu pagi sambil membawa botol minum dan bekal sekolah.

Anak bungsunya bahkan sempat menangis karena kaus kakinya tertukar.

“Ini garis biru punyakuuu…”

Aku panik sendiri sementara Mariyani tertawa manis dari ruang tengah.

“Kamu lawyer Jakarta ya?” godanya.

“Dulu.”

“Sekarang kalah sama anak TK.”

Aku menghela napas pasrah sambil jongkok membetulkan kaus kaki kecil itu.

Dan anehnya, aku menikmati semuanya.

Suasana pagi.

Suara anak-anak ribut.

Hal-hal sederhana yang dulu tidak pernah sempat kunikmati saat hidupku masih dipenuhi rapat dan sidang.

Kadang setelah mengantar sekolah, aku mampir ke pasar membeli sayur atau lauk sederhana untuk Mariyani.

Aku memang tidak pintar memasak.

Tapi setidaknya aku bisa membuat sup, telur dadar, dan tumis sayur seadanya.

Meski rasanya sering terlalu asin.

“Ini garam apa dendam?” kata Mariyani suatu siang sambil mencicipi sup buatanku.

Aku tertawa kecil.

“Masih hidup kan?”

“Nyaris.”

Rumah kecil itu perlahan terasa akrab bagiku.

Aku mulai hafal letak gelas.

Hafal suara pagar yang seret.

Hafal kebiasaan Mariyani menaruh kunci rumah di dekat toples kerupuk.

Dan yang paling berbahaya, aku mulai merasa nyaman.

Nyaman saat bersamanya.

Suatu sore setelah hujan reda, listrik sempat mati beberapa menit.

Aku dan Mariyani duduk di teras rumah sambil melihat jalanan gang yang masih basah.

Anak-anaknya sedang tidur.

Udara dingin.

Lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu saat listrik kembali hidup.

“Aku lupa rasanya punya orang lain di rumah,” katanya pelan.

Aku menoleh.

“Maksudmu?”

Dia tersenyum kecil tanpa melihatku.

“Setelah lama sendirian, kita jadi terbiasa ngerjain semuanya sendiri.”

Aku diam.

Karena aku juga merasakan hal yang sama.

Dulu aku pikir kesepian hanya soal tidak punya teman bicara.

Ternyata bukan.

Kesepian adalah ketika kita sakit dan tidak ada yang tahu.

Ketika pulang malam dan tidak ada yang menunggu.

Ketika hidup berjalan terus tapi tidak ada tempat untuk berbagi lelah.

“Aku takut merepotkan kamu,” katanya lagi pelan.

“Kamu nggak merepotkan.”

“Wan.”

Aku menatapnya.

Dan untuk pertama kalinya, aku melihat mata Mariyani yang biasanya tenang itu menyimpan ketakutan.

Takut berharap lagi.

Takut kehilangan lagi.

Takut hidup menghancurkan semuanya sekali lagi.

“Mari,” kataku pelan.

“Hm?”

“Aku juga lagi belajar sembuh.”

Angin sore bergerak perlahan melewati teras.

Dari kejauhan, suara kereta terdengar samar melintas dari arah stasiun.

Dan di tengah rumah kecil yang sederhana itu, aku mulai merasa menemukan sesuatu yang selama ini hilang dari hidupku.

Bukan kemewahan.

Bukan kesuksesan.

Tapi rasa ingin pulang.

 

Bersambung………….

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *